Cerita sedih mereka yang tak bisa mudik karena terkendala biaya

Kamis, 14 Juni 2018 01:05 Reporter : Moh. Kadafi
nelayan di bali. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Di bawah teriknya matahari menyengat, dua pria paru baya sedang mengecek perahunya masing-masing. Dua pria tersebut adalah Suwarno (60) dan Mariyono (64), mereka adalah seorang nelayan di Pantai Kelan, Kuta, Badung, Bali.

Selepas mengecek perahu masing-masing, kedua nelayan tersebut berteduh di bawah pohon waru sambil duduk dan bersantai di ayunan yang terbuat dari bambu yang dirangkai dengan tali tampar bekas ikatan jangkar.

Saat dihampiri oleh merdeka.com, salah satu nelayan yakni Mariyono, mengeluarkan sekepal tembakau merek cap Jago yang disimpannya di plastik bening. Dengan cekatan tangannya mencampur tembakau dengan cengkeh merek cap bintang, lalu digulung dengan kertas papir merek cap Semar dan menyulutkan korek api, kemudian mengisapnya dalam-dalam asap tembakau tersebut.

"Maaf saya tidak puasa, tidak kuat kalau sehari nggak ngopi sama merokok, apalagi kerja panas-panas begini," ucapnya, sambil tersenyum, Rabu (13/6).

Pria asal Desa Rowokangkung, Kecamatan Rowokangkung, Kabupaten Jember, Jawa Timur sebenarnya ingin ber-Lebaran di kampung halaman. Tapi apa daya, dia tak punya bekal dana.

"Iya terpaksa tidak pulang. Apalagi tangkapan ikan berkurang sudah sejak bulan Desember lalu. Saya hanya tahun ini tidak pulang, padahal kangen sama keluarga, teman, kalau Lebaran kan kumpul semua," jelasnya.

Mariyono sudah sejak tahun 1982 menjadi nelayan di Pantai Kelan. Menurutnya, ada nelayan lain senasib dengannya mudik di perantauan.

"Iya kalau yang punya rezeki ada juga yang pulang, kalau saya tidak pulang, karena tangkapan ikan sedikit. Berbeda dengan tahun lalu masih ada ikan, kalau sekarang sedikit apalagi cuaca yang tidak menentu kadang angin kencang kadang tidak," ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Suwarno, pria asal Desa Purwoasri, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dia tidak pulang kerena dana tidak ada.

"Saya enggak pulang, karena bekal tidak ada. Biasanya kalau tahun sebelumnya iya pulang setiap Lebaran. Kalau Lebaran itu, biaya ongkos memang murah tapi uang untuk melancong (jalan-jalan) sama keluarga atau belanja itu yang banyak," ujarnya sambil tertawa.

Suwarno juga sebenarnya sangat rindu kampung halaman. Namun karena biaya tidak mencukupi Suwarno, dia harus buang jauh impian berlebaran di desanya.

"Iya kangen sama suasana Desa, kumpul-kumpul sama keluarga, sama teman-teman. Iya nggak apa-apa mungkin lebaran depan bisa punya rezeki untuk pulang ke desa," katanya. [lia]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini