Teknologi Hybrid Paling Tepat di Masa Transisi Era Mobil Listrik Indonesia

Banyak negara belum banyak memiliki fasilitas pengisian ini. Kondisi ini mendorong pabrikan otomotif mengembangkan mobil listrik bertekbologi 'antara', yakni hybrid atau plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). Jadi mobil hybrid, selain memiliki baterai untuk menggerakkan roda, juga memiliki mesin konvensional.

Syakur Usman
Oleh Syakur Usman - Reporter
Teknologi Hybrid Paling Tepat di Masa Transisi Era Mobil Listrik Indonesia
Mobil baru Nissan Kicks e-Power. ©2020 Merdeka.com

Indonesia bakal segera memasuki era mobil listrik murni alias battery electric vehicle (BEV). Jadi daya listrik dari baterai digunakan untuk menggerakkan roda, sehingga kendaraan bisa melaju.

Dengan skenario ini, mobil bergerak tanpa mengeluarkan gas buang atau emisi sehingga sangat ramah lingkungan. Ini berbeda sekali dengan mesin konvensional sekarang yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM) dan memiliki emisi.

Itulah salah satu tujuan mobil listrik dikembangkan supaya lingkungan lebih baik secara global demi menekan efek rumah kaca. Kondisi ideal ini tentu memiliki prasyarat supaya mobil listrik semakin populer, yakni fasilitas stasiun pengisian daya baterainya atrau charging station.

Banyak negara belum banyak memiliki fasilitas pengisian ini. Kondisi ini mendorong pabrikan otomotif mengembangkan mobil listrik bertekbologi 'antara', yakni hybrid atau plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). Jadi mobil hybrid atau PHEV ini, selain memiliki baterai untuk menggerakkan roda, juga memiliki mesin konvensional untuk membantu baterai menggerakaan kendaraan, sehingga mobil tidak hanya bergantung pada baterai.

Indonesia masuk dalam situasi tersebut. Stasiun pengisian daya baterai masih sedikit dan konsep mobil listrik juga masih baru di konsumen otomotif RI. Singkatnya, mobil listrik masih barang baru bagi masyarakat negara bahari ini, meski pemerintah sudah menyiapkan beberapa regulasi pendukung.

Riyanto, peneliti senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), mengatakan pemerintah RI sedang menuju ke arah mobil listrik di masa depan. Namun, dalam implementasinya di masyarakat, tentu diperlukan masa transisi dengan memanfaatkan teknologi hybrid atau PHEV sebagai teknologi penghubung ke mobil listrik murni.

Dia menegaskan tujuan utama mobil listrik adalah menurunkan emisi karbon gas buang yang dihasilkan dari pembakaran mesin kendaraan bermotor. UI pernah melakukan uji coba kendaraan PHEV di kawasan perkotaan.

"Selama uji coba, konsumsi BBM kecil karena hanya dipakai untuk jarak-jarak pendek di dalam kota. Jadi semuanya digerakkan oleh baterai. PHEV ini mirip dengan full baterai karena kalau di dalam kota mesin konvensionalnya tidak berfungsi," ujar Riyanto dalam diskusi virtual kemarin (26/11).

Menurutnya, dalam jangka pendek, dirinya lebih memilih mobil hybrid atau PHEV. Namun, dalam jangka panjang, kalau ekosistemnya sudah lengkap, Indonesia bisa pindah ke mobil listrik murni (BEV).

Nissan Kicks e-Power

Di masa transisi ini, masyarakat Indonesia cukup dimudahkan dengan ragam mobil hybrid di pasar. Salah satunya Nissan Kicks e-Power.

Sensasi berkendara mobil SUV kompak ini sama dengan mobil listrik murni (BEV), karena roda hanya digerakkan dengan motor listrik, tanpa ada campur tangan mesin konvensional.

Sementara urusan mengisi daya baterai, pengemudi tidak perlu repot mencari stasiun pengisian listrik umum (SPLU) karena tidak membutuhkan proses pengecasan. Mobil ini, berkat teknologi e-Power Nissan, menjadikan mesin konvensional berperan sebagai generator untuk mengisi daya baterai selama perjalanan. Jadi penumpang cukup mengisi bensin saja supaya mesin konvensional tersebut bisa beroperasi untuk mengecas baterai mobil.

Insentif Pajak Mobil Hybrid

Riyanto menegaskan memang dalan Peraturan Pemerintah No 55 Tahun 2019 yang memberikan kendaraan hybrid insentif berupa pengurangan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Meski hanya dapat insentif PPnBM, angkanya sudah cukup untuk membuat konsumen tertarik.

“Dari insentif PPnBM saja, hybrid sebenarnya sudah sangat kompetitif. Jadi, kelihatannya hybrid dan PHEV akan berkembang saat ini,” pungkas dia.

Rekomendasi