Longsor menjadi momok mengerikan bagi warga bermukim di lereng-lereng bukit hingga pegunungan. Apalagi ketika hujan tiba. Curah hujan tinggi mendorong naiknya angka bencana ini. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya ada 270 kabupaten dan kota rawan longsor. Jumlah penduduk mendiami kawasan berbahaya itu mencapai 124 juta.Sejak November tahun lalu hingga kini tercatat 19 peristiwa banjir disertai tanah longsor dengan korban jiwa mencapai 21 orang. Bencana longsor tanpa banjir terjadi 73 kali dan telah merenggut nyawa 88 orang. ”Kami sudah melakukan penanggulangan, mulai dengan mengedukasi warga hingga memasang alat deteksi,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Humas BNPB, kepada merdeka.com, Jumat pekan lalu.Bicara teknologi pendeteksi longsor, ada baiknya melongok karya dua peneliti dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Profesor Dwikorita Karnawati dan Faisal Fathani. Keduanya membuat alat dilengkapi peranti ekstensometer mampu membaca potensi longsor dari rekahan permukaan tanah. Bila lebar rekahan berbahaya, sirine di rumah-rumah penduduk akan menjerit sebagai tanda bahaya.Dua dosen fakultas teknik itu sudah meneliti longsor sejak 2004. Namun minimnya dana berdampak pada penelitian dan pembuatan alat pendeteksi longsor pun mangkrak. Penemuan alat diawali dari kegelisahan Dwikorita usai membimbing empat mahasiswa program master dan doktor se-Asia Tenggara. Empat mahasiswa dibiayai JICA itu dibimbing Dwikorita meneliti longsor di Indonesia.Mereka juga dibekali lima set alat pendeteksi longsor buatan Jepang. Alat itu kemudian dipasang di bukit Menoreh, Kulon Progo, Yogyakarta, dikenal sebagai daerah rawan longsor. “Alat pendeteksi longsor itu rumit dalam penggunaannya, padahal jika dipasang di wilayah rawan longsor mestinya mudah dioperasikan warga sekitar,” ujar Dwikorita saat dihubungi secara terpisah.Bahkan ketika alat rusak mereka kewalahan karena sulit diperbaiki sehingga harus mengirim kembali ke Jepang. Apalagi harga peralatan cukup mahal. Dari pengalaman itu, Dwikorita mengajak Faisal Fathani, dosen Jurusan Teknik Sipil jebolan pendidikan doktor di Jepang tahun 2005 membuat alat pendeteksi sendiri. Alat dibuat lebih sederhana, namun teknologinya selevel dengan buatan Jepang.Gayung bersambut. Keduanya lantas mengajukan proposal riset untuk membuat alat serupa dengan alat pendeteksi dari Jepang, namun mudah dioperasikan oleh warga. Ternyata proposal disetujui oleh pihak Jepang. Setelah melalui penelitian lanjutan dan uji coba akhirnya alat pendeteksi longsor selesai. Ukuran alat utama 40 x 20 sentimeter, lebih besar ketimbang alat dari Jepang. Menurut dia, alat pendeteksi buatan Jepang memiliki sistem deteksi gerakan beberapa bagian sisi atau lateral dan vertikal tanah dianggap rawan longsor. ”Sedangkan alat ini (buatan Dwikorita dan Faisal) memiliki gerakan berputar untuk menerima informasi dari kawat dipasang,” dia menjelaskan.Fungsi utama alat untuk mendeteksi jarak retakan tanah. Kemudian dari ukuran retakan tanah itu bisa dijadikan patokan, apakah berpotensi longsor atau tidak. Dwikorita juga memasang kawat baja pada lokasi dianggap rawan longsor. Ukuran rekahan tanah akan dikirim oleh kawat ke alat deteksi. Bila lebar rekahan sudah mencapai 12 hingga 15 sentimeter, alat itu akan mengeluarkan suara bahaya dari sirine.Saat sirine menjerit berarti tanda bahaya akan terjadi longsor. Sirine bisa terdengar hingga radius setengah kilometer. Longsor di beberapa tempat di Jawa Tengah dan Yogyakarta membuat dua peneliti ini terpacu membuat alat pendeteksi dini ini. Kemudian pada 2010, alat sudah mulai dipasang di Desa Ledoksari, Karang Anyar, Jawa Tengah. Pengelolaan dan perawatan melibatkan masyarakat setempat.Melibatkan masyarakat menjadi penting karena pengetahuan mereka tentang potensi longsor dari alat itu sebagai masukan untuk penelitian lanjutan. “Dulu setingan alat itu, sirine berbunyi jika rekahan tanah 12 sampai 15 sentimeter, ternyata menurut warga angka itu aman dan diseting ulang oleh warga menjadi 5 sampai 7 sentimeter rekahan untuk potensi longsor,” kata dia.Lalu bagaimana pendapat BNPB? Sutopo mengatakan dari seluruh wilayah rawan longsor, baru satu persen dipasang alat ini. Ada beberapa pertimbangan, misalnya menyangkut harga alat mahal, antara Rp 100 juta hingga 150 juta. ”Alat mahal, tidak semua kepala daerah mampu membeli,” tuturnya Dwikorita.