Wawancara merdeka.com dengan Lei Jun, Founder and CEO Xiaomi Global

Senin, 25 Desember 2017 07:31 Reporter : Syakur Usman
CEO Xiaomi, Lei Jun. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Indonesia ditegaskan menjadi pasar inti bagi Xiaomi, vendor teknologi asal China, setelah sukses di pasar China dan India. Penegasan ini diungkapkan sendiri oleh Lei Jun, pendiri sekaligus chief executive officer (CEO) Xiaomi Global, di Jakarta, dua hari lalu (20/12), usai menghadiri peluncuran smartphone anyar, Redmi 5A.

Meski baru 7 tahun sebagai korporasi, Xiaomi berhasil masuk kelompok lima besar smartphone di dunia per kuartal III tahun ini dengan pangsa pasar 7 persen atau pengiriman 28 juta unit. Kenaikan pangsa pasar ini, dari 3,9 persen di tahun lalu, menjadikan Xiaomi sebagai vendor smartphone dengan pertumbuhan tertinggi di dunia.

Di Indonesia sendiri, perlahan tapi pasti, pangsa pasarnya juga bergerak naik. Buktinya di kuartal III tahun ini, Xiaomi berada di peringkat ketiga, setelah Samsung dan Oppo. Jadi, tak heran bila Mr Jun menyempatkan diri kembali ke Jakarta hanya dalam tempo tiga bulan.

Usai menyaksikan langsung peluncuran Redmi 5A dan kehebohan Mi Fans Indonesia di Jakarta, Jun bersedia menerima wawancara terbatas dengan beberapa media nasional, termasuk M Syakur Usman dari merdeka.com, di satu hotel di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Berikut petikannya:

Anda menyatakan target penjualan smartphone Xiaomi di dunia 100 juta unit pada 2018. Bagaimana kontribusi pasar Indonesia terhadap target global tersebut?

Ya, target smartphone Xiaomi di 2018 adalah 100 juta unit. Ini sebenarnya target mudah, sebab pada tahun ini saja, hasil penjualan smartphone Xiaomi mencapai 90 juta unit. Ini target ringan. Namun, yang kami pedulikan bukan penjualan sebenarnya, tapi kepuasan dan kesetiaan pelanggan terhadap produk kami.

Di Indonesia, kami targetkan penjualan smartphone Xiaomi bisa tembus 10 juta unit di 2018. Harapan saya sebenarnya, dalam 2-3 tahun mendatang, Xiaomi bisa menjadi nomor satu di Indonesia.

Xiaomi sukses di pasar China dan India yang menjadi nomor satu dengan pangsa pasar 23,5 persen menurut IDC. Apakah Anda akan mengadopsi strategis sukses India ke Indonesia?

Pengalaman kami berbisnis di China dan India, pasti akan digunakan dan disesuaikan dengan kondisi pasar Indonesia. Misalnya, pasar Indonesia kami nilai masih berada dalam masa peralihan, dari tradisional menuju smartphone. Maka itu, kami banyak effort untuk memproduksi Redmi 5A, smartphone entry level dengan spesifikasi terbaik di kelasnya tapi harganya lebih murah dari pesaingnya. Ini salah satu cara kami di pasar Indonesia. Pada saatnya, kami juga akan meluncurkan produk-produk flagship di Indonesia.

Ini kali kedua Anda ke kembali Indonesia hanya dalam tempo tiga bulan. Apa pendapat Anda terhadap pencapaian Xiaomi di Indonesia saat ini?

Ya, ini kali kedua ke Indonesia, setelah yang pertama tiga bulan lalu.
Kami sudah memastikan Indonesia sebagai pasar inti bagi Xiaomi. Dalam peluncuran Redmi 5A di Jakarta, banyak petinggi hadir, dari semua divisi. Hasil Xiaomi saat ini sangat memuaskan bagi kami. Berdasarkan data GFK, kami berada di peringkat ketiga di Indonesia.

Bukti lainnya, tiga bulan lalu tim Xiaomi Indonesia hanya 9 orang, kini 44 orang. Kami akan tambah investasi di Indonesia dan membuat fasilitas riset dan pengembangan (R&D) di Indonesia, termasuk komponen lokal. Tapi kami juga memiliki tantangan di Indonesia.

Apa saja itu?

Tantangan pertama, bagaimana caranya agar masyarakat Indonesia lebih mengenal produk Xiaomi. Ini hal sulit, sebab umumnya di benak konsumen, barang yang dijual murah, kualitasnya biasanya kurang bagus. Pada 7 tahun lalu, saya mendirikan Xiaomi, prinsip saya adalah menjual produk bagus dengan harga modal kepada pengguna di seluruh dunia.

Atas dasar itu, kami sukses besar di China. Tiga tahun lalu, kami masuk ke pasar India. Saat ini kami menjadi pemain smartphone nomor 1 di India. Strateginya ada 4, yakni mendesain lebih baik, memberikan user experience lebih baik, memiliki kualitas lebih baik, tapi harga jual produknya hanya setengahnya. Seperti Redmi 5A, dibandingkan produk dengan penjualan No 1 dan 2 di Indonesia, produk kami lebih baik tapi harganya hanya separo (Redmi 5A hanya dijual Rp 999 ribu, sedangkan pesaingnya di level harga Rp 1,6-1,9 juta).

Saya juga melihat Android di Indonesia masih ada yang di bawah 1 GB, produk Xiaomi paling kecil 2 GB, tapi bisa dijual di bawah Rp 1 juta, ini luar biasa.

Kenapa bisa menjual harga separuhnya?

Karena model bisnis Xiaomi adalah kami berusaha menekan biaya sehingga bisa menjual produk dengan harga modal. Kami tidak mencari laba dari perangkat keras atau hardware. Dengan begitu, kualitas produk kami baik dengan harga kompetitif.

Seperti Redmi 5A, kami bisa menjual di bawah Rp 1 juta di Indonesia, ini berkat kerja sama dengan mitra kami, seperti Qualcomm, Indosat Ooredoo, Erajaya Grup, dan Lazada. Padahal tiga bulan lalu, saat saya utarakan ide ini, sulit percaya juga bisa terjadi.

Sebab, masalah pertama yang dihadapi, bagaimana meyakinkan konsumen produk bagus bisa dijual semurah ini. Tantangan kedua, masuk ke pasar Indonesia, membutuhkan tenaga kerja ahli di Indonesia. Maka itu, kami butuh bantuan media untuk mengiklan bahwa kami butuh banyak orang-orang hebat Indonesia bergabung di Xiaomi.

Jika strateginya menjual perangkat keras dengan harga modal, bagaimana Xiaomi mendapat profit?

Model bisnis Xiaomi sangat inovatif. Simpel-nya, kami tidak mencari untung dari penjualan perangkat keras atau hardware, karena selalu dijual dengan harga modal. Lantas labanya dari mana? Ya, dari sistem dan pelayanan yang diberikan. Secara global, pendapatan Xiaomi sebanyak 70 persen dari smartphone, 20 persen IoT, dan sisanya dari bisis internet atau online.

Di Indonesia, kami mulai dulu dari bisnis smartphone. Kemudian IoT, dan juga bisnis online. Kami akan menjalankan model bisnis Xiaomi di China seutuhnya secara bertahap di Indonesia.

Setelah menjual produk hanya online, Xiaomi mulai serius garap pasar offline dan bahkan tampak agresif di Indonesia?

Toko resmi Mi Store di Indonesia ditargetkan hingga akhir 2018 mendekati 100 toko. Harapannya, produk kami bisa dibeli secara online dan offline. Jadi konsumen lebih mudah membeli. Saya menjamin, produk Xiaomi, berapa pun harga jualnya, kami jamin pelanggan dapat kualitas terbaik. Saat ini, di akhir tahun ini, jumlah Mi Store di Indonesia masih belasan toko.

Di Indonesia, kami putuskan meningkatkan investasi. Namun, nilai pastinya masih dalam pembahasan, nanti disampaikan jika sudah pasti.

Terkait hak paten, Xiaomi memiliki 4.500 hak paten, sedangkan dalam proses pendaftaran ada 17 ribu hak paten. Soal inovasi teknis, Xiaomi banyak berinvestasi dan menghargai hak cipta intelektual. Kami juga banyak kerja sama dengan berbagai pemegang hak cipta.

Contohnya, smartphone full screen, Xiaomi lah yang pertama meluncurkan di dunia lewat model Mi MIX pada 1,5 tahun lalu. Bahkan produk Mi MIX dapat banyak penghargaan dan ditempatkan di museum di Finlandia dan Jerman, lantaran dinilai menciptakan revolusi bagi industri smartphone.

Mengenai teknis pengembangan seperti ini, kami terdepan di dunia. Pada 2018, kami akan memasukkan produk unggulan atau flagship. Saya jamin kualitasnya sama, tapi dengan harga setengah dari harga pasar.

Selain smartphone, Xiaomi juga memprodusi perangkat internet of things (IoT). Model IoT apa yang akan diluncurkan di 2018?

Saat ini kami sedang membahas produk apa yang diluncurkan di Indonesia. Mungkin kami akan luncurkan TV dengan tingkat komponen lokalnya pasti akan dipenuhi sesuai peraturan pemerintah.

Bagaimana pandangan Anda terhadap kebijakan komponen lokal di Indonesia?

Kami senang bekerja sama dengan vendor-vendor lokal untuk mendorong industri ini di Indonesia. Saya percaya produsen mana pun ingin memberikan produk terbaik dengan harga terbaik pula.

Pada tahun depan, kami luncurkan produk-produk inovatif di Indonesia. Strategi lainnya, kami akan meneliti kondisi unik dan menciptakan produk khusus yang sesuai dengan orang Indonesia sehingga lebih cocok.

Seperti apa prinsip usaha Anda di Xiaomi?

Xiaomi dan saya punya prinsip utama, yakni ingin berteman dengan para pelanggan. Maka itu, kami harus mendapat kepercayaan supaya bisa menjadi teman yang lama.

Saya sendiri sudah berbisnis selama 28 tahun di semua sektor di China. Dari pengalaman itu, pelajarannya adalah harus mendapat kepercayaan dan dicintai oleh pelanggan. Karena hanya dengan benar-benar menganggap pelanggan sebagai teman, maka terjadi persahabatan sejati.

Hari ini saya sangat terharu, Xiaomi belum lama masuk indonesia, tapi banyak teman-teman mendukung produk kami. Kami banyak produk keren, yang pelan-pelan akan dimasukkan ke Indonesia.

Pada 10 tahun lalu, saya berada dalam posisi setengah pensiun. Saat itu, berusia 40 tahun, saya merasa punya kesempatan berbuat lebih banyak bagi konsumen. Saat itu, saya bertekad mendirikan Xiaomi untuk membantu mengubah industri manufaktur. Intinya, menggunakan cara internet untuk mengubah industri manufaktur, baik dari sisi desain, kualitas, hingga harga jual.

Saat didirikan, Xiaomi di-setting sebagai perusahaan global. Maka itu, kami ikuti regulasi pembuatan komponen lokal di India dan Indonesia, supaya kami mendapat kesenangan dari konsumen negara tersebut. Saya katakan, Xiaomi adalah perusahaan terakhir yang saya dirikan. Jadi kami harus bisa pastikan menjadi perusahaan global dan membantu orang-orang di seluruh dunia.

Apa pandangan Anda terhadap toko online yang menjual produk Xiaomi secara ilegal?

Kami akan bekerja sama dengan aparat keamanan untuk menekan produk ilegal atau black market dan bersama-sama berbisnis secara legal di sini. Di Indonesia, kami punya service center resmi yag sangat bagus dan jaminan kualitas. Maka itu, kami imbau konsumen membeli produk resmi sehingga bisa mendapat layanan servis yang lebih baik saat ini. [did]

Topik berita Terkait:
  1. Wawancara Eksklusif
  2. Xiaomi
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.