Pertumbuhan kendaraan bermotor di Indonesia masih belum sebanding dengan tingkat kesadaran dan kepatuhan berlalu lintas penggunanya. Akibatnya, angka kecelakaan yang menimbulkan kematian dan luka-luka di jalan raya terus meningkat setiap tahun.
Terkait dengan itu PT Michelin Indonesia kembali menggelar kampanye road safety dengan melaksanakan serangkaian kegiatan. Hingga 8 November 2014 ini Michelin menggelar kegiatan Sekolah Mengemudi untuk siswa Sekolah Menengah Umum (SMU) di Jakarta. Sebanyak 200 peserta yang terpilih dari 5 SMU akan mengikuti pembekalan dan praktik mengenai tata cara mengemudi (driving school) di Taman Lalu Lintas, Cibubur, dan area GOR Ragunan Jakarta.
Kegiatan Driving School ini merupakan salah satu dari rangkaian tiga kegiatan utama dalam kampanye road safety yang digelar Michelin sejak tanggal 3 September 2014 hingga 7 Desember 2014 mendatang.
Sebelumnya Michelin telah menggelar program edukasi ke 5 SMU di Jakarta bekerjasama dengan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya dan Psikolog. Dari kegiatan edukasi itulah terpilih 200 siswa untuk mengikuti driving school dan selanjutnya ujian untuk mendapatkan SIM.
"Michelin sangat prihatin dengan risiko lalu lintas di Indonesia yang begitu tinggi. Karena itu kami akan terus berupaya mewujudkan komitmen Michelin dalam hal keamanan. ," kata Jean Charles Simon, Country Director Michelin Indonesia di Jakarta, kemarin (19/10).
"Sebagai negara dengan penduduk usia produktif yang sangat besar, Indonesia memiliki aset yang sangat strategis untuk menjadi negara maju. Road safety adalah salah satu cara untuk mengoptimalkan aset strategis itu, terutama dalam mengurangi kecelakaan di jalan raya yang tidak hanya menimbulkan korban jiwa tapi juga mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar," tambahnya.
Menurut Jean Charles, Michelin berusaha untuk memberikan informasi yang tepat mengenai proses pembuatan SIM agar pelajar tersebut memiliki pengetahuan secara utuh dan menyeluruh. Mulai dari teori hingga ke praktik dan pada akhirnya mereka harus mengikuti Ujian SIM sebelum dapat mengendarai kendaraan dan memperoleh SIM.
Selama ini tingkat kepatuhan untuk tertib berlalu lintas dan pemahaman terhadap keamanan berkendara pada pelajar sangat rendah. Data dari Polda Metro Jaya menyebutkan, sekitar 90 persen pelajar yang terkena razia operasi tertib lalu lintas tidak memiliki SIM. Hal tersebut terjadi pada pelajar yang sudah cukup umur maupun yang belum cukup umur untuk memiliki SIM.
Jean Charles berharap kegiatan kampanye road safety yang dilakukan Michelin di sekolah-sekolah ini akan menginspirasi dan mendorong pihak sekolah dan pihak-pihak lain untuk semakin peduli dengan keselamatan anak sekolah di jalan raya.
Advertisement
Sebagai gambaran, Korlantas Mabes Polri mencatat dari Januari hingga Juni tahun 2014 dari total kecelakaan sebanyak 52 ribu kejadian, yang meninggal 12 ribu jiwa, luka berat sekitar 14 ribu jiwa dan luka ringan sebanyak 58 ribu jiwa.
Diantara sekian banyak korban kecelakaan di Indonesia, sebanyak 20 persen anak usia dibawah 17 tahun merupakan salah satu korban terbesar. Jumlah tersebut belum termasuk korban luka dan kerugian materi yang jumlahnya jauh lebih besar. Namun sebaliknya, data terbaru yang dirilis bulan Juli 2014 oleh Korlantas Polri menyebutkan, faktor pelaku pelanggaran lalu lintas terbesar adalah usia 16-30 tahun yang mencapai 3.033 dari total pelanggaran sebanyak 7.597 kasus. Dan kecelakaan yang disebabkan oleh faktor kelalaian yang disebabkan pengemudi seprti lelah, lengah, tidak tertib dan lainnya tercatat sebanyak 6.830 kasus.
Sementara data WHO mencatat, di tahun 2011 jumlah korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas pada anak usia dibawah 25 tahun mencapai sekitar 400.000 atau lebih dari 1000 anak usia produktif meninggal di jalan raya.
(kpl/nzr/rd)