Berburu tahi besi

Dua minggu bekerja, Siti bisa memperoleh 3-5 kilogram tahi besi.

Pramirvan Datu Aprillatu
Berburu tahi besi
Kapal tua tengah dimutilasi di Cilincing, Jakarta Utara. (merdeka.com/imam buhori)

Lima perempuan tua terlihat bertopi caping ala petani untuk berlindung dari sengatan matahari. Semua membawa keranjang plastik dengan besi pendek sebagai pengait. Mereka berbondong-bondong mencari bongkahan besi karat atau biasa disebut tahi besi di sekitaran lokasi belah kapal bekas di Cilincing, Jakarta Utara.Para pemburu tahi besi rela merendam badannya hingga sebatas leher sekadar memungut bongkahan besi di dasar laut. Atau mencari di bekas kapal sudah terendam air.

"Kalau tahi besi nggak apa-apa diambil memang sudah biasa cari, lumayan buat dijual lagi sekilonya Rp 2.500," kata Siti kepada merdeka.com di lokasi kemarin.Tahi besi ukurannya kecil, hanya sebesar ibu jari. Bentuknya tidak beraturan. Biasanya sudah berkarat dan tersebar di bongkahan-bongkahan besi di sekitar kapal. Tahi besi juga dihasilkan dari sisa-sisa pemotongan besi di atas kapal dan berjatuhan ketika bongkahan besi ditarik ke daratan. "Nggak banyak dapatnya, seharian belum tentu sekilo.
Dikumpulin dulu sampai banyak baru dijual ke tampungannya," ujar wanita 57 tahun itu.Siti dan pemburu tahi besi lainnya biasa mencari secara bergerombol. Dia mengaku selama ini mampu menambah penghasilan suaminya bekerja buruh serabutan. Dalam dua minggu bekerja, dia bisa memperoleh 3-5 kilogram tahi besi. "Itu juga tidak menentu Mas, soalnya susah carinya. Kecil-kecil," tuturnya.Panasnya terik matahari di pinggiran pantai tak membuat jera pencari tahi besi. Walau hanya sisa proses pembongkaran kapal tua, setitik besi pun bisa mendatangkan rezeki bagi Siti dan teman temannya.

Rekomendasi