Abrasi di Bali disebabkan kerusakan 12 persen terumbu karang
Merdeka.com - Kepala Dinas Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bali, Gede Suarjana mengungkapkan kerusakan terumbu karang di seluruh Bali sudah mencapai 12 persen dari luasan 7.200 hektare.
Terumbu karang di Bali, adalah salah satu tempat wisata favorit yang banyak dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. Suarjana, juga menjelaskan, penyebab terjadinya kerusakan terumbu karang ada banyak faktor.
Pertama, mulai dari perubahan suhu air yang diakibatkan oleh efek global warming. Kedua, Pencemaran atau limbah lingkungan yang datang dari darat atau lumpur sungai. Ketiga lapisan minyak yang kemungkinan terjadi dari limbah kapal laut, dan para perenang atau Snorkeling pemula yang tidak memperhatikan terumbu karang saat mereka di sekitar terumbu karang.
"Mari kita mawas diri, karena terumbu karang ini sangat berguna sekali bagi kehidupan kita," tuturnya.
Suarjana juga memaparkan akibat kerusakan terumbu karang tersebut, dampak alaminya adalah terjadinya abrasi di seluruh pantai di Bali. Saat ini, pantai yang telah mengalami abrasi di Bali mencapai 181,7 KM.
"Tingkat abrasi kita sangat tinggi sekali, sudah hampir 181,7 KM. Tetapi yang sudah parah itu 87,1 KM. Mulai, dari Denpasar, Baduang, Pantai Candidase di Karangasem, Jembrana Cupel, dan Buleleng, kemudian klungkung, dan masih ada lainnya," ungkapnya.
Menurut Suarjana, yang harus diketahui terumbu karang kegunaannya juga bisa menyerap Gas Rumah Kaca (GRK) yang kemudian mengasilkan CO2 atau zat kapur yang dapat mengurangi penyebab pemanasan global, selain itu untuk menjaga ekosistem di laut.
"Kalau mati, tidak akan bisa menyerap CO2, dan di samping itu keanekaragaman hayati kita pastinya berkurang," ujarnya.
Masyarakat diharpakan untuk tidak sembarangan membuang sampah atau limbah. Selain itu, para perusahaan pengelolah limbah juga harus memperhatikan hal tersebut.
"Saya juga menginginkan, para instansi yang menangani terumbu karang buatlah unit-unti percontohan atau pengelolaan terumbu karang yang baik. Kemudian, dana-dana CSR (perusahaan) yang menggunakan pantai, buatlah terumbu karang (buatan). Kemudian pusat (Pemerintah) curahkan APBN-nya untuk membuat terumbu karang," paparnya.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya