Bupati sebut kompetitor ada di belakang aksi penolakan semen Rembang
Merdeka.com - Bupati Rembang Abdul Hafidz mengungkapkan keprihatinan terhadap persoalan pro kontra pendirian pabrik semen Rembang. Menurut dia, konflik di Rembang dipicu oleh kompetitor PT Semen Indonesia yang memback up kubu penolak.
"Saya kira mereka (penolak semen Rembang) seperti itu karena ada yang di belakangnya, kompetitorlah," tegas Abdul hafidz kepada wartawan usai menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham Bank Jateng di Hotel Gumaya Jalan Gadjahmada, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (20/12).
Dia mengatakan, karena mendapat back up itu lah, penolakan semen Rembang dapat berlangsung keras dan massif serta dalam jangka waktu lama. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, jumlah warga yang menolak semen tidak ada lima persen dari seluruh masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi pabrik semen.
Seperti diketahui, warga terdampak terhadap pendirian pabrik semen Rembang ada di lima desa yaitu Desa Tegaldowo, Desa Pasucen, Desa Kajar, Desa Kadiwono, dan Desa Timbrangan. Lebih dari itu, menurut Hafidz, sebagian dari warga yang menolak bahkan bukan warga Rembang terdampak.
"Mereka penolak semen itu ada yang dari Blora dan Pati. Kalau yang menolak itu sangat kecil sekali tidak sampai 5 persen," tukasnya.
Upaya Pemkab Rembang sendiri, kata Hafidz, sudah mencoba memediasi dua kubu penolak dan pendukung. Namun upaya itu belum berhasil. "Kami hanya selalu mendorong mediasi, apa yang menjadi kebuntuan dari pabrik semen," jelasnya.
Hafidz tidak secara gamblang menyebut siapa kompetitor yang ia maksud. Ia hanya menceritakan bahwa penambangan di pegunungan Kendeng sekitar area tapak pabrik semen di Rembang sudah ada sejak 1996. Penambangan dilakukan perusahaan-perusahaan besar dengan tanpa memperdulikan dampak lingkungan.
Anehnya, aktifitas penambang lama ilegal ini justru tidak diprotes. "Saya justru ingin pabrik semen (Semen Indonesia) menjadi contoh bagi penambang lainnya. Bagaimana cara penambangan yang baik tidak merusak lingkungan, bagaimana reklamasinya," katanya.
Seperti diketahui selain PT Semen Indonesia, Pegunungan Kendeng juga menjadi incaran sejumlah pabrik semen swasta. Diantaranya PT Indocement melalui anak perusahannya, PT Sinar Mulia Sakti. Saat ini PT SMS telah menyelesaikan Amdal dan proses perizinan pabrik.
Pernyataan Abdul Hafidz didukung salah satu warga sekitar pabrik Semen Dwi Joko Supriyanto. Guru SD Tegaldowo yang mengatakan ada sebanyak 7-10 tambang ilegal milik perusahaan besar.
"Kalau semen Rembang yang punya pemerintah dipersoalkan, mengapa yang swasta (dengan pemodal asing) seperti Sinar Mas, ahaka, CCI dan lain-lain itu tidak diapa-apakan. Padahal mereka malah ngawur-ngawur penambangannya dan sama sekali tidak peduli kesejahteraan warga," tegasnya.
Dwi Joko dari kubu pendukung semen meminta masalah diselesaikan secara damai dan kekeluargaan. Baik pendukung maupun penolak semen harus rukun karena masih satu desa, bahkan keluarga.
"Yang menolak-nolak itu murid saya semua. Joko Prin (Joko Priyanto) itu murid saya. Kabeh dulurku, ayo to dirembug sing apik (Semua saudara saya, ayo dibahas dengan baik)," katanya.
Dwi Joko juga minta pihak penolak semen untuk mendengarkan pendapat warga sekitar pabrik. Sebab dari 12.000 warga di lima desa sekitar pabrik semen, lebih dari 95 persen mendukung operasional PT SI.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya