Alat deteksi malah bikin ragu

Alat pendeteksi itu tidak akurat.

Mohamad Taufik
Oleh Mohamad Taufik - Reporter
Alat deteksi malah bikin ragu
Alat pendeteksi longsor dari UGM. ©Dwikorita Karnawati dan Faisal Fathani

Longsor beberapa kali mengubur permukiman penduduk ketika musim hujan. Longsor teranyar terjadi awal bulan ini di Brebes, Jawa Tengah. Tebing setinggi 50 meter dengan lebar 10 meter di Jalan Raya Tonjong longsor setelah diguyur hujan terus menerus. Lalu bagaimana cara mendeteksi bencana ini?Sutopo Purwo Nugroho, Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengatakan sebagai langkah antisipasi memasang alat pendeteksi memang penting, misalnya alat pengendus longsor buatan dua peneliti dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta itu. ”Tapi memasang alat bukan satu-satunya,” kata dia.Terpenting adalah penyuluhan dan bantuan kongkret, misalnya dana untuk pembangunan tanggul, membangun pondasi penahan longsor, atau semacamnya. Bila hanya mengandalkan penyuluhan dan penanaman alat pendeteksi, warga sudah mulai kurang percaya.Misalnya teknologi deteksi dini longsor. Alat terlalu sensitif sehingga setiap hujan lebat dan sedikit retakan sirine tanda bahaya langsung berbunyi. Ketika sirine berbunyi, warga menjadi panik. Tapi longsor tidak terjadi. Contohnya pemasangan alat di Karanganyar.Suatu saat di sana ada warga menggelar pesta pernikahan. Rumah mereka di bawah lereng perbukitan. Pada saat bersamaan hujan turun deras dan sirine pendeteksi longsor berbunyi. Mendengar sirine, otomatis orang-orang berlarian menyelamatkan diri. ”Tapi ternyata tidak ada longsor. Itu sering terjadi,” ujar Sutopo.Sebab itu, di beberapa daerah kepercayaan masyarakat kepada alat mulai menurun. Sehingga masalahnya menjadi rumit. ”Saya pernah datang ke daerah-daerah itu, saya lihat tiang alat pendeteksi jadi patokan kambing, kabel-kabel alat dipotong, dan kawat sirine jadi tempat jemuran baju. Masyarakat belum siap.”Pembuatan alat itu juga tidak mempertimbangkan faktor psikologi warga. Bunyi sirine keras, namun akurasi lemah tidak malah membantu, tetapi menjadi pengganggu. Mayarakat di Banjarnegara, Jawa Tengah, mengeluhkan masalah-masalah itu. Kemudian warga di Karanganyar, Jawa Tengah. Wilayah permukiman warga memiliki kondisi tanah berbeda. Longsoran tanah di sana berjalan lambat dan butuh berhari-hari hingga perlahan-lahan rumah rusak.Beberapa kali sirine berbunyi tetapi longsor tidak terjadi. Akhirnya beberapa kampus datang melakukan penelitian di sana, sambil memasang alat pendeteksi berbeda-beda. ”Ada dari UGM, UNM, bahkan dari Jepang. Tetapi alat pendeteksi tidak ada yang tepat
Sejauh ini, BNPB baru memasang alat pencium longsor di sedikit daerah. “Dari total wilayah rawan, hanya satu persen dipasangi alat. Bagi pemerintah daerah pembelian alat tidak menjadi prioritas karena harganya mahal.”

Rekomendasi