Mobil plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) selama ini dipromosikan sebagai langkah transisi menuju kendaraan listrik sepenuhnya. Teknologi ini mengintegrasikan mesin bensin dengan motor listrik, memungkinkan kendaraan beroperasi tanpa emisi selama baterai terisi, dan tetap dapat digunakan ketika daya listrik habis.
Namun, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa klaim mengenai ramah lingkungan dari PHEV sangat tergantung pada kebiasaan penggunanya, terutama dalam hal pengisian ulang baterai. Jika pengisian daya tidak dilakukan secara rutin, keuntungan lingkungan yang seharusnya didapat bisa hilang.
Dalam laporan tersebut, dijelaskan bahwa PHEV memiliki dua mode operasi utama: Charge-Depleting (CD), di mana kendaraan memanfaatkan tenaga listrik dari baterai, dan Charge-Sustaining (CS), ketika baterai habis dan mesin bensin berfungsi penuh.
Dalam kondisi yang ideal, ketika PHEV beroperasi dalam mode CD dengan baterai yang terisi penuh, emisi nitrogen oksida (NOx) bisa lebih rendah dibandingkan mobil konvensional. Motor listrik dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan tenaga, sehingga konsumsi bensin dan emisi gas buang dapat diminimalkan.
Namun, kenyataannya, banyak pengemudi yang jarang melakukan pengisian ulang baterai. Hal ini menyebabkan kendaraan lebih sering beroperasi dalam mode CS. Dalam situasi yang paling buruk, jika PHEV tidak pernah diisi ulang, emisi NOx, hidrokarbon, dan karbondioksida (CO) bisa meningkat hingga puluhan persen dibandingkan saat baterai digunakan dengan optimal.
Advertisement
Menurut laporan dari thedrive, para peneliti mengamati bahwa saat baterai dalam keadaan kosong, mesin pembakaran internal perlu bekerja lebih keras untuk menggerakkan kendaraan yang juga membawa beban tambahan dari paket baterai. Situasi ini menyebabkan efisiensi menurun dan emisi gas buang meningkat.
Beberapa model PHEV bahkan menunjukkan peningkatan emisi yang signifikan saat digunakan tanpa melakukan pengisian ulang, jika dibandingkan dengan performanya saat baterai terisi penuh. Hal ini jelas bertentangan dengan tujuan awal pengembangan teknologi plug-in hybrid yang dirancang untuk mengurangi polusi.
Inti dari PHEV adalah kemampuannya untuk beroperasi tanpa emisi lokal dalam mode CD. Namun, peningkatan polusi terdeteksi ketika kendaraan digunakan untuk perjalanan jauh tanpa pengisian ulang dan hanya mengandalkan mesin bensin.
Penelitian ini kembali menegaskan bahwa klaim mengenai keunggulan lingkungan dari PHEV sangat tergantung pada perilaku pengguna. Jika pengguna jarang mengisi baterai, kendaraan ini berpotensi menghasilkan emisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil pengujian laboratorium atau angka resmi yang diklaim oleh pabrikan.
Advertisement
Salah satu tantangan utama dalam penggunaan kendaraan PHEV adalah kebiasaan pengemudinya. Berbeda dengan kendaraan listrik sepenuhnya atau battery electric vehicle (BEV) yang memerlukan pengisian daya secara teratur, pengguna PHEV seringkali mengabaikan pengisian baterai karena kendaraan ini masih dapat beroperasi menggunakan bensin. Hal ini menyebabkan banyak PHEV berfungsi lebih sering dalam mode CS daripada CD, sehingga dampak positif terhadap lingkungan yang diharapkan dari teknologi ini tidak dapat tercapai secara maksimal.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa efisiensi dan tingkat keberlanjutan lingkungan dari PHEV sangat bergantung pada pola penggunaan sehari-hari. Oleh karena itu, bagi konsumen yang mempertimbangkan PHEV sebagai pilihan ramah lingkungan, disiplin dalam mengisi ulang baterai secara teratur menjadi faktor penting agar manfaat dari teknologi ini dapat dirasakan secara optimal.