Cerita Korban Gempa Palu Sukses Jadi Produsen Jipang

Rabu, 9 Oktober 2019 05:18 Reporter : Salviah Ika Padmasari
Cerita Korban Gempa Palu Sukses Jadi Produsen Jipang iksan produsen bipang di Maros. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Bipang atau jipang, salah satu jenis penganan tradisional khas Bugis Makassar masih bertahan hingga saat ini, meski harus bersaing dengan penganan millenial dengan kemasan yang lebih keren dan menarik perhatian.

Penganan ini sangat sederhana, mulai dari bahannya yang mudah didapat yakni beras dan jagung, cara pengolahan serta kemasannya yang tanpa merek pun terbilang sederhana. Tapi punya tempat di hati peminat.

Cara memasak bipang beras maupun jagung terbilang mudah. keduanya dimasak dalam mesin khusus. Metode pembuatannya dengan terus menerus memutar mesin yang panas hingga jagung dan beras mekar.

Saat sudah matang, bisa menimbulkan bunyi seperti tembakan atau ledakan. Beras atau jagung di dalamnya pun keluar berhamburan.

Khusus bipang jagung, orang terkadang menyebutnya pop corn. Pembuatan bipang ini diolah dari mesin tradisional yang menimbulkan efek bunyi khas. Bunyi inilah di zaman dulu yang memancing anak-anak berkumpul menyaksikan proses pembuatannya. Anak-anak riang gembira memunguti beras dan jagung mekar yang berhamburan setelah mesinnya dibuka.

Beras dan jagung mekar ini namanya benno'. Lalu diolah, dicetak setelah mengeras usai diguyur cairan karamel dari gula pasir dan gula merah.

Jika di kabupaten lain, mungkin bipang atau jipang ini masih banyak ditemukan. Namun di Kota Makassar, tidak lagi. Sedikit, bahkan terbilang langka.

Seperti yang terlihat di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Biringkanayya, Makassar. Di sisi kiri kanan jalan sebelum masuk gerbang bandara Internasional Sultan Hasanuddin, terdapat dua lapak penjual bipang dengan ragam rasa.

Dari kedua penjual itu, rupanya asal bipangnya dari satu produsen yang berada di Kampung Patte'ne, Desa Temmapaddua, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, daerah perbatasan yang terletak di sisi utara Kota Makassar. Dialah Iksan (30)

Iksan mengaku kerabatnya yang berjualan di Jalan Perintis Kemerdekaan 17. Jam buka hanya sampai pukul 11.00 WITA, karena jualannya laris manis. Selain di jalan itu, bipang juga dijual di pasar kaget setiap akhir pekan di pelataran stadion olahraga Sudiang.

"Sebenarnya banyak permintaan tapi karena peralatan terbatas jadi produksi kurang. Makanya supaya yang mau jual dapat semua, saya bagi rata saja. Banyak sekali peminatnya," tutur Iksan, bapak dua saat ditemui di tempat usahanya, Kampung Patte'ne beberapa waktu lalu.

Kata Iksan, dibantu empat orang karyawannya yang masih kerabat dan tetangga, bipang diproduksi mulai sore hari pukul 15.00 hingga pukul 20.00 WITA. Selanjutnya pagi hari diambil oleh para penjual.

Sehari-hari Ikhsan sanggup memproduksi 40 bal bipang yang dibuat dari 50 kg beras. Kemudian jagung 40 liter menghasilkan 20 bal.

Tiap satu bal harganya Rp 32 ribu. Dalam satu bal berisi 40 bungkus yang setiap bungkus itu ada bungkusan kecil seharga Rp 1.000. Penganan sederhana dengan harga sederhana pula.

"Omzet per bulan rata-rata mencapai Rp 20 juta. Itu baru satu mesin giling jagung dan beras. Seandainya mesin lebih dari satu, produksi bisa naik, omzet pun bertambah," kata Iksan.

Iksan ini sebenarnya korban gempa di Palu, Sulawesi Tengah. Di sana, usahanya sukses sebagai pedagang hasil bumi antarpulau. Dia bersama keluarganya kemudian mengungsi dan kembali ke Maros di rumah orang tua.

Karena tidak mau tenggelam dalam arus kesedihan, Iksan pun memulai usaha baru. Memproduksi bipang sebagaimana iparnya di Kabupaten Sidrap. Usaha Bipang jadi pilihannya karena penganan itu masih laku, banyak peminat namun yang memproduksi sudah sedikit.

"Ipar saya di Sidrap punya usaha bipang. Selain dijual di Kabupaten Sidrap dan sekitarnya, pemasaran juga sampai di daerah Sulawesi Barat dan Kabupaten Toraja, daerah jauh di Sulsel. Hanya tiga hari saya pelajari akhirnya saya putuskan buka usaha bipang ini," pungkasnya. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini