Tentara dan candu hobi utak-atik pesawat sendiri

Pagi sampai siang mengikuti pendidikan militer, malamnya dia coba menerapkan ilmu program aeromodelling.

Pramirvan Datu Aprillatu
Tentara dan candu hobi utak-atik pesawat sendiri
Djubair Oemar Djaya. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Sebenarnya dunia militer tak membawa Djubair Oemar Djaya pada dunia penerbangan seutuhnya. Ilmu merakit pesawat yang diperoleh Djubair justru hasil mencuri ilmu pada program penyebaran minat dirgantara bagi masyarakat umum di bawah naungan angkatan udara.

Bahkan, bakatnya lebih tersalurkan pada program itu ketimbang pendidikan militernya di lokasi sama. Menurut Djubair, justru program itu lah awal penempaan kemampuannya di dunia pesawat terbang.

Program yang rata-rata diikuti masyarakat sipil dengan hobi aeromodelling itu dimentori kalangan militer dengan spesialisasi olahraga udara. "Di sana saya lebih sering melirik ke kelas itu, secara resmi saya ikut pendidikan, tapi waktu senggang saya ikut kursus itu," kata bapak dua anak itu kepada merdeka.com di rumahnya, Tangerang, Banten, pekan lalu.Selama bergaul bersama teman-teman sesama penghobi aeromodelling itu, dia menemukan jawaban-jawaban kunci dalam literatur tua tentang perakitan pesawat swayasa yang dia baca sejak mengikuti program tersebut. Pagi sampai siang mengikuti pendidikan militer, malamnya dia coba menerapkan ilmu program aeromodelling dengan mempelajari seluk beluk burung besi itu dengan leluasa.Pada 1964, lulus dari pendidikan militer, Djubair hijrah ke Jakarta. Dia ditempatkan pada Markas Besar Angkatan Udara (MBAU) di Pancoran dan menetap di rumah dinas di Halim Perdanakusuma.Djubair tercatat sebagai salah satu inisiator berdirinya klub aeromodelling dengan anggota berasal dari berbagai kalangan. Klub ini juga didukung oleh kesatuannya dengan misi memasyarakatkan minat dan bakat sesuai dengan program dirgantara tadi. "Saya juga masih minim pengetahuan soal dunia terbang tadi," ujarnya.Dari kegiatan olahraga terbang, Djubair melihat kekecewaan pada hobinya tersebut sebab banyak kendala, mulai dari rusaknya mesin pesawat sampai mahalnya tarif penerbang dan mekanik pesawat. "Bisa berjuta juta buat sekali reparasi sama bayar penerbang buat menarik pesawat layang," ujarnya dengan mimik kesal. Tapi karena kendala-kendala itu membuatnya memutar otak dan belajar sendiri, hingga akhirnya mampu menggarap sendiri pesawat-pesawat yang rusak. "Itu masih perbaiki sendiri, belum merekayasa pesawat, dulu semua literatur dicari dari perpustakaan ke perpustakaan, kadang cari ke kedutaan besar juga sering," ujarnya.Selepas pendidikan kedirgantaraan, Djubair yang lebih dikenal sebagai praktisi perakitan pesawat itu pernah tercatat sebagai instruktur di beberapa sekolahan, yakni Sekolah Instruktur Terbang Layang pada 1970, Sekolah Penerbang PPL PT Deraya pada 1974 serta Sekolah Penerbang Kelas III TNI-AU pada 1975.Dari candu hobi pada dunia olahraga terbang itu, mengasah bakat dan kemampuan Djubair mengutak-atik pesawat sampai bisa merakit pesawat swayasa sendiri. "Dari situ saya bisa tahu bagaimana mesin pesawat, teknik merakit dengan pesawat berbahan dasar kayu," katanya.

Rekomendasi