100 Personel Brimob Polda Sulsel Dikerahkan Kawal Aksi 22 Mei di Kalbar
Merdeka.com - Di tengah sibuknya pengamanan aksi 22 Mei di Makassar, Polda Sulsel tetap mengirim pasukan Brimob ke Pontianak, Kalimantan Barat, untuk membantu pengamanan di daerah tersebut. Pengiriman pasukan berjumlah 100 personel itu dikirim hari ini.
"Kita mengirim 100 personel Brimob ke Kalbar untuk membantu pengamanan di sana," kata Kapolda Sulsel, Irjen Hamidin saat ditemui di tengah aksi 22 Mei di Jalan Jenderal Sudirman, depan monumen mandala, Makassar, Rabu (22/5).
Dengan demikian, sudah dua SSK personel Brimob Polda Sulsel dikirim keluar. Pertama, Jumat (17/5) lalu, satu SSK atau Satuan Setingkat Kompi dipimpin Kompol Ihsan, Komandan Batalyon C Bone dikirim ke Jakarta. Kedua, satu SSK dikirim hari ini ke Kalimantan Barat.
Dia menjelaskan, mobilitas pengamanan menganut rayonisasi maka personel Polda Sulsel dikirim ke Provinsi Kalbar. Sebaliknya, jika wilayah Sulsel yang alami permasalahan maka personel dari Polda tetangga sesuai rayon yang dikirim masuk ke Sulsel.
Sementara itu, pantauan merdeka.com, aksi 22 Mei di Makassar hanya berlangsung di Jalan Jenderal Sudirman, depan monumen mandala. Meski demikian, kantor-kantor penyelenggara dan pengawas Pemilu dijaga ketat. Mobil water canon dan kawat barrier mengelilingi kantor KPU dan Bawaslu Sulsel serta KPU dan Bawaslu Makassar.
Personel terdepan yang lakukan penjagaan adalah dari unsur Brimob. Di KPU Sulsel misalnya, sempat beberapa jam di sana, Komandan Satuan Brimob Polda Sulsel, Kombes Polisi Adeni Muhan lakukan pantauan pengamanan.
Secara umum, aksi 22 Mei di Makassar yang digelar massa dari Forum Umat Islam Bersatu di depan monumen mandala berlangsung aman. Hanya diisi dengan orasi.
Meski demikian, sempat terjadi keributan di tengah long march massa pendukung pasangan Prabowo-Sandi.
Kabag Ops Polrestabes Makassar, AKBP Anwar Danu mengatakan, sempat terjadi keributan di jalan Penghibur, area Pantai Losari. "Iya tadi ada keributan di internal massa itu. Di tengah pengunjuk rasa, ada orang-orang FPI. Mereka melihat ada warung yang terbuka saat melintas di depan Pantai Losari. Mereka langsung masuk minta agar warung itu segera ditutup. Namun di antara massa mereka juga ada yang tidak sepakat dengan tindakan orang Front Pembela Islam itu sehingga terjadi pro kontra di antara mereka," kata AKBP Anwar Danu.
Sempat terjadi keributan di antara mereka, apakah warung itu harus tutup atau tidak. Namun keributan yang sempat berlangsung kurang lebih 15 menit itu berakhir setelah ditengahi oleh personel kepolisian yang mengikuti sejak awal long march itu dari depan monumen mandala.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya