Kolom Inspira

William: Mimpi start-up lokal bernilai Rp 1,2 Triliun

Selasa, 25 November 2014 21:40 Penulis : Sapto Anggoro
William: Mimpi start-up lokal bernilai Rp 1,2 Triliun tokopedia. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Pada Oktober lalu, jagat start-up e-commerce Indonesia dikejutkan dengan investasi senilai USD 100 juta (sekitar Rp 1,2 Triliun) ke toko online Tokopedia.com. Semua insan internet nasional bahkan dunia menoleh ke William Tanuwijaya, lelaki berusia 33 tahun asli Indonesia yang bersama rekannya Leontinus Alpha Edison sebagai co-founder membangun marketplace tersebut.

Tidak tanggung-tanggung, investornya adalah pemain dunia: SoftBank Ventures (Korea) dan Sequioa Capital yang berbasis di Menlo Park, California.

Banyak pertanyaan diarahkan ke situs ini. Apakah sudah untung, apakah akan balik modal, apakah menjanjikan situs ini, apakah penggunanya besar, apakah tidak salah yang invest, dan beragam pertanyaan mengarah padanya. Yang pasti, tentu saja investor tidak bodoh untuk menggelontorkan dananya ke Tokopedia. Meski bisa dikatakan bukan yang terbesar, karena ada market place sejenis seperti Lazada, Elevania, BukaLapak dan lain-lain, namun Tokopedia telah menunjukkan bahwa situs ini mendapat kepercayaan penting.

Untuk mendapatkan pendanaan tersebut, bukan perkara mudah. Kalau diumpamakan lagu, barangkali lagu "Sakitnya tuh di sini" cukup pas dengan perasaan William. Pada tahun 2007 ketika berdiri, dia memulai dari nol. Punya ide membuat toko online gratis agar orang Indonesia mudah jual beli di internet. Idenya ditawarkan ke bos tempat dia bekerja, lalu oleh bosnya dibiayai.

Dalam beberapa waktu, dana perusahaan sekitar Rp 2 miliar lebih kian menipis, sementara pengguna terus bertambah, usaha mengembangkan lebih baik terus dilakukan tapi dana benar-benar sekarat. Lalu, dia membuat proposal, menawarkan ke para konglomerat negeri ini. "Saya ketuk satu pintu ke pintu yang lain, tapi tidak ada yang percaya," katanya. William suatu hari merasa bahwa dia bukan siapa-siapa, hanya lulusan kampus swasta Jakarta, bukan MIT atau Harvard. Bukan anak konglomerat, dan bukan bukan lainnya. Karena itulah, dia merasa ditolak kemana-mana saat mencari pendanaan.

Cita-citanya untuk mengembangkan Tokopedia tak pernah pupus. Meski untuk menghidupi karyawan tidaklah gampang. Bahkan dia cerita kas perusahaan kosong dan utang adalah hal biasa. lantas dia mencari kredit bank, tapi bunganya takut mencekiknya. Boro-boro dapat kredit, jauh sebelum mengajukan kredit sudah ditolak karena tidak punya fixed asset yang bisa dijaminkan.

Mencari biaya untuk perusahaan dengan cara mengetuk pintu ke pengusaha lokal, sering membuat dia sakit hati. "Mereka selalu tanya, kalau invest sekian puluh bahkan sekian ratus miliar, kapan kembalinya?" katanya. Uang balik modal alias return on investment (ROI) adalah kata-kata yang sering menyakitkan hati. Sebab, ini bukan bisnis jual kacang goreng yang ada barang langsung laku dijual dapat duit.

Tidak mudah mendapatkan orang berduit yang punya visi dan memahami cita-cita bisnisnya. Sampai akhirnya peruntungan pun didapatkan dari SoftBank Ventures dan Sequioa Capital. Ini melengkapi investor-investor sebelumnya yang nilainya jauh lebih kecil.

Divestasi saham perusahaannya itu pun sempat mendapat sentilan dari Menkominfo Rudiantara. Dalam sebuah dialog di Kantor Menkominfo, Rudiantara sempat berpesan agar jangan mudah menjual perusahaan Indonesia ke asing. Kalau bisa dimiliki Indonesia. Secara tak langsung ucapan yang disampaikan ke para pemain start-up lokal itu sempat membuat tidak enak William.

"Saya bukan anti dengan investor lokal, tapi saya ketuk satu per satu orang-orang kaya Indonesia untuk membiayai bisnis ini, mimpi ini, tapi susah minta ampun dan tidak ada yang yakin," kata William. Justru dia mempertanyakan, kenapa malah investor asing yang menangkap potensi ini? Di sinilah penulis menangkap, ada banyak hal yang bisa diangkat dari cerita anak muda ini yang mungkin menginspirasi sehingga layak disampaikan di kolom inspira kali ini.

Di balik gelontoran dana itu, di depan para pemain start-up dan Menkominfo Rudiantara, William pun menyampaikan apa yang menjadi cita-citanya. Disadari bahwa dia ingin menunjukkan ke dunia, bahwa siapapun yang memiliki mimpi dan gagasan besar, akan ada jalan yang membukanya. Keyakinan bahwa Indonesia bisa dan tak kalah dengan negara-negara lain di dunia ini, sangat besar di dadanya. Dengan membangun perusahaan yang berada di Indonesia, dan menghasilkan produk bagus, akan membuat bangsa Indonesia diperhitungkan, dan pendapatan rakyat akan meningkat, karena banyak profesional IT yang bekerja layak.

Otomatis peningkatan pajak buat negara akan meningkat. Untuk ke sana, harus dimulai. "Huawei satu dekade memulai, sekarang memetik hasilnya. Samsung juga begitu, memulai dan sekarang hebat. Indonesia harus bisa!"

Negara kita, kata dia, butuh success story. Seperti halnya cerita sukses Silicon Valley. Dulu ketika Jerry Yang (Yahoo) sukses, semua ingin meniru suksesnya. Maka lahirlah Google dengan Sergey Brin dan Larry Page yang dahsyat. Kemudian jadi sukses berikutnya adalah Mark Zuckerberg dkk yang membesut Facebook, juga Twitter dan seterusnya hingga WhatsApp (Jan Koum). "Kita harus membuat banyak success story di negeri ini," kata William.

Sukses Jack Ma, pendiri Alibaba juga melecut dirinya bahwa seorang guru bahasa inggris juga bisa sukses dan masuk deretan orang terkaya dunia dan saham Alibaba laris manis, indeksnya meroket. Contoh sukses itu penting buat siapapun. Indonesia juga harus punya contoh sukses. "Satu orang menunjukkan gunung bisa didaki, maka akan ada orang orang lainnya yang lebih percaya bahwa gunung tersebut bisa didaki," ujarnya berfalsafah.

Mimpi besar dari William adalah membawa spirit Silicon Valley ke Indonesia. Tujuannya agar talent IT Indonesia semakin hebat. Strateginya adalah, dengan dana segar yang didapatkannya, dia akan memboyong profesional top dari Sillicon Valley untuk bekerja di Tokopedia. Mereka bukan sekadar bekerja, tapi diharapkan akan menjadi mentor. Pada saat yang bersamaan, direkrut besar-besaran talent fresh graduated yang bekerja bersama profesional hebat yang sekaligus mentor.

Dengan demikian diharapkan akan menghasilkan banyak talent berkualitas di masa depan yang akan menghasilkan karya berkualitas juga. Dia menyebutnya dengan program Tech Talent Indonesia. Bagi William, Tokopedia bukan sekadar perusahaan e-commerce. "Tapi kami adalah perusahaan internet yang membantu orang Indonesia untuk melakukan e-commerce dengan mudah dan gratis!" ***

*) Penulis adalah COO KapanLagi Network (KLN), Sekjen APJII, Co-Founder Binokular Media Utama [tts]

Topik berita Terkait:
  1. Kolom Inspira
  2. Jakarta
  3. Kolom Merdeka
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini