Bamusi PDIP: TNI-Polri jangan lengah hadapi gerakan pecah belah bangsa

Jumat, 2 November 2018 16:47 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Bamusi PDIP: TNI-Polri jangan lengah hadapi gerakan pecah belah bangsa Aksi Bela Tauhid. ©Liputan6.com/Putu Merta Surya Putra

Merdeka.com - Sekretaris Umum Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) PDI Perjuangan, Nasyirul Falah Amru meminta masyarakat jeli menilai aksi bela agama yang ditunggangi kepentingan politik. Menurut dia, sangat tidak beretika dan mengganggu saat agama dijadikan kedok oleh para politikus yang ambisius meraih kekuasaan dengan segala cara.

"Kita cinta NKRI, Pancasila, dengan budaya dan semua pemeluk agama. Masyarakat jangan dihasut, jangan diganggu ketenangannya. Para pendiri bangsa sudah menggali Pancasila sebagai jiwa dan kepribadian bangsa."

"Di dalam Pancasila, kita mengakui menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai prinsip pertama, yang menyatu dan dibumikan ke dalam sila lainnya. Jadi agama menjadi landasan moral, etika, dan tuntunan bangsa menuju masyarakat adil dan makmur, bukan sebaliknya menjadi alat kekuasaan politik," kata pria yang kerap disapa Gus Falah tersebut, melalui keterangan tertulis, Jumat (2/11).

Gus Falah mengungkapkan, dirinya miris melihat organisasi masyarakat yang sudah dibubarkan pemerintah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), seolah masih diberi ruang beraktivitas. Kondisinya makin memprihatinkan, lanjut dia, karena kelompok HTI itu dekat dengan kubu Prabowo Subianto- Sandiaga Uno, pasangan capres-cawapres pada Pemilu 2019.

Menurutnya, salah satu bukti kedekatan HTI dengan kelompok pendukung Prabowo-Sandiaga adalah saat politikus PKS yang menjadi inisiator gerakan ganti presiden, Mardani Ali Sera, menyampaikan gerakan ganti presiden dan ganti sistem bersama eks Juru Bicara HTI Ismail Yusanto. Video Mardani dan Ismail viral di media sosial hingga berujung dilaporkan ke kepolisian.

Pasalnya, HTI sudah dibubarkan pemerintah karena dinilai bertentangan dengan Pancasila. Adapun Hizbut Tahrir juga dilarang di banyak negara lain, termasuk di beberapa negara Islam.

"Ini jadi rentan disusupi, ditunggangi. Kita enggak mau Indonesia kacau kayak Suriah, itu pengalaman buruk. Saya sungguh sedih, peringatan Hari Santri disusupi aksi provokasi yang menciptakan ketegangan di masyarakat. Aparat TNI dan Polri tidak boleh lengah menghadapi gerakan yang nyata-nyata mengarah pada perpecahan bangsa tersebut. Jangan bawa HTI dan ISIS ke Indonesia," ungkap Gus Falah.

"NKRI adalah sajadah kita, kewajiban kita melestarikan sesuai ajaran para ulama," ungkap Bendahara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tersebut.

Gus Falah mengatakan, masyarakat jangan terhasut mengikuti aksi bela agama, atau bela kalimat tauhid yang dimanfaatkan untuk tujuan politik.

"Aksi bela tauhid itu dengan tahlilan, muliakan Rasulullah SAW dengan Mauludan, aksi membela ulama dan menceritakan ahsanun amalannya dengan manaqiban," ungkapnya.

Sebagai masyarakat nahdliyin, Gus Falah juga menyampaikan sangat menghormati para habib. Oleh karena itu, dia berharap para habib berperan aktif menahan berkembangnya ideologi radikal dengan menyampaikan pesan persatuan dan keteduhan.

"Kami sangat memuliakan habib, kami ciumi tangannya, kami baca pesan leluhurnya. Habib-habib yang kami muliakan, jangan sampai mengajak masyarakat ke dalam HTI," ucap Gus Falah. [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini