Berharap Komoditas Nilam Bisa Berantas Kemiskinan Aceh

Rabu, 2 Oktober 2019 01:06 Reporter : Afif
Berharap Komoditas Nilam Bisa Berantas Kemiskinan Aceh ilustrasi parfum

Merdeka.com - Berdasarkan data dari Asian Development Bank (ADB) tentang market share, komoditas nilam Aceh dulunya bisa memasok sampai 70 persen pasar dunia. Namun kini hanya tinggal 10 persen. Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Aceh Dyah Erti Idawati berharap, peluang pengembangan nilam di Aceh bisa menjadi salah satu solusi terbaik untuk menuntaskan kemiskinan Aceh.

"Prospek nilam di Aceh cukup baik, jadi saya harap berkah nilam ke depanya bisa membuka akses untuk meningkatkan perekonomian Aceh untuk menuntaskan kemiskinan," kata Dyah Erti Idawati, Selasa (1/10).

Kata Dyah, Aceh bisa memperkuat perekonomian selain melalui olahan nilam. Bisa juga dilakukan peningkatan pada sektor pariwisata, salah satunya melalui pilot project desa wisata nilam yang sudah digagasnya beberapa waktu lalu.

"Desa wisata tersebut bisa membuka peluang Aceh untuk menguatkan perekonomian melalui pariwisata," ungkapnya.

Ia mengatakan, pengembangan perekonomian melalui pariwisata dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan melahirkan pendapatan dan penghasilan untuk masyarakat sekitar.

Menurut Dyah, penyebab melemahnya perekonomian Aceh diakibatkan oleh masih kurangnya kekompakan untuk mensinergikan penguatan ekonomi masyarakat, baik itu antar Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) maupun stakeholder lainnya. Sehingga kemiskinan Aceh masih sulit diturunkan.

"Percepatan penurunan kemiskinan, walaupun standly kita menurun tetapi kita maunya tancap gas," beber Dyah.

Dengan sinergitas tersebut, harap Dyah, dapat mempercepat upaya pemerintah melalui SKPA terkait dalam penuntasan kemiskinan dengan memperhatikan potensi daerah dan masyarakat sekitar.

Sementara itu Direktur Jenderal Penguatan Inovasi dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Jumain Appe, mengatakan bahwa perekonomian Aceh itu harus diperkuat dengan skema ekonomi dari hulu dan hilir, ia mengatakan bahwa saat ini Aceh masih berfokus pada eksportir bahan mentah.

"Saya tahu nilam memiliki potensi besar, jadi kita maunya dioperasikan sampai penyulingan, saya sudah komunikasi dengan perusahaan besar, bahwa saat ini mereka masih harus impor dari luar negeri, padahal dikita besar potensinya," terang Jumain.

Jumain Appe menjelaskan dalam konteks pembangunan daerah, strategi pembangunan difokuskan kepada penggarapan bisnis unggulan baru dengan mengembangkan potensi bisnis yang berbasis pada Produk Unggulan Daerah (PUD). Berbagai macam PUD yang bisa dikembangkan antara lain komoditas pertanian, perkebunan, kehutanan, hortikultura hingga industri kreatif.

Strategi ini adalah upaya untuk memanfaatkan peluang bisnis baru. Sebab tingkat daya saing nasional itu dibentuk dan didukung oleh kemampuan daya saing daerah yang memiliki karakteristik aktivitas ekonomi, infrastruktur, sumber daya alam, kearifan lokal serta kualitas sumber daya manusia yang beragam. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. Minyak
  2. Kemiskinan
  3. Aceh
  4. Banda Aceh
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini