BNN Sebut Narkoba yang Diproduksi di Tasikmalaya Digemari Remaja

Rabu, 27 November 2019 17:29 Reporter : Mochammad Iqbal
BNN Sebut Narkoba yang Diproduksi di Tasikmalaya Digemari Remaja BNN gerebek rumah produksi narkoba di Tasikmalaya. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Deputi Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Irjen Pol Arman Depari menyebut bahwa pabrik pembuatan narkoba bisa ada di mana saja, dan menyaru dengan aktivitas lainnya. Oleh karena itu, dia mengimbau agar masyarakat selalu waspada dan meningkatkan kepekaan kepada hal-hal yang biasa namun mencurigakan.

"Narkoba bisa masuk ke manapun dengan menyamar menjadi aktivitas lain. Seperti ini seolah-olah pabrik legal, pabrik yang memproduksi sumpit untuk makan tapi ternyata di ruang-ruang tertentu mereka membuat obat-obat ilegal dan mengandung narkotika," ujarnya di Tasikmalaya, Rabu (27/11).

Dengan terungkapnya pabrik pembuatan narkotika di Kota Tasikmalaya, disebut Arman harus menjadi peringatan kepada masyarakat bahwa narkoba bisa menjalar dan memapar siapapun.

"Termasuk anak-anak kita. Oleh karena itu saya mengimbau supaya kita tetap menguatkan komitmen bersama-sama mencegah, memberantas, dan membentengi masyarakat dan keluarga kita dari narkoba," ucapnya.

1 dari 1 halaman

PCC Narkotika yang Diminati Anak Muda

Arman mengungkapkan bahwa narkotika yang dibuat di Kota Tasikmalaya ini adalah jenis yang paling diminati oleh anak-anak muda. Ia menyebut bahwa dengan harganya yang murah dan terjangkau menjadikan pasarnya menyebar hampir ke seluruh Indonesia, termasuk beberapa kota besar di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi bahkan Jakarta.

Namun meski demikian, dampaknya, dijelaskan Arman seperti kelakuan anak muda di Kalimantan yang seperti kesurupan bahkan layaknya Zombie. Selain itu juga karena dampak halusinogen dan lainnya, ada juga yang sampai mati usai terjun bebas dari atas jembatan.

"Bukan hanya ilegal, dengan pabrik ini kita tidak tahu mutunya seperti apa, karena tidak ada kontrol, apalagi ini narkotika," katanya.

Sementara itu Wadirtipidnarkoba Bareskrim Polri Kombes Krisno Halomoan Siregar menyebut, bahwa selama ini ada persepsi masyarakat bahwa PCC adalah obat keras biasa. Namun berdasarkan perubahan peraturan Menteri Kesehatan, PCC saat ini sudah masuk pada narkotika golongan 1.

"Di tahun 2017 Bareskrim bersama BNN menindak pabrik besar seperti ini di Jawa Tengah. Di 2018 tidak ada, namun di 2019 muncul lagi," katanya.

Ia menyebut bahwa pil PCC secara harga memang lebih murah di banding ekstasi dan sabu sehingga dicari oleh pemakai awal atau anak muda. Krisno menyebut bahwa masyarakat harus waspada karena bukan tidak mungkin pabrik serupa akan kembali hadir.

"Kami sudah memonitor. Jalur ini bukan tidak sengaja, ada di jalur selatan, gudang ada di Purwokerto sebelumnya. Dari sini ke purwokerto lalu ke Surabaya lalu ke Sulawesi dan Kalimantan. Kami akan terus kerja sama bahu membahu dengan BNN, sampai Dirkrim Polda untuk mencegah anak bangsa menjadi korban narkoba," tutupnya. [cob]

Baca juga:
BNN Gerebek Pabrik Sumpit yang Dijadikan Produksi Narkoba di Tasikmalaya
Gerebek Gudang Pil PCC di Cilacap, BNN Amankan 4 Orang
Polri-BNN Ungkap Kasus Produksi Narkoba PCC di Jabar dan Jateng
Polisi gerebek rumah megah di Cipindoh tempat produksi Pil PCC ilegal
BPOM di Semarang bakar 99.800 pil PCC dan jamu ilegal

Topik berita Terkait:
  1. Kasus Narkoba
  2. BNN
  3. Pil PCC
  4. Tasikmalaya
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini