Jatuhnya Benteng Marapalam, akhir dari Perang Padri fase ke-3
Merdeka.com - Perang Padri adalah salah satu perang yang terjadi di Sumatera Barat. Perang ini terjadi dalam tiga fase dan fase terakhirnya berlangsung selama 7 tahun. Lalu, bagaimana akhir dari perang Padri ini?
Di pertempuran fase ketiga ini, kaum Padri sudah mulai mendapatkan simpati dari kaum Adat. Hal itu menyebabkan kekuatan para pejuang di Sumatera Barat semakin meningkat. Orang-orang Padri yang mendapatkan dukungan dari kaum Adat itu mulai bergerak ke pos tentara Belanda. Kaum Padri yang berasal dari Bukit Kamang ini berhasil memutus sarana komunikasi yang ada diantara benteng Belanda di Tanjung Alam dan Bukittinggi.
Tindakan kaum Padri itu dijadikan alasan oleh Belanda untuk bisa menyerang Koto Tuo di Ampek Angkek, dibawah pimpinan Gillavry. Selain itu, mereka membangun benteng pertahanan dari Ampang Gadang sampai ke Biaro. Batang Gadis, sebuah nagari yang punya posisi sangat strategis yang ada di Tanjung Alam dan Batu Sangkar juga ditempati. Pada tahun 1831, posisi Gillavary digantikan oleh Jacob Elout.
Elout ini sudah mendapat pesan dari Gubernur Jenderal Van den Bosch untuk melakukan serangan besar-besaran pada kaum Padri. Dengan cepat, Elout mengerahkan pasukannya untuk bisa menguasai beberapa nagari seperti Manggung, Naras dan daerah Batipuh. Setelah berhasil menguasai Batipuh, serangan Belanda diarahkan ke Benteng Marapalam.
Benteng ini adalah kunci untuk bisa menguasai Lintau. Karena bantuan dua orang Padri yang berkhianat, di bulan Agustus 1831, Belanda bisa menguasai Benteng Marapalam. Seiring dengan jatuhnya benteng ini, beberapa nagari di sekitarnya juga ikut menyerah. Nah, itulah akhir dari perang Padri yang berlangsung sekitar 16 tahun ini. Sangat lama, bukan? (mdk/iwe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya