Cerita warga Gunungkidul pukul kentongan dan lesung saat gerhana bulan

Rabu, 31 Januari 2018 18:37 Reporter : Purnomo Edi
Cerita warga Gunungkidul pukul kentongan dan lesung saat gerhana bulan persiapan memukul kentongan saat gerhana bulan. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Gerhana bulan akan dapat dilihat oleh masyarakat Indonesia malam ini. Sejumlah masyarakat pun antusias untuk melihat fenomena alam yang jarang ditemui.

Di sejumlah wilayah ada berbagai tradisi unik untuk menandai munculnya gerhana bulan. Di Gunungkidul, DIY, saat ada gerhana bulan maupun gerhana matahari, masyarakat pun langsung membunyikan kentongan secara bersamaan. Selain itu masyarakat juga mengevakuasi perempuan yang tengah hamil untuk masuk atau bersembunyi di bawah tempat tidur.

Menurut salah seorang sesepuh Desa Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul, Mbah Tukijo, fenomena gerhana bagi masyarakat Jawa dipercaya adalah hasil perbuatan raksasa atau buto. Masyarakat percaya saat gerhana bulan atau matahari, ada buto yang memangsa bulan dan matahari.

"Dulu waktu saya kecil masih percaya itu. Dulu pada percaya kalau gerhana karena ada buto yang makan bulan dan matahari. Ya kalau orang sekarang bilangnya Gugon Tuhon atau cerita turun menurun dari nenek moyang," ujar Mbah Tukijo yang saat ini berusia 60 tahun dalam bahasa Jawa, Rabu (31/1).

Mbah Tukijo menerangkan jika dulu masyarakat lebih takut pada gerhana bulan daripada gerhana matahari. Hal ini karena saat gerhana bulan suasana menjadi gelap. Terlebih lagi saat itu listrik belum bisa dinikmati semua warga.

"Ya dulu pada mukul kentongan bareng-bareng. Ada juga yang mukul lesung. Pokoknya bikin bunyi-bunyian untuk mengusir buto yang mau makan bulan. Mukul kentongannya juga ga boleh asal. Harus terus menerus sampai gerhananya selesai," ungkap Mbah Tukijo.

Mbah Tukijo mengatakan selain memukul kentongan, warga juga menyembunyikan keluarganya yang sedang hamil. Biasanya, kata Mbah Tukijo, disembunyikan di bawah tempat tidur. Warga percaya hal itu bisa menghindari bayi dari kecacatan karena gerhana bulan.

"Setelah selesai gerhana, perut ibu hamil diolesi abu hangat yang berasal dari perapian dapur, tidak boleh yang dingin, sambil mengucapkan "ojo kaget yo jabang bayi" (Jangan kaget ya bayi yang ada di kandungan)," kenang Mbah Tukijo.

Mbah Tukijo menerangkan jika saat ini karena kemajuan pengetahuan akhirnya masyarakat tahu bahwa gerhana bulan adalah fenomena alam. Sehingga, lanjut Mbah Tukijo, saat ini sangat jarang warga yang memukul kentongan saat gerhana terjadi.

Saat ini, tradisi membunyikan kentongan dan lesung sangatlah jarang dilakukan saat gerhana bulan. Untuk itu, Mbah Tukijo dan warga di daerah Gelaran, Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul akan menghidupkan kembali tradisi tersebut. Acara memukul kentongan saat gerhana bulan ini akan digelar di Monumen Serangan Belanda 10 Maret 1949.

"Kami sudah menyiapkan teropong dan kentongan untuk nanti saat gerhana bulan. Ini kami lakukan semata-mata hanya untuk melestarikan tradisi saja," kata Mbah Tukijo. [dan]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini