Kolom Inspira

Sumpah "entrepreneur" pemuda

Selasa, 28 Oktober 2014 12:54 Penulis : Sapto Anggoro
Sumpah Museum Sumpah Pemuda. ©2014 merdeka.com/muhammad lutfhi rahman

Merdeka.com - Seorang mengirimi pesan pendek kepada saya. Om, kalau ndak ada ide, hari Sumpah Pemuda bisa dipakai untuk menyemangati anak muda mau dan berani mengambil posisi sejak muda untuk berjiwa wirausaha, entrepreneur. Menarik rasanya. Dan, sebenarnya banyak anak muda yang sebenarnya memiliki ide-ide segar yang bisa jadi karya besar.

Kita kenal dr. Gamal Albinsaid, dokter muda belum genap 30 tahun yang seorang dokter tidak tinggal diam, menciptakan ide di luar kotak, sebuah bank atau asuransi sampah. Yang ternyata dengan dahsyat menolong banyak orang miskin bisa berobat dengan cara membayar pakai sampah.

Di dunia internet, nama Kaskus yang dipandegani oleh Andrew Darwis dan Ken Dean Lawadinata mendirikan Kaskus ketika usia mereka baru 20-an tahun. Dan sekarang Kaskus jadi forum terbesar di Indonesia. Selain bekal pengetahuan dan cuma dengan 7 dolar AS, modal terbesar adalah ada di isi kepalanya: mental semangat, impian besar, dan ulet.

Banyak sekali contoh-contoh anak muda yang begitu mengilhami kita. Dengan semangatnya, keyakinannya, dan ketekunannya telah mengguncang dunia. Di era sekarang, era internet yang tanpa batas negara, siapapun di manapun bisa menciptakan ide besar dan menghasilkan karya yang memberi manfaat serta menguntungkan.

Apa hubungannya dengan hari Sumpah Pemuda? Kita tidak bicara orang-orang manca negara. Tapi bicara lingkup nasional. Bahwa pada saat Sumpah Pemuda digaungkan, tokoh-tokoh yang memandegani adalah mereka yang masih di usia 20-an tahun. Para pejuang dan pemikir bangsa muda pada saat 28 Oktober 1928 sepakat melaksanakan Kongres Pemuda Kedua yang menyatukan ide kaum muda dari berbagai latar belakang dalam bingkai "satu Indonesia".

Kongres ini melibatkan berbagai organisasi pemuda yang ada, seperti PPPI Jong Java, Jong Soematranen Bond, Jong Celebes, dan lain-lain. Pemuda saat itu yang terlibat, Amir Sjarifuddin, WR Soepratman, Muhammad Yamin, J. Leimena, Kartosuwiryo, Sugondo Djojopuspito, dan lain-lain. Semangat menyatukan bangsa dan mengarahkan kekuatan untuk memerdekakan Indonesia.

Setelah merdeka, kewajiban kita adalah mengisinya. Dengan memerdekakan bangsa Indonesia dari segala ketergantungan dan belenggu dari pihak lain. Pemuda saat dulu, karena situasinya yang berbeda, tentu saja berbeda dengan pemuda saat ini dalam mengisi kemerdekaan. Orang seperti Gamal telah terbukti membebaskan masyarakat miskin dari ketergantungan dan kepapan secara terencana dengan programnya pengobatan murah dengan asuransi sampah. Andrew dan Kaskusnya telah tanpa banyak bicara, memberikan mata pencaharian sekitar seratusan karyawan dan konten FJB (forum jual belinya) telah dimanfaatkan secara gratis oleh masyarakat yang jual beli (transaksi).

Memaknai semangat sumpah pemuda, yang digagas para pemuda pendiri bangsa, saat ini tentu bukan perkara mudah. Beda situasi dan kondisi serta musuh. Bagi pemuda saat ini, mungkin perlu semangat untuk berkarya, lebih kreatif, dan akan sangat membanggakan bila bersumpah juga untuk berwirausaha (entrepreneur).

Penulis jadi ingat seorang pemuda yang kebetulan bekerja di sebuah perusahaan, mengeluhkan sesuatu. Dia mengundurkan diri dari perusahaan lama karena ingin usaha sendiri. Dia ingin bisnis yang dia yakini bisa mengubah hidupnya ke depan lebih baik. Meski dia sudah mengundurkan diri, tapi ingin mendapatkan pesangon dari perusahaan lama. Waktunya habis untuk mengurus itu sementara rencananya jadi tidak fokus mendevelop bisnisnya yang perlu detil. Dengan santai saya katakan, pola pikir dan semangat dia salah. Sudah harus berubah untuk menjadi entrepreneur. Jangan cuma membuang waktu untuk pesangon, meski tidak salah, tapi kalau mundur tentukan sikap: Saya bersumpah untuk wirausaha, dan akan menjadi entrepreneur hebat kelak! Tanpa sumpah dan semangat, akan sia-sia niatan baik itu.

Setahun berselang, pemuda itu datang dan bilang, bahwa usahanya jalan baik, karena dia berhasil fokus ke langkah ke depan. Lalu saya pun ditraktirnya sambil mendengar lika-liku usahanya yang menarik. *** [tts]

Topik berita Terkait:
  1. Jakarta
  2. Kolom Inspira
  3. Kolom Merdeka
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini