Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

7 Universitas rusak akibat gempa Sulteng, kerugian capai Rp 283 M

7 Universitas rusak akibat gempa Sulteng, kerugian capai Rp 283 M Coretan Tangan Korban Gempa Bumi Palu. ©Liputan6.com/Fery Pradolo

Merdeka.com - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Prof M Nasir menyatakan, terdapat tujuh gedung Universitas swasta dan negeri alami rusak parah akibat goncangan gempa bumi, tsunami di Palu-Donggala. Kerugian ditaksir mencapai Rp 283 miliar dari sektor pendidikan.

"Kampus yang rusak parah tidak bisa digunakan yakni Universitas Tandulako, Universitas Muhamadiyah Palu, Gedung Universitas terbuka cabang Palu, serta UIN Palu," kata Prof M Nasir usai menghadiri seminar di Gedung Prof Sudarto Undip, Sabtu (6/10).

Lebih lanjut, Nasir untuk atasi kerusakan secepatnya akan membenahi seluruh insfratruktur pendidikan dengan membangun tenda darurat, untuk gedung yang nyaris tidak bisa digunakan aktivitas kuliah. Ini bagian dari langkah antisipasi jangka pendek.

"Jadi kita siapkan 30 sampai 40 tenda darurat lagi yang akan didistribusikan ke lokasi bencana. Masing-masing tenda kapasitasnya bisa nampung 40 sampai 50 orang mahasiswa agar bisa kuliah," ujarnya.

Meski sudah ditetapkan tanggap darurat, total kerugian yang dialami di sektor pendidikan atas bencana. Pihaknya mendata ulang dan menyisir anggaran bersama Kementerian Keuangan untuk memulihkan situasi Kota Palu dan sekitarnya

"Nanti koordinasi dengan Kementerian PUPR juga untuk secepatnya akan membenahi insfratruktur pendidikan yang rusak parah. Targetnya bakal selesai tahun 2019 pembangunan. Sedangkan taksiran yang dihimpun dari data tim teknis Kemenristekdikti yang sudah meninjau ke pusat bencana," ungkapnya.

Terkait masih banyaknya korban yang belum ditemukan dari kalangan tenaga pengajar dan mahasiswa, hingga kini masih dalam pencarian.

"Masih pendataan, situasi lokasi belum sempurna karena masih masa evakuasi. Untuk korban jiwa pasti ada baik dari kalangan dosen, mahasiswa maupun pegawainya. Bahkan ada keluarga dosen hilang ataukah pergi apa belum ditemukan dampak tsunami sampai saat ini belum dimonitor," kata Prof M Nasir.

Biaya kuliah ditanggung pemerintah

Sementara itu, Nasir menjamin biaya pendidikan bagi mahasiswa korban bencana tsunami di Palu-Donggala akan ditanggung pemerintah.

"Pasti sudah saya bahas dengan pengurus majelis rektor perguruan tinggi Indonesia bahas biaya pendidikan bagi mahasiswa Palu-Donggala. Semua mahasiswa asal Palu yang kuliah tersebar di Indonesia, akan kami bebaskan biaya kuliah," katanya.

Dia menyebut, pemberian keringanan biaya kuliah juga sudah diterapkan pada bencana gempa bumi yang menimpa di Lombok, NTB. Tak hanya, itu, biaya hidup juga ditanggung.

"Jadi sistem serupa sudah kami diterapkan bagi korban gempa di Lombok. Untuk hari ini saja sudah serahkan beasiswa 4.000 mahasiswa terdampak gempa lombok. Yang belum tersentuh justru mahasiswa yang di Palu," ungkapnya.

Terkait biaya kuliah yang belum tersentuh pada mahasiswa yang terdampak gempa di Palu, pihaknya akan gerak cepat untuk segera atasi permasalahan.

"Ya kami perintah secepatnya untuk cover biaya pendidikan juga dengan mendata mahasiswa di sana," ujarnya.

Nantinya mahasiswa di sana dirancang tetap bisa kuliah, jika menempuh pendidikan dokter, maka bisa disetor ke perguruan tinggi lainnya yang punya fakultas kedokteran.

"Namun bisa juga belajar secara daring. Misalnya Universitas Indonesia sudah menjembatani perkuliahan jarak jauh dengan mahasiswa yang kena bencana di Palu. Bisa juga dengan program CTS," imbuhnya.

Terpisah, Rektor Undip Prof Dr Yos Johan Utama siap tampung mahasiswa dari Palu Universitas Tadulako yang terdampak bencana.

"Mahasiswa Tandulako akan ditampung di gedung TCII-BTB. Ada 50 kamar, tiap kamar bisa diisi empat orang. Mereka kuliah disini, dan diakui kuliah tempat asalnya," kata Prof Dr Yos Johan Utama.

Terkait proses kuliah nantinya segala mata kuliah yang dipelajari di Undip, nilainya akan ditransfer ke Universitas Tandulako Palu. Selain itu telah memerintahkan kepada para dosen agar bisa menjadi orangtua asuh bagi mahasiswa yang terdampak tsunami.

"Disini mereka tidak bayar, mau kuliah satu semester, dua semester pun tidak masalah," tutur Prof Dr Yos Johan Utama.

(mdk/rnd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP