Cerita Amien Rais & Dahnil Bawa Pertarungan Pilpres ke Muktamar Pemuda Muhammadiyah

Jumat, 30 November 2018 21:38 Reporter : Fikri Faqih
Cerita Amien Rais & Dahnil Bawa Pertarungan Pilpres ke Muktamar Pemuda Muhammadiyah Amien Rais dan Dahnil di Muktamar Muhammadiyah. ©Istimewa

Merdeka.com - Muktamar Pemuda Muhammadiyah XVII telah berakhir Rabu (28/11). Sunanto alias Cak Nanto terpilih sebagai Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah periode 2018-2022. Cak Nanto memperoleh total suara 690. Sementara dua rival beratnya, Ahmad Fanani mendapat 266 suara dan Ahmad Labib 292 suara.

Muktamar itu menyisakan cerita di balik panasnya perebutan pemilihan ketua umum Pemuda Muhammadiyah. Sumber merdeka.com di internal Pemuda Muhammadiyah memberikan beberapa cuplikan video konsolidasi pemenangan calon ketua umum Pemuda Muhammadiyah, Ahmad Fanani. Fanani dijagokan oleh Ketua Umum yang lama yakni Dahnil Anzar Simanjuntak dan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Amien Rais.

Di salah satu video tampak Amien Rais yang berbaju biru, berdiri di tengah-tengah kader Pemuda Muhammadiyah. Dia berbicara mengenai salah satu calon ketua umum PP Muhammadiyah sebagai 'orang titipan'. Cerita itu diawali saat Amien Rais mengaku kedatangan lima orang tamu. Beberapa di antara mereka adalah calon ketua umum Pemuda Muhammadiyah. Mereka diminta mundur dari pencalonan, lalu diperintahkan untuk memenangkan Sunanto alias Cak Nanto.

"Ini peristiwa yang luar biasa. Ada pesanan, kekuatan yang berbahaya buat Islam. Lewat ketum dan sekjen PP Muhammadiyah, memerintah kadernya suruh mundur dan tolong menangkan sunan," ujar Amien Rais dalam video tersebut.

Menurut Amien Rais, ini menjadi sebuah pertarungan. Dia punya harapan pada anak-anak muda Muhammadiyah. Terlebih, mendekati Pemilihan Presiden 2019.

"Ini pertarungan Bratayudha, Armageddon memang tinggal 4,5 bulan lagi. 17 April akan ada pertaruhan terakhir, apakah kekuatan Islam memimpin, atau unsur PKI menang," katanya.

Amien membakar semangat kader-kader Pemuda Muhammadiyah agar yakin bisa menang saat Pilpres 2019. "Mudah-mudahan pemuda Muhammadiyah berdiri tegak, boleh guncang, boleh sebentar tapi kemudian tegak lagi dan mudah-mudahan 17 April malam hari kita syukuran besar. Jadi kita harus betul-betul konsolidasi," ucapnya.

Tidak hanya Amien Rais, Ketua Umum PP Muhammadiyah yang lama yakni Dahnil Anzar juga hadir di konsolidasi pemenangan Fanani. Dia menyatakan dukungannya untuk Fanani melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di Pemuda Muhammadiyah. Sebab, dia percaya, dengan kemenangan Fanani, bisa menjaga harga diri organisasi dari gangguan rezim yang berkuasa saat ini.

"Rezim yang terus mengganggu dan tidak mau pemuda muhammadiyah kritis, mereka akan senang. OKP (Organisasi kepemudaan) lainnya sudah sukses dikooptasi, tinggal pemuda Muhammadiyah. Jadi kalau teman-teman memberikan leher secara gratis, siap-siap Muhammadiyah tidak lagi menjadi kritis," kata Dahnil.

Permintaan terakhir Dahnil sebagai Ketum PP MUhammadiyah adalah menangkan Fanani. Dia terang-terangan menginstruksikan untuk menangkan Fanani dengan alasan agar Muhammadiyah tetap kritis. Dari pengalamannya, Dahnil merasa diganggu dan dikriminalisasi dengan tuduhan korupsi dana kemah. Ini sangat mengganggu keluarganya.

"Istri, anak saya, ibu, bapak saya. Mungkin istri saya paham karena aktivis. Ibu bapak saya sakit gara-gara mikirin itu. Setiap berita Dahnil Azhar korupsi, padahal saya ngga pernah tahu itu. Tiap hari berita itu. Nilai-nilai yang saya perjuangkan ditembakkan ke muka saya. Itu seolah-olah dicari-cari."

Menurutnya, kehadiran Amien Rais menandakan ada ghal genting dari proses pemilihan ketua umum melalui Muktamar Pemuda Muhammadiyah. Ada permainan uang dalam pemilihan ketua umum.

"Dalam sejarah Muhammadiyah, tokoh seperti Pak Amin mau datang, kalau tidak memang genting. Beliau menyampaikan pesan. Teman-teman yang sudah terima uang, jangan peduli itu, uang itu dari mereka yang tidak baik-baik. Biarkan saja, gunakan saja, jalan-jalan saja, pilihlah orang yang bisa jaga marwah Pemuda Muhammadiyah," tutupnya.

Salah satu calon ketua umum Pemuda Muhammadiyah Ahmad Fanani juga bicara di depan pendukungnya. Dia menceritakan pada Amien Rais, proses pemilihan ketua umum Pemuda Muhammadiyah diganggu pihak-pihak lain.

"Sejatinya kontestasi di muktamar biasa. Gesekan-gesekan itu biasa. Menjadi tidak biasa ketika kemudian ada teman-teman yang mencoba melibatkan orang di luar keluarga kita untuk masuk dan cawe-cawe yang jadi hajat keluarga kami," kata Fanani.

Dia menuturkan, ada kegelisahan di hari kader Pemuda Muhammadiyah. Sebelum muktamar, mereka mengaku sudah diganggu. Terakhir, Dahnil Azhar yang diperiksa polisi.

"Buat kami ini adalah harga diri. mereka boleh intervensi OKP lain, berupaya menundukkan organisasi lain, intimidasi dengan apapun, tapi kami punya tauhid. kami takkan biarkan. Dengan segala keterbatasan, saya bangga berada di barisan yang mempertahankan idealisme kita sebagai pemuda muhammadiyah. Kita nggak ada jaminan menang, bahkan dengan mudah bisa dikalahkan. Seberapapun kekuatan mereka, dan ancaman yang kita terima, malam ini kita tidak menyerah. akan kita pertahankan harga diri kita. pertahankan marwah," jelasnya. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini