Anas Urbaningrum akan ajak tamu lesehan usai gazebo di Lapas Sukamiskin dibongkar

Kamis, 26 Juli 2018 17:57 Reporter : Yunita Amalia
Anas Urbaningrum akan ajak tamu lesehan usai gazebo di Lapas Sukamiskin dibongkar Saung eksklusif Lapas Sukamiskin. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Terpidana kasus korupsi proyek wisma atlet di Hambalang, Jawa Barat, Anas Urbaningrum, tak menyoal pembongkaran saung di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung, oleh Ditjen Lapas Kementerian Hukum dan HAM. Anas mengatakan, sekalipun ada fasilitas berupa pendingin udara hal itu akan ditolaknya mengingat kondisi suhu Bandung cukup dingin.

"Tidak apa-apa, dibongkar, saya masih bisa terima tamu lesehan. Dari dulu memang begitu kondisinya. Fasilitas khusus AC, di Bandung itu dingin, saya malam pakai selimut," ujar Anas, usai mendengar tanggapan jaksa penuntut umum pada KPK atas permohonan Peninjauan Kembali (PK) kasusnya, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (26/7).

Mantan ketua umum Partai Demokrat ini menuturkan, selama mendekam di Lapas Sukamiskin, menginjakan kaki ke luar hanya untuk kepentingan berobat. Itupun, imbuh Anas, tanpa menyelewengkan kesempatan tersebut seperti mampir ke suatu tempat tanpa izin.

"Saya pernah operasi, berobat. Itu saja pasti diizinkan berobat," tukasnya.

Sementara itu diketahui inspeksi Lapas oleh pihak terkait pada Kementerian Hukum dan HAM menguak beberapa fasilitas yang sedianya tidak diperbolehkan berada di ruang sel narapidana, semisal ponsel, senjata tajam, pendingin udara, televisi, dan fasilitas lainnya.

Saung-saung yang ada di Lapas tersebut dibongkar karena menganggap keberadaan beberapa saung tidak sesuai.

Beda halnya dengan terpidana penerima suap pembahasan raperda reklamasi teluk Jakarta, Mohamad Sanusi yang menyayangkan pembongkaran saung Sukamiskin. Sebab, menurut Sanusi, saung diperuntukan saat narapidana dijenguk oleh keluarga.

Terkuaknya fasilitas tambahan di Lapas Sukamiskin diakui Sanusi merugikan warga binaan lainnya. Sebab, fasilitas tersebut hanya dilakukan oleh beberapa narapidana 'ber-uang' sementara narapidana lainnya menjalani masa binaan selayaknya seseorang menjalani masa hukuman.

Sanusi juga mengkritik terbongkarnya jual beli fasilitas di sel menjadi alasan dibongkarnya seluruh saung di Lapas Sukamiskin.

"Cuma itu satua-satunya yang buat kunjungan keluarga, sekarang hancur kita mau enggak mau ya berebutan di emperan yang enggak kena panas," ujarnya.

Diketahui, KPK menangkap tangan Kalapas Sukamiskin Wahid Husein bersamaan dengan staf nya bernama Hendry Saputra. KPK juga mengamankan narapidana pidana umum penghubung Fahmi Darmawansyah, terpidana pemberi suap pengadaan alat satelit monitoring di Badan Keamanan Laut (Bakamla), mendapat fasilitas mewah, Andri Rahmat. Keempatnya ditetapkan sebagai tersangka atas kasus suap.

Terhadap Wahid dan Hendry sebagai penerima disangkakan telah melanggar Pasal 12 a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi dan atau Pasal 12 B Jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

Sementara Fahmi dan Andri sebagai pemberi suap disangkakan telah melanggar Pasal 5 Ayat 1 a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi Jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP. [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini