Cerita Relawan Samarinda Bertemu 3 King Cobra saat Padamkan Karhutla

Senin, 16 September 2019 20:46 Reporter : Saud Rosadi
Cerita Relawan Samarinda Bertemu 3 King Cobra saat Padamkan Karhutla Ular piton mati terpanggang. Antara

Merdeka.com - Aksi tim gabungan di antaranya relawan di Samarinda, Kalimantan Timur, berjibaku memadamkan api Karhutla di dekan runway Bandara APT Pranoto Samarinda, sejak Minggu (15/9) kemarin hingga dini hari tadi, menyisakan cerita. Relawan bertemu 3 ular king cobra, yang akhirnya mati kepanasan.

Dua kobaran api di dekat runway, sejatinya berlangsung sejak pagi. Kepulan asap semakin melebar dan kian pekat hingga malam hari. Hal ini sempat membuat panik pegawai bandara saat itu.

Sekira pukul 22.00 WITA, relawan bergerak bersama Damkar Samarinda ke sekitar Bandara APT Pranoto. Setelah sempat alot membahas akses jalan masuk ke lokasi, akhirnya tim gabungan termasuk relawan berhasil masuk ke semak belukar dan hutan yang terbakar.

"Saya ikut ke memadamkan dengan peralatan seadanya waktu itu," kata Akmaludin (54), salah seorang relawan Balakar Mugirejo, dalam perbincangan bersama merdeka.com, Senin (16/9).

Lokasi titik api berada di dekat bangunan kandang ayam. Oleh penjaga saat itu, tim gabungan diminta untuk mewaspadai kemunculan ular king Cobra dengan panjang sekitar 6 meter. Mengingat, lokasi pemadaman minim penerangan.

"Awalnya saya nggak percaya. Ngeri juga 6 meter. Tapi saya pikir, saya harus hati-hati," ujar Akmaludin.

Akmal bercerita, dalam pengamatan dia, semak dan hutan itu memang menjadi sarang ular berbisa. "Itu habitatnya, dari sepanjang yang saya amati. Bukan piton, tapi memang Cobra," ujar dia.

Belakangan, kekhawatiran dia menjadi kenyataan. Ada 3 ular terjebak di tengah hawa panas bara api saat itu.

"Dua saya lihat sudah mati kepanasan. Satu lagi, saya lihat kepalanya tegak, badannya seperti sudah terbakar, langsung saya tendang," ungkap Akmal.

Meski dengan peralatan terbatas, pemadaman nyaris tuntas jelang pagi tadi. "Sekitar jam 4 pagi, kita berhenti. Seharusnya, saya bisa pulang sampai rumah jam 5 pagi. Tapi karena ban mobil armada Damkar bocor, nunggui bantuan datang saya tidur ngemper di jalan bandara. Jadi, baru jam 7 sampai rumah, saya baru bisa istirahat," kata Akmal.

Akmal memastikan sebagai salah satu dari sekian banyak relawan, dia merasa terpanggil untuk bergegas memberikan bantuan kebencanaan. Apalagi, Karhutla yang berdampak luas bagi masyarakat banyak, dari kabut asap yang ditimbulkan. [gil]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini