BNPB: Cilacap Berpotensi Terjadi Tsunami Api

Selasa, 9 Agustus 2022 05:04 Reporter : Lydia Fransisca
BNPB: Cilacap Berpotensi Terjadi Tsunami Api Kerusakan akibat tsunami di Tonga. ©2022 HANDOUT/COURTESY OF VILIAMI UASIKE LATU/AFP

Merdeka.com - Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari, mengatakan, pesisir selatan Cilacap, Jawa Tengah berpotensi mengalami tsunami. Bahkan, bukan tsunami biasa, tapi dengan api atau disebut tsunami-fire.

"Jika kita melihat Cilacap, maka ada potensi bahaya lain yang harus kita perhatikan," kata Muhari pada siaran bertajuk 'Disaster Briefing: Tsunami Selatan Jawa, Apakah Benar akan Terjadi?', Senin (8/8).

Munir menemukan, Cilacap memiliki tempat penyimpanan minyak lebih dari satu. Ketika terjadi gempa dan tsunami bakal merusak penyimpanan minyak. Dengan demikian memunculkan tsunami-fire.

"Kita tahu di satu kota itu pasti ada stasiun pengisian BBM, atau mobil tangki, atau tempat penyimpanan bahan bakar, atau bahkan bahan bakar di mobil pun itu ada. Kalau ini lepas, kita tahu misalkan air bercampur dengan minyak, minyak ada di atasnya. Jadi, kalau minyaknya ini menyebar dan ada tiang listrik memercikan api, ini habis terbakar," kata Muhari.

Muhari juga menyinggung tsunami-fire yang terjadi di Jepang pada 2011. Kala itu, terdapat tiga kota di Jepang yang terendam akibat tsunami tetapi bangunannya habis terbakar.

"Ini adalah fenomena baru dan masih menjadi tantangan kita semua untuk mencari solusi mitigasi yang tepat. Bagaimana kita bisa mengamankan SPBU, penampungan-penampungan minyak, dan lain-lain," jelas Muhari.

2 dari 4 halaman

Penjelasan BMKG

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengingatkan masyarakat akan ancaman gempa bumi dan tsunami di sepanjang selatan Pulau Jawa, khususnya di Cilacap. Karenanya, Ia meminta pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kesiap-siagaan guna mengantisipasi skenario terburuk.

"Cilacap yang berada di garis Pantai Selatan Jawa menghadap langsung zona tumbukan lempeng antara lempeng Samudera Hindia dengan lempeng Eurasia. Dari hasil pemodelan tsunami dengan skenario terburuk, dikhawatirkan berpotensi terjadi tsunami dengan ketinggian lebih dari 10 meter di pantai Cilacap, sebagai akibat dari gempabumi dengan kekuatan M = 8,7 pada zona megathrust dalam tumbukan lempeng tersebut," kata Dwikorita.

Hal itu diungkap Dwikorita saat membuka sekolah lapang gempa bumi (SLG) yang digelar BMKG Stasiun Geofisika Banjarnegara di Cilacap, Rabu (27/7). Dikutip dari laman resmi BMKG, Jumat (29/7).

3 dari 4 halaman

Dwikorita menyebut, prakiraan skenario terburuk itu bukanlah ramalan. Namun merupakan hasil kajian ahli dan pakar kegempaan. Kapan waktunya terjadi, kata dia, hal tersebut belum dapat diketahui. Mengingat hingga saat ini belum ada satupun teknologi yang mampu memprediksi kapan terjadinya gempa.

Perhitungan skenario terburuk tersebut, lanjut Dwikorita menjadi pijakan untuk mempersiapkan langkah-langkah mitigasi. Sehingga, jika terjadi gempa bumi dan tsunami sewaktu-waktu, diharapkan pemerintah dan masyarakat sudah siap dan tahu apa-apa saja yang harus dilakukan. Termasuk kapan dan kemana harus berlari menyelamatkan diri secara mandiri atau kelompok.

"Masyarakat harus paham apa yang mesti dilakukan dan disiapkan, termasuk sarana prasarananya, keterampilan untuk menyelamatkan diri, jalur evakuasi, tempat aman yang semua harus sudah dipersiapkan secara matang. Apalagi, khusus Kabupaten Cilacap, wilayah pantai merupakan kawasan padat penduduk, termasuk kantor pemerintahan, pusat perekonomian, dan lain sebagainya," imbuhnya.

4 dari 4 halaman

Dwikorita menyampaikan, BMKG bekerja sama dengan pemerintah daerah, BNPB/BPBD dan multi pihak terkait, rutin menggelar SLG di titik-titik rawan gempa bumi dan tsunami karena sangat bermanfaat untuk memberi edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat dan pemangku kepentingan di daerah dalam mengelola risiko dan bencana.

"Keterlibatan pihak swasta di kawasan industri di Kab. Cilacap juga sangat dinantikan dalam menguatkan Sistem Peringatan Dini Daerah yang telah dibangun dengan swadaya masyarakat dengan jumlah yang masih terbatas. Mengingat kawasan industri dan perekonomian di Pantai Cilacap juga masuk dalam zona rawan gempa dan tsunami. Tentunya pihak swasta/industri harus bersiap pula dengan menguatkan Sistem Peringatan Dini di kawasan industri tersebut," imbuh Dwikorita.

"Tanpa sistem mitigasi dan peringatan dini yang andal, dampak ikutan dari gempa dan tsunami di kawasan industri berpotensi memperparah intensitas kerusakan yang diakibatkan," lanjutnya.

Baca juga:
Viral Pusaran Angin di Bandara Ngurah Rai Bali, Ini Kata BMKG
Petani Udang di Brebes Terdampak Cuaca Ekstrem, Kerugian Capai Ratusan Juta Rupiah
Gelombang Setinggi 6 Meter Berpotensi Terjadi di Pulau Jawa, Ini Penyebabnya
BMKG Prediksi Jakarta Bakal Hujan pada Siang hingga Malam
Gempa Magnitudo 5,6 Guncang Aceh Jaya
Siklon Tropis Songda, Penyebab Tingginya Gelombang Laut Indonesia
Penjelasan BMKG, Karangasem Lima Kali Diguncang Gempa Bumi

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini