19 Tahun Banten Jadi Provinsi, Angka Pengangguran dan Kemiskinan Masih Tinggi

Jumat, 4 Oktober 2019 23:01 Reporter : Dwi Prasetya
19 Tahun Banten Jadi Provinsi, Angka Pengangguran dan Kemiskinan Masih Tinggi Rapat paripurna istimewa HUT Banten. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Provinsi Banten berusia 19 tahun. Pengangguran dan kemiskinan masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serta solusi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Banten tertinggi kedua se-Indonesia sebesar 7,58 persen atau 465.800 orang. Angka ini juga lebih tinggi dari angka rata-rata nasional sebesar 5,34 persen.

Menurut tingkat pendidikan, lulusan SMK paling mendominasi TPT di Indonesia. TPT yang berasal dari pendidikan SMK sebesar 11,24 persen, lulusan SMA sebesar 7,95 persen, lulusan diploma I/II/III sebesar 6,02 persen, lulusan universitas sebesar 5,89 persen, lulusan SMP sebesar 4,80 persen, dan sekolah dasar (SD) sebesar 2,43 persen.

Angka kemiskinan di Provinsi Banten pada triwulan I tahun 2019 sebesar 5,25 persen, sedangkan rata-rata nasional sebesar 9,66 persen. Dengan capaian angka kemiskinan sebesar 5,25 persen menempatkan posisi Provinsi Banten pada urutan ke-5 tertinggi se-Indonesia.

"Angka pengangguran menurun dari 8,52 persen namun pengangguran terbuka masih cukup besar 7,58 persen jauh dari angka nasional sebesar 5,34 persen," kata tokoh masyarakat Banten Syibli Sarjaya saat pidato di sidang Paripurna Istimewa HUT Ke-19 Banten di Aula DPRD Banten, Jumat (4/10).

Hal itu pun diakui oleh Gubernur Banten Wahidin Halim, menurutnya keberhasilan Pemprov dalam membangun dunia pendidikan dengan terus meningkatkan infrastruktur dan sumber daya manusia ini masih belum berbanding lurus dengan angka pengangguran di Banten.

"Ini paradok dengan pengangguran dengan angka pengangguran yang masih tinggi karena menurut BPS yang kerja di bawah 5 jam itu nganggur," kata Wahidin.

Oleh karenanya, dalam rangka untuk menekan angka pengangguran tersebut, dia mengatakan telah memerintahkan industri-industri di Banten meminimalisir penggunaan tenaga kerja asing dan lebih mengutamakan tenaga kerja lokal. "Saya minta tenaga asing tidak menyerbu Banten ini saya sudah sampaikan ke industri-industri di Banten," ujarnya. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. Pengangguran
  2. Kemiskinan
  3. Banten
  4. Serang
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini