Wawancara eksklusif merdeka.com dengan Presdir PT Mandiri Utama Finance

Selasa, 12 Desember 2017 07:02 Reporter : Syakur Usman
Presiden Direktur PT Mandiri Utama Finance Stanley Atmadja. ©2017 Merdeka.com/Syakur Usman

Merdeka.com - PT Mandiri Utama Finance (MUF) adalah anak usaha PT Bank Mandiri Tbk sejak dua tahun lalu. Bergerak di bisnis multifinance, MUF memberikan pembiayaan lengkap. Mulai dari produk otomotif (mobil dan motor) hingga multiguna seperti pendidikan, liburan, modal kerja, dan sebagainya.

Saat ini MUF dipimpin oleh Stanley Atmadja, seorang pengusaha yang sangat terkenal di dunia otomotif. Sepak terjangnya selalu bersinggungan dengan dunia otomotif. Terkenal sebagai pengusaha sukses yang mendirikan PT Adira Finance, perusahaan pembiayaan otomotif, dan pemilik Asco Automotive; diler mobil Daihatsu, Isuzu, dan Peugeot (Asco, salah satu pemegang saham di MUF bersama Bank Mandiri dan PT Tunas Ridean Tbk).

Banyak orang juga mengenalnya sebagai 'The real enthusiast car' di Indonesia, lantaran hobinya mengoleksi dan merestorasi puluhan mobil klasik merek Ferrari, Jaguar, dan sebagainya. Salah satu koleksi istimewanya adalah Dino 246 GTS, mobil sport produksi tahun 1969-1974. Dino 246 GTS masuk dalam 10 mobil sport terbaik era 1970-an, bahkan masuk kelompok 10 mobil Ferrari terbaik sepanjang masa.

Bagaimana perkembangan bisnis MUF hingga dua tahun berjalan dan proyeksinya di 2018, M Syakur Usman dan M Lutfhi dari merdeka.com, mewawancarai Stanley di ruangannya yang dipenuhi segala benda bernuansa otomotif termasuk satu unit sepeda motor special edition, Vespa 946 Emporio Armani. Berikut petikannya:

Bagaimana perkembangan usaha MUF hingga kuartal III tahun ini?

Supaya kelihatan trennya, saya sampaikan sejak MUF berdiri. Pada 2016, kami punya target pembiayaan Rp 3 triliun dengan realisasi Rp 2,9 triliun. Itu tahun pertama MUF beroperasi. Kami baru full operasi pada Februari 2016, setelah persiapan pada 2015, termasuk meresmikan kantor pusat di sini (Menara Mandiri I). Saat itu cabang baru dimulai, rekrutmen juga. Jadi pada 2016 kami lebih banyak persiapan kapasitas untuk tahun ini, dalam hal jumlah network dan rekrutmen orang.

Pada tahun ini, dengan persiapan lebih matang, cabang lebih banyak, sumber daya manusia lebih banyak, dan cakupan wilayah bertambah, kami targetkan pembiayaan Rp 7,3 triliun. Ada kenaikan signifikan dari Rp 2,9 triliun pada tahun lalu. Kenaikan ini tidak akan menyebabkan overheat, tapi sejalan dengan kapasitas produksi, yakni dari sisi cabang, man power, cabang, dan meluasnya wilayah jangkauan.

Pertengahan tahun lalu kami konsentrasi di Pulau Jawa, sedangkan tahun ini mulai merambah ke luar Pulau Jawa. Porsinya 60:40. Sehingga kenaikan signifikan karena itu tadi.

Target pembiayaan Rp 7,3 triliun itu bisa dicapai tahun ini?

Kami optimistis, karena berdasarkan target per bulan yang berhasil dicapai. Per kuartal III tahun ini, pembiayaan kami lebih dari Rp 5 triliun. Melihat kuartal IV sudah mendekati, jadi optimistis dicapai sih.

Tapi industri otomotifnya sedang stagnan? Ya, dari sisi industri otomotif, pertumbuhannya 2-3 persen, sehingga kue yang tersedia tidak tambah. Sementara MUF masih perlu volume atau pertumbuhan. Kalau dilihat lebih detail, coverage area akan beri kesempatan untuk tumbuh.

Diler-diler otomotif itu kan punya satu kelompok, sehingga kami masih kebagian karena punya relasi cukup baik dan sudah dikenal diler-diler. Jadi pertumbuhan kami di tengah industri otomotif yang stagnan, karena coverag area yang melebar.

Kedua, kami punya sumber pasar dari Bank Mandiri. Karena konsepnya begini, Bank Mandiri memberikan pembiayaan khusus core bisnis. Di luar itu, seperti kendaraan, bisa sinergi dengan MUF. Jadi ada pasar yang datang bukan dari diler, tapi pasar fleet dari nasabah Bank Mandiri yang jumlahnya kini lebih dari 20 juta nasabah.

Kami sebut pasar nasabah Bank Mandiri sebagai captive market. Saat ini porsinya hampir 15 persen dari pembiayaan MUF. Kami akan kembangkan terus pasar captive ini karena Bank Mandiri ada di seluruh Indonesia, dengan total cabang 2.617 unit.

Caranya, kami membangun cabang yang mendekat ke cabang Bank Mandiri. Inilah satu kekuatan dan strategi yang susah dimiliki multifinance lain, yakni kami punya induk usaha bank besar dengan database besar. Itu yang membuat kami membuat strategi yang berbeda; ada yang reguler dan captive.

Di captive, kami juga akan kerja sama dengan Bank Syariah Mandiri (BSM), anak usaha lain Bank Mandiri. Kami akan memiliki unit usaha syariah (UUS) di Januari 2018. Kami adalah BUMN multifinance pertama yang punya pembiayaan syariah.

Apa pertimbangan masuk ke pembiayaan syariah?

Karena funding syariah sangat besar dengan cost of fund sangat kompetitif. Kedua, produk yang ditawarkan sangat variasi. Ada kecocokan terhadap orang-orang yang menjadi customer BSM, sesuai dengan prinsip mereka. Jadi bakal ada satu pasar lagi. MUF punya marketplace yang tidak dimiliki multifinance lain.

Setoran modal minimal Rp 25 miliar sudah dilakukan, dewan pengawas syariah (DPS) sudah dibentuk. Harapannya, Januari punya UUS. Jadi ada MUF syariah, kami anak usaha BUMN yang punya multifinance syariah pertama di Indonesia.

Bagaimana pandangan Anda terhadap iklim usaha di 2018 yang disebut tahun politik?

Sebagai pengusaha, harapan saya tahun politik tidak merusak ekonomi. Harusnya sih lebih baik dan tenang, karena pilkada serentak kan sudah pernah. Rakyat juga lebih pintar, antara tahun politik dan ekonomi itu berbeda, tapi tidak bisa dihindari. Jadi 2018 tantangannya berbeda dengan 2017, apalagi 2019.

Dengan perkembangan infrastruktur yang dibangun saat ini, hasilnya tidak langsung bagi perekonomian nasional. Setelah infrastruktur jadi, dampaknya sangat besar. Karena urat ekonomi akan berjalan lancar. Kesempatan orang berusaha tinggi, daya beli lebih kuat, karena biaya transportasi jadi lebih murah. Infrastruktur memberi kesempatan orang berbisnis. Lihat saja Jakarta-Bandung sebelum dan setelah ada jalan tol.

Ekonomi mengalir ke mana-mana. Pariwisata berkembang, dampaknya luar biasa. Lapangan kerja bertambah, produk lokal, hotel, dan restoran juga berkembang. Jadi dampak jangka panjang sangat bagus. Prediksi saya, setelah tahun politik, pada 2020 kita akan menikmati hasilnya.

Potret industri multifinance 2018 sendiri seperti apa? Saya kira kami tidak perlu pesimistis, tapi tidak perlu over agresif. Di 2018, kami targetkan pembiayaan Rp 10,1 triliun, dengan sumber pasar yang kami punya, penambahan 35 titik coverage area, sehingga pertumbuhan kami namanya natural growth. Bukan growth yang overheat, karena cabang yang ada dijaga produktivitasnya (saat ini baru 60-70 persen), sedangkan cabang yang baru menimbulkan produktivitas. Sinergi yang meningkat dengan Bank Mandiri dan BSM. Jadi penambahan Rp 3 triliun ini datang dari beberapa aspek tersebut.

Kami adalah multifinance yang lengkap; ada pembiayaan untuk motor, mobil, dan multiguna. Lalu ada pasar regular, captive, dan syarirah. Ini modal MUF untuk berkembang.

Jadi, tetap ada peluang, tapi spirit ekspansi dari pebisnis agak sedikit ditahan. Namun, kebutuhan terhadap kendaraan, pengantian kendaraan, kan tidak bisa dihindari. Hemat saya, tidak perlu pesimistis, tapi jangan over agresif, karena kendaraan menjadi kebutuhan. Seperti perusahaan mesti ganti mobil operasional, ya harus ganti.

Jadi tahun politik tidak mengganggu semua orang atau perusahaan. Saat ini permintaan tertinggi masih datang dari Pulau Jawa. Namun, di luar Jawa mulai bergerak, karena harga komoditas mulai membaik, seperti batu bara, CPO, dan kelapa sawit. Mulai terasa perbaikannya, meski belum seperti sebelumnya.

Seperti Makassar di Indonesia Timur berkembang dengan baik, atau Medan dan Palembang di Indonesia Barat. Kami akan perhatikan perkembangan kota di luar Jawa yang potensial.

Bagaimana strategi Anda agar MUF tidak terkena kredit macet atau non-performing loan (NPL) tinggi?

Soal NPL, tidak bisa dilihat saat terjadi kredit. Ada namanya pra-kredit dan post-kredit. MUF sangat memperhatikan end to end tadi. Mulai dari proses rekrutmen, pemilihan diler, monitoring, underwriting, dan sebagainya. Semua kami awasi.

Salah satu hal terbaik bermitra dengan bank adalah kami terbawa dengan standar mereka yang sangat tinggi dalam segala aspek. Seperti meeting rutin harus ada, rapat gabungan ada, know your customer (KYC), internal audit, laporan keuangan masuk Bank Indonesia, dan lain-lain. Akhirnya kualitas operasi dan administration compliance kami tinggi sekali. PSAK begini, kami ikuti, karena semua di-benchmark dengan bank.

Laporan kami juga macam-macam. Mulai dari human capital, risk acceptance criteria (RAC), dan sebagainya, yang semua konsolidasi ke Bank Mandiri. Jadi setiap aspek dimonitor dengan ketat. Buat saya, ini sangat positif sehingga setiap direktorat akan ke bawa standarnya dan harus bisa mengikutinya.

Teknologi digital semakin dimanfaatkan oleh industri keuangan. Apa strategi besar Anda di MUF soal ini? Kami sudah kembangkan aplikasi mobile dengan nama MUF ON. Ini awal dari pemanfaatan teknologi MUF. Ini inisiatif kami. Aplikasi ini bisa diunduh oleh semua orang, dan akan mendapat insentif dari kami jika referensinya disetujui kami. Cuma yang download dan penggunanya belum optimal. Ke depan, kami akan bersinergi dengan aplikasi marketplace yang eksis. Pada saatnya, kami akan melakukan press conference tentang apa yang akan kami lakukan di era e-commerce.

Pertimbangannya, e-commerce sudah menjadi satu bagian dari kegiatan marketing dan sales. Ini tidak bisa dihindari. Sebagai perusahaan multifinance kami bisa melakukannya, bukan tidak bisa. Kami punya konsep yang segera kami garap. Mungkin pertama kali yang ada di Indonesia, aplikasi kami yang menggabungkan antara fintech dan non-fintech.

Saat ini kami tidak boleh underestimate. Setiap orang ingin semua tinggal klik di smartphone. Inilah yang sedang kami garap dan desain. Tidak pure fintech, tapi fintech plus marketplace. Platform ini berdiri sendiri. Dia tidak bisa di dalam MUF, bukan bagian dari operasional teknologi kami. Ini murni sales and marketing platform.

Dalam strategi jangka panjang Anda, kapan MUF melakukan go public/IPO?

Dalam pembicaraan dengan Bank Mandiri dan direksi, kami sempat mencetuskan itu (IPO). Ke depan, go public terhadap anak perusahaan yang sudah pantas harus dilakukan. Karena sangat baik untuk memperkuat positioning dan transparansi. Menurut saya, itu inisiatif bagus. Tinggal waktu yang tepat, kapan.

Bagi MUF, masih too early to think and to plan IPO. Tahun ini kami sudah positif, bahkan per Desember tahun lalu sudah profit. Berjalan di tahun kedua, kami sudah mencatat laba bersih lebih Rp 40 miliar. Cukup baiklah, meski belum signifikan. Ini tren positif. Kami harus memanfaatkan kesempatan yang ada. Sebab funding tidak ada masalah, relationship juga, karena bukan pemain baru di pasar. Harusnya apa yang dicapai sesuai dengan apa yang kami pu [did]

Topik berita Terkait:
  1. Wawancara Eksklusif
  2. Highlight
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini