Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

35 Orang di Ponpes Sempon Wonogiri Terpapar Covid-19, Penularan dari Pengasuh

35 Orang di Ponpes Sempon Wonogiri Terpapar Covid-19, Penularan dari Pengasuh Ilustrasi corona. ©2020 Merdeka.com/shutterstock

Merdeka.com - 35 Orang terdiri dari pengasuh dan santri di Pondok Pesantren Sempon, Wonogiri, Jawa Tengah, positif Covid-19 setelah test swab. Klaster baru tersebut muncul dari seorang pengasuh ponpes melakukan bepergian ke Demak.

"Jadi awalnya dari pengasuh ponpes yang sering bepergian ke Demak yang diketahui zona merah Covid-19. Saat pulang dalam kondisi terpapar tidak ketahuan, kondisi ponpes sehingga penularan tiktok-nya sangat cepat," kata Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen saat diwawancara di ruang kerjanya, Kamis (23/7).

Dia mengungkapkan kondisi dan tradisi saat di ponpes menyebabkan potensi penularan tinggi dengan cara berkerumun, dan berjabat tangan.

"Penyebabnya bisa saja saat salaman atau berkerumun. Karena itu, mulai saat ini tidak harus berjabat tangan. Dalam Islam ada yang namanya bersalaman dengan hati atau bil qolbi," ungkapnya.

Bil qolbi, menurut dia, diperbolehkan dalam Islam. Caranya, dengan meletakan tangan di dada. Yang artinya hati satu dengan yang lain saling bertautan atau terhubung.

Terkait jumlah santri di Jateng, ada sekitar 200 ribu. Jumlah itu dinilai sangat banyak. Sehingga jika ada satu warga ponpes yang terpapar virus, kemungkinan besar penularan cepat ke warga lain akan terjadi.

"Maka dia meminta agar ponpes hati-hati dan disiplin dalam penerapan protokol kesehatan.Jadi intinya jangan ada klaster baru yang muncul dari pondok pesantren dan para kiai atau ulama," jelasnya.

Di sejumlah tempat, Gerakan Jogo Santri sudah berjalan. Seperti menyediakan ruang karantina atau isolasi bagi yang terindikasi terpapar virus dan sebagainya.

"Seperti di Ponpes Al Hikmah Benda Sirampog Brebes. Gerakan Jogo Santri di sana bergerak dengan memisahkan jemaah masjid yang berasal dari santri dan masyarakat umum yang merupakan warga sekitar," ujarnya.

Meskipun demikian, respons masyarakat di ponpes sama saja dengan masyarakat biasa pada umumnya dalam menyikapi penerapan protokol kesehatan.

"Responnya sama saja, ada yang patuh seperti memakai masker dan jaga jarak, ada juga yang mengabaikannya," tuturnya.

Instruksi dari pemerintah tidak bisa serta merta atau diikuti langsung secara cepat dan berjalan baik oleh masyarakat.Sehingga, edukasi harus terus dilakukan secara masif di pondok-pondok pesantren.

"Tidak hanya di ponpes, tapi masyarakat harus memperhatikan agar disiplin taat aturan. Kalau sakit, tidak dipaksakan, apalagi sakit ada indikasi ke arah Covid-19," ungkapnya.

(mdk/gil)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP