Body rafting sambil menikmati keindahan Cukang Taneuh Pangandaran
Merdeka.com - Bagi penggemar wisata petualangan, objek wisata Cukang Taneuh atau lebih dikenal Green Canyon Pangandaran, Jawa Barat adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Obyek wisata ini terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Saat berkunjung ke lokasi wisata yang mulai dikenal sejak tahun 1993 itu, wisatawan bisa menikmati pemandangan alam yang tergolong masih perawan.
Untuk mencapai lokasi, wisatawan bisa melalui rute perjalanan, melalui jalur air maupun jalan kaki menyusuri lereng pegunungan yang cukup ekstrem dan saat ini tersedia kendaraan yang melalui perbukitan.
Selain menikmati keindahan alam, setiap wisatawan yang datang juga bisa melakukan body rafting alias berenang dengan menghanyutkan diri di arus air dengan menggunakan pelampung.â¬
âªUntuk kegiatan body rafting pengunjung akan mendapat pengarahan terlebih dahulu dari para pemandu, sekaligus melengkapi diri dengan pelampung, helm serta sandal yang telah disediakan.
Selanjutnya, ketika semua sudah siap pengunjung akan diajak menuju lokasi yang menjadi titik start dengan mengambil jalur perbukitan menggunakan kendaraan bak terbuka. Setelah hampir 45 Menit dan medan yang cukup berat akhirnya tiba di tempat tujuan.
Di titik awal atau start pengunjung disuguhkan aliran air di Sungai Cijulang yang terbilang tenang, sehingga setelah sekitar 1 kilometer berenang akan sampai di lokasi pemberhentian awal yang telah ditentukan.
Namun jangan heran, ketika memasuki jalur kedua medan yang disuguhkan mulai ekstrem. Setelah berjalan kaki lebih dari seratus meter, peserta wajib melompat dari ketinggian lebih dari 3 meter ke aliran air yang deras guna menuju titik berikutnya.
Masuk ke zona ketiga tantangan semakin berat. Pasalnya pemandu akan mengajak pengunjung melompat dari tebing dengan ketinggian mencapai 17 meter. Tapi tidak usah khawatir bagi yang takut ketinggian ada jalur lain yang bisa dilalui yaitu dengan berjalan kaki menyusuri tebing sekitar 200 meter dan kembali turun ke air melalui lompatan di bawah 3 meter.
Usia menguji nyali di tantangan kedua dan ketiga, pemandu akan mengajak peserta body rafting beristirahat sambil menikmati goa yang terletak di bibir sungai bernama Goa Bau. Tetapi jangan heran meski memiliki keindahan yang menakjubkan sesuai namanya goa tersebut mengeluarkan aroma yang tidak sedap di hidung, terkadang banyak peserta yang muntah.
Usai beristirahat sejenak, peserta akan dibawa kembali berenang menyusuri sungai dengan beragam tantangan meski terkadang membuat nyali menciut.
Setelah lama bergelut dengan derasnya arus air, tantangan berikutnya adalah menyusuri tebing batu karang. Satu persatu peserta menyusurinya dan harus ekstra hati-hati. Lantaran jika terjatuh selain memiliki ketinggian di atas 10 meter di bawah tebing terdapat pusaran atau dikenal sebagai jeram blender yang sangat berbahaya.
Sekitar setengah jam perjuangan melintasi tebing dilalui dan peserta sampai di balik tebing. Di sana terdapat air terjun alami yang mengguyur bebatuan besar hingga siapapun yang masuk area tersebut seolah hidup di dalam air. Selain itu alam yang masih perawan disuguhkan dengan sejuta keindahannya.
Tempat itu juga menjadi lokasi favorit ketika wisatawan melakukan body rafting di Cukang Taneuh terutama berfoto. Pasalnya bebatuan yang berbentuk goa dan menutup cahaya Matahari disertai derasnya air terjun mengeluarkan beragam cahaya sehingga sayang jika tidak diabadikan.
Puas dengan menikmati eksotika alam di bukit bebatuan nan terjal, selanjutnya tantangan kembali dihadapkan. Kali ini semua peserta wajib melompat ke aliran sungai deras dan ke dalam sungai mencapai 20 Meter.
Semua peserta satu persatu melompat dan setelah melalui jarak hampir 10 meter wajib mengambil tali tambang yang diulurkan pemandu agar tidak terbawa arus derasnya aliran sungai. Dengan sigapnya para pemandu menarik dan mengamankan setiap peserta agar bisa menepi ke pingggiran sungai.
Setelah itu, jalur yang dilalui pun terbilang ringan. Sejenak wisatawan juga akan diajak ke tempat istirahat untuk menikmati bekal yang dibawa sambil melihat pemandangan alam pegunungan. Disitu juga akan ditemukan rumah pohon yang dihuni sepasang suami isteri yang terbilang lanjut usia.
Usai beristirahat sekitar 30 menit, perjalanan menyusuri sungai dengan cara benerang dan menghanyutkan badan kembali dilakukan. Perasaan takut, bahagia dan keseruan bercampur aduk selama melakukan kegiatan. Hingga akhirnya rute terakhir harus dilalui sebelum garis finish.
Menjelang titik akhir petualangan, semua peserta dihadapkan kembali dengan aliran sungai yang deras dan satu lubuk atau dalam bahasa Sunda disebut Leuwi.
Disesi akhir ini, amanat kembali disampaikan pemandu agar semuanya lebih berhati-hati. Pasalnya arus yang sangat deras serta lubuk yang sangat dalam terdapat di depannya sehingga sangat membahayakan jiwa jika sedikit pun melakukan kesalahan.
Di akhir petualangan dan setelah melintasi arus deras dan lubuk dengan pegangan tali tambang. Peserta kemudian naik ke bebatuan satu persatu perahu yang akan membawa rombongan datang. Di situ pula kebahagian dan rasa takjub terhadap alam tergambarkan. Ada sesuatu yang sangat sulit untuk diungkapkan.
Sambil menaiki perahu menuju titik berkumpul atau base camp menempuh perjalanan sekira 30 menit. Pemandu menceritakan semua latar belakang tentang lokasi body rafting Cukang Taneuh. Salah satu pemandu, Yadi. Menyebutkan jika lokasi wisata itu saat ini telah menjadi tujuan wisata utama di Pangandaran selain wisata pantainya.
"Kalau lokasi ini sudah sejak dulu sudah dikenal oleh masyarakat dengan nama Cukang Taneuh, tetapi semakin populer sejak tahun 1993 setelah diperkenalkan oleh seorang Prancis bernama Bill Jhon," kata Yadi.
Namun yang menjadi heran, jika tempat wisata itu saat ini dikenal dengan sebutan Grand Canyon seperti di Colorado Amerika. "Mungkin karena memiliki eksotisme yang sama," singkat Yadi.
Sedangkan sebutan Cukang Taneuh, seperti yang disematkan masyarakat setempat pada obyek wisata yang dikelola Pemerintah Daerah Pangandaran dan warga setempat itu, mengacu pada bahasa Sunda, cukang berarti Jalan dan taneuh berarti tanah, sehingga berarti jembatan yang terbuat dari tanah.
"karenakan di atas lembah dan jurang yang tadi kita lalui saat kita di bawah air terjun itu terdapat tanah atau karang seperti jembatan penghubung sungai," jelas Yadi.
Sesampainya kembali ke daratan, wisatawan kemudian dipersilakan untuk beristirahat sembari disuguhi kopi dan teh panas, tidak terkecuali menu utama nasi liwet.
"Bagusnya ke sini tidak pada musim hujan dan banjir seperti sekarang. Cocoknya berpetualang kesini kalau musim kemarau. Kalau di musim hujan seperti ini akan menguras tenaga dan menantang adrenalin," pungkas Yadi diakhir kegiatan.
Sementara, salah seorang peserta body rafting dari Purwakarta, Hendra Fadly menyebutkan jika petualangan yang dilakukannya di Cukang Taneuh merupakan yang paling mengesankan.
"Hari ini sangat luar biasa, kegiatan yang mengasyikan. Selain uji fisik mental adalah nomor satu untuk bisa melalui semua tantangan," ucap pria yang hobi berpetualang sedari kecil itu.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya