9 Terdakwa Korupsi Dana Hibah APBD Tasikmalaya Divonis Bersalah

Kamis, 18 April 2019 23:19 Reporter : Aksara Bebey
9 Terdakwa Korupsi Dana Hibah APBD Tasikmalaya Divonis Bersalah Sidang Terdakwa Korupsi Dana Hibah Tasikmalaya. ©2019 Merdeka.com/Aksara Bebey

Merdeka.com - Sembilan terdakwa kasus korupsi dana hibah Tasikmalaya divonis bersalah. Mereka mendapat hukuman penjara dengan masa tahanan yang bervariasi. Hal itu terungkap dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan LL.RE Martadinata Kota Bandung, Kamis (18/4/2019).

Para terdakwa yang menerima vonis adalah Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tasikmalaya Abdul Kodir hukuman 1 tahun dan 4 bulan penjara sertta denda Rp 50 juta.

Ia terbukti bersalah sesuai dakwaan kedua Pasal 3 Undang-undang RI nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana diubah dengan dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2011 tentang tipikor juncto Pasal 55 dan 56 KUHP juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Vonis yang diberikan kepada Abdul Kodir itu lebih rendah dari tuntutan jaksa Kejati Jawa Barat yang meminta hukuman penjara selama 2,5 tahun. "Menerima (hukuman) yang mulia," ujar Abdul Kodir menanggapi hakim yang menanyakan soal vonis yang diberikan.

Sidang yang dipimpin Majelis Hakim M. Razad ini pun memberikan vonis kepada para terdakwa lain yang terlibat. Mereka adalah, Kabag Kesra Kabupaten Tasikmalaya, Maman Jamaludin yang dihukum 1 tahun 4 bulan.

Lalu, Sekretaris DPKAD Kabupaten Tasikmalaya, Ade Ruswandi divonis 1 tahun penjara; Inspektorat Kabupaten Tasikmalaya, Endin dengan vonis 1 tahun penjara. Dari unsur aparatur sipil negara (ASN), Alam Rahadian divonis 1 tahun 2 bulan, Eka Ariansyah menerima vonis 1 tahun penjara.

Sedangkan terdakwa berlatar belakang warga sipil, Lia Sri Mulyani divonis 1 tahun 2 bulan penjara; Mulyana divonis 2 tahun 6 bulan penjara dan Setiawan harus mendekam di balik jeruji besi selama 2 tahun.

Khusus untuk terdakwa Setiawan dan Mulyana, mereka terancam mendapat tambahan masa tahanan karena belum menyerahkan uang hasil sunat dana hibah secara utuh atau baru dikembalikan separuhnya.

Dari praktik pemotongan dana hibah ini, Mulyana diketahui mendapatkan uang sebanyak Rp 650 juta sedangkan Setiawan meraup uang sebanyak Rp 350 juta.

"(Mulyana) Kita beri waktu satu bulan apabila tidak cukup maka diganti hukuman 1 tahun dan 3 bulan penjara," ucap M Razad.

"Terdakwa Setiawan harus membayar uang pengganti dengan waktu sebulan. Maka kalau tidak cukup, terdakwa dipidana kurungan 1 tahun," tambahnya.

Seperti diketahui, Polda Jabar membongkar praktik korupsi program dana hibah tahun anggaran 2017 di Kabupaten Tasikmalaya. Dalam kasus itu, Sekretaris Daerah dan sejumlah pejabat di Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya ditetapkan sebagai tersangka.

Kapolda Jawa Barat, Irjen Agung Budi Maryoto mengatakan bahwa modus yang dilakukan adalah menganggarkan hibah untuk 21 yayasan atau lembaga keagamaan. Namun, besaran bantuan dilakukan pemotongan.

Tersangka Abdul Khodir dan Maman Jamaludin, meminta Alam Rahadian Muharam selaku staf bagian Kesra Setda, dan Eka Ariyansyah mencarikan yayasan yang bakal menerima hibah.

Instruksi itu ditindaklanjuti oleh Alam dan Eka dengan meminta bantuan kepala Lia Sri Mulyani untuk mencarikan yayasan penerima hibah termasuk Mulyana dan ‎Setiawan sekaligus membuatkan proposal serta memotong dana hibah yang cair.

Meski tidak merinci, bantuan yang diberikan nominalnya dengan nilai yang beragam. Dari dana hibah yang dianggarkan tidak diberikan semuanya, hanya 10 persen dari nilai pengajuan dengan rataan Rp 100 sampai 600 juta lebih.

Sekda Tasikmalaya memperoleh bagian paling besar dari pemotongan dana tersebut. Total uang korupsi yang diterima sebesar Rp 1,4 miliar.

Dari pengungkapan ini, polisi mengamankan barang bukti di antaranya dua unit sepeda motor, satu mobil, sebidang tanah di Kabupaten Tasikmalaya, uang tunai Rp 1,951 miliar dan beberapa dokumen. [bal]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini