Negeri ini jadi mengerikan

"Semuanya saya coblos, orang saya nggak kenal. Saudara bukan, teman bukan," katanya seraya tertawa.

Arbi Sumandoyo
Oleh Arbi Sumandoyo - Reporter
Negeri ini jadi mengerikan
Marjinal. facebook.com

Lihatlah negeri kita

Yang subur dan kaya raya

Sawah ladang terhampar luas

Samudera biruTapi rataplah negeri kita

Yang tinggal hanyalah cerita

Cerita dan cerita, terus cerita…(cerita terus)Reffrain:

Pengangguran merebak luas

Kemiskinan merajalela

Pedagang kaki lima tergusur teraniayaBocah-bocah kecil merintih

melangsungkan mimpi di jalanan

Buruh kerap dihadapi penderitaanInilah negeri kita

Alamnya kelam tiada berbintang

Dari derita dan derita menderita…(derita terus)Sampai kapankah derita ini (au-ah)

Yang kaya darah dan air mata

Yang senantiasa mewarnai bumi pertiwiBegitu lirik dari Marjinal di album Partai Marjinal dirilis pada 2009. Realitas kehidupan coba dituangkan ke dalam lagu-lagu mereka. Meski Orde Reformasi sudah satu dasawarsa, namun nyatanya rakyat masih menderita hingga

Berganti dari rezim fasis dan rasis era Orde Baru, Indonesia justru dinilai lebih menderita. "Banyak tragedi, perang saudara, buruh diperas, dieksploitasi, rumah sakit dan pendidikan begitu komersial," kata Mike kepada merdeka.com Kamis pekan lalu. Mike mengaku kecewa dengan sistem demokrasi saat ini. Dia menganggap pemilihan umum sekadar transaksi kekuasaan. "Mau saat ini pemilihan presiden sama aja kalau sistemnya tidak diubah. Itu sama aja bohong."Bagi Mike dan Bob, pemilu tak ubahnya seperti mencari pasar. Ketika masa kampanye mereka berjualan dan ketika jadi mereka melupakan janji. "Sampai saat ini gue nggak rasain apa yang dilakukan presiden. Justru gue malah diasingin dengan dandan kayak gini," ujar Mike geram. "Kalau ada calon presiden mau buat komunitas kayak gini, menampung dan memberikan banyak makan anak-anak punk sampai 17 tahun, baru gue coblos."Meski demikian, Mike tidak pernah melarang anggota komunitas Taring Babi mencoblos. Dia juga melaksanakan hak pilihnya 9 April lalu. "Banyak yang tidak mengerti datang ke TPS untuk apa? Itu memilih nasib. Jadi jangan main-main datang ke TPS dan asal coblos," tuturnya. Mike mengaku datang ke TPS untuk menghormati mendiang ayahnya. "Semuanya saya coblos, orang saya nggak kenal. Saudara bukan, teman bukan," katanya seraya tertawa.

Rekomendasi