15 Mantan Narapidana Teroris di Solo Belajar Mengolah Ikan

Sabtu, 15 Desember 2018 23:31 Reporter : Arie Sunaryo
15 Mantan Narapidana Teroris di Solo Belajar Mengolah Ikan Mantan narapidana teroris belajar mengolah ikan. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Sebanyak 15 mantan narapidana terorisme (eks napiter) se-Solo Raya, mengikuti pelatihan cara mengolah dan memasarkan ikan. Dengan seksama, mereka mengikuti kegiatan yang diadakan di kantor Balai Benih Ikan Dinas Pertanian dan Perikanan Kelurahan Mandan, Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (15/12).

Pelatihan ini bagian dari program deradikalisme yang diadakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Salah seorang eks napiter, Hari Budiarto, warga Kelurahan Semanggi, Solo, mengaku senang dengan kegiatan tersebut.

"Senang sekali ada program seperti ini, sangat bermanfaat buat kami," ujar pria yang ditangkap Densus 88 Antiterror tahun 2011 akibat terlibat jaringan teroris Bahrun Naim itu.

Koordinator eks napiter, Jack Harun menyampaikan, para peserta pelatihan ini merupakan eks napiter yang tergabung di Yayasan Gema Salam. Selain BNPT, kegiatan tersebut juga difasilitasi oleh Polres Sukoharjo, Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo dan Universitas Diponegoro Semarang.

"Setelah bebas dari penjara, mereka ini butuh perhatian khusus. Pelatihan ini sangat penting untuk modal hidup baru para napiter setelah bebas," katanya.

Menurut dia, peluang berwirausaha mengolah dan memasarkan ikan mempunyai prospek yang baik di Solo Raya. Setelah pelatihan ini mereka diharapkan bisa mempratikkan di rumah dengan membuka usaha kuliner olahan ikan asap atau berjualan ikan mentah di pasar.

Sementara itu, staf Fakultas Perikanan dan Ilmu Kautan Undip Semarang, Faik Kurohman menjelaskan masakan ikan asap cair belum banyak diketahui masyarakat. Undip melalui kegiatan ini ingin mengenalkan masakan ikan asap cair pada masyarakat.

"Dengan program ini kami ingin berbagi ilmu bersama eks napiter agar bisa mandiri setelah bebas dengan membuka usaha kuliner ikan asap cair," katanya.

Lebih lanjut ia menerangkan, ikan asap cair ini sistem pengolahannya dengan cara merendam ikan dengan cairan asap phyrolisis atau penyulingan tempurung kelapa selama 1,5 jam. Setelah itu ikan dimasak menggunakan oven selama 1,5 jam, ikan baru bisa dimakan.

"Selama ini memasak ikan lebih sering dibakar menggunakan kayu atau arang. Cara tradisional itu justru banyak sarang bakteri penyebab penyakit kanker yang timbul dari arang atau kayu bakar," urainya.

Pengolahan ikan asap cair ini juga cocok untuk ikan nila, gurame, sosis dan ayam. Makanan olahan ini lebih sehat dan higienis. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini