Banyak kejanggalan, seleksi Bawaslu Langkat menuai protes
Merdeka.com - Sejumlah peserta memprotes keputusan tim seleksi anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Langkat, Sumut. Mereka menemukan banyak kejanggalan dari proses dan hasil penyaringan bakal calon yang sudah mengerucut ke 10 besar.
Salah seorang peserta yang memprotes hasil keputusan tim seleksi adalah Alimuddin Lubis. Dia bersama rekannya menduga ada kecurangan dalam proses itu.
Alimuddin dan rekan-rekannya tidak masuk 10 besar. Padahal mereka merasa lebih layak lolos.
"Nilai CAT (computer assisted test) saya peringkat 3 dengan nilai 51, tidak lolos. Yang peringkat 2, Magfirah Fitri Menjerang, juga tidak lolos. Yang peringkat CAT-nya 10 besar tidak lolos, yang lolos malah rekan-rekan dengan peringkat CAT jauh di bawah kami, bahkan di luar 10 besar," ucap Alimuddin.
Senada dengan Alimuddin, rekannya Irwan Kesuma (peringkat 8 CAT) jugamengaku heran dengan putusan panitia seleksi. Dia mendapat pesan dari salah seorang panitia seleksi bahwa nilai kesehatannya rendah. "Bagaimana memeringkat kesehatan," katanya.
Terkait kesehatan, para peserta ini juga mempertanyakan diloloskannya salah seorang peserta yang sebelumnya dinyatakan tidak lolos tes kesehatan saat mengikuti seleksi anggota KPU Sumut baru-baru ini. Peserta itu salah seorang peserta petahana di Bawaslu Langkat.
Para peserta ini juga heran dengan proses seleksi yang dilakukan secara kumulatif, semisal CAT digabungkan dengan psikotes atau wawancana dipaketkan dengan tes kesehatan. Alhasil transparansi penilaian tertutupi.
Selain itu, sebagian besar peserta yang tidak diloloskan dalam 10 besar justru berpengalaman sebagai Panwas kecamatan. "Yang lolos malah yang tidak berpengalaman sebagai Panwas. Ada yang dari pendamping desa. Kami tahu di antara yang lolos itu ada yang punya suami sebagai staf di KPU Langkat. Itu kan tidak boleh," kata Magfirah.
Kejanggalan lain yang ditemukan adalah lolosnya peserta yang sebelumnya melakukan pelanggaran. Salah satunya ada peserta lolos yang punya rekam jejak berfoto dengan calon bupati saat menjabat Panwascam.
"Kami juga tahu ada yang makalahnya plagiat juga diloloskan Timsel," kata Alimuddin.
Irwan dan Alimuddin sudah melaporkan kejanggalan yang mereka temukan ke Bawaslu Sumut. Mereka juga akan melaporkan dugaan kecurangan ke Ombudsman RI Perwakilan Sumut. Mereka meminta panitia seleksi dievaluasi sehingga transparan terkait hasil seleksi.
Terpisah, Ketua Tim Seleksi Elvi Hadriany yang dihubungi wartawan mengatakan bahwa mereka telah melakukan penilaian sesuai prosedur. Dia mengakui sudah mendapat banyak komplain dari para peserta, khususnya yang tidak lulus. Namun dia menganggap itu merupakan hal biasa.
Mengenai hasil nilai CAT yang disoal peserta, Elvi justru balik bertanya bagaimana peserta tahu rankingnya. Dia menyarankan agar peserta menyampaikan keberatannya ke Bawaslu Sumut.
"Saya tahu pasti ada yang komplain. Saya selalu dikomplain. Kami kan ada penilaian sendiri. Tetap menyarankan untuk membuat keberatan, pengaduan masyarakat ke Bawaslu. Jangan koar-koar di luar. Buktikan dengan data lengkap," sebutnya.
(mdk/bal)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya