Preman Jalanan di Jalur Tengkorak

Senin, 28 Juni 2021 07:03 Reporter : Ronald, Nur Habibie, Muhamad Agil Aliansyah, Henny Rachma Sari
Preman Jalanan di Jalur Tengkorak Preman pungli sopir truk kontainer di Tanjung Priok. ©2021 merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Menyusuri Jalan Cakung – Cilincing di Jakarta Utara. Lebih terkenal dengan sebutan jalur tengkorak. Karena tingginya angka kecelakaan di sana. Hari itu, Rabu 23 Juni 2021, sopir kontainer bisa melintas tenang. Biasanya, setiap kali terjadi kemacetan, ada saja sekelompok orang yang menjalankan aksi kriminal. Menyasar kontainer atau truk yang membawa muatan.

"Kalau mau lihat aksi kelompok Asmoro, tunggu saja saat macet di Jalur Cakung – Cilincing. Biasanya kalau macet pasti ada mereka," ujar seorang sopir saat ditemui di Pelabuhan Tanjung Priok.

Petang itu tidak ada aktivitas mencurigakan. Tidak ada aksi kejahatan jalanan. Tukang palak dan maling jalanan tidak menampakkan diri. Nama dan aksi kelompok mereka sudah cukup ternama. Mereka terkenal Kelompok Asmoro. Diambil dari Bahasa Jawa Asal Moro. Artinya Asal Datang.

Ada jejak sejarah berkaitan dengan aksi kejahatan di jalur ini. Pada periode tahun 1980-1990, banyak anak-anak kecil di jalur itu yang mencuri susu kedelai dari truk pengangkut. Susu dicuri untuk dijual kembali. Saat itu, harga susu kedelai tergolong mahal. Aksi itu terus terjadi. Hingga mengarah pada aksi kriminal berat hari ini.

"Ada tindakan-tindakan yang memeras, mencuri, perusakan," kata Kanit 3 Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya Kompol M. Iskandarsyah saat berbincang dengan merdeka.com, pekan lalu.

bongkar muat peti kemas

Mata mereka cukup tajam. Dari kejauhan sudah melihat sasaran tanpa dilengkapi tanda ‘bisnis pengamanan’. Tanda berupa stiker itu biasanya ditempel di kaca depan sopir atau pengemudi. Jadi lebih mudah dikenali. Tanpa tanda pengaman itu, sudah pasti mendapat gangguan. Mereka datang untuk menciptakan ketakutan. Membuat tidak tenang.

Aksi pencurian barang bawaan dilakukan ketika sopir lengah. Mereka cukup terlatih mengambil barang dengan cepat. Jika sopir menyadari aksi itu, mereka tidak segan mengancam. Kendaraan bakal dirusak kalau ada perlawanan dari sopir. Biasanya dilempari batu.

Sampai saat ini belum ada aksi kejahatan yang berujung pembunuhan. Mereka tinggal di sekitar Kawasan Tanjung Priok. Kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga dengan kehidupan sosial menengah ke bawah. "Ya di jalur itu mereka yang pegang," kata Iskandarsyah.

Mereka yang bergabung dengan kelompok Asmoro hanya perlu modal nyali besar. Karena tugas mereka menebar ketakutan kepada sopir angkutan barang. Kelompok ini bukan seperti mafia yang terorganisir. Lebih dikenal preman jalanan. Juga tidak dibekali senjata tajam.

Digaji untuk Menebar Ketakutan

Mereka terus tumbuh untuk tujuan menebar ancaman. Keberadaan mereka dipelihara. Hingga perusahaan pemilik muatan terpaksa berurusan dengan jasa pengamanan. Mereka yang tergabung dalam kelompok Asmoro dibayar bulanan oleh perusahaan jasa pengamanan yang diuntungkan dengan aksi pungli jalanan.

Mereka direkrut badan usaha resmi maupun tidak resmi. Untuk dijadikan senjata di jalanan. Modusnya, mereka diminta mengganggu kendaraan pengangkut logistik yang tidak dilabeli stiker dari perusahaan jasa pengamanan. Aksi ini terus dilakukan hingga perusahaan logistik menyerah. Saat itu, perusahaan jasa pengamanan datang. Seolah menawarkan solusi. Namun sesungguhnya pemalakan dengan cara 'elegan'.

"Sudah kalau mau aman datang saja ke PT ini. Nanti kita ini, PT pengamanan dan pengawalan. Bayarlah per kendaraan Rp50 Ribu sampai Rp100 Ribu," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus membeberkan modus perusahaan jasa pengamanan.

Satu perusahaan jasa pengamanan bisa mengantongi hingga Rp177 juta dalam sebulan. Untuk biaya pengamanan dari aksi preman jalanan. Dari penghasilan itu, perusahaan jasa pengamanan membayar anggota Asmoro. Per orang digaji Rp300 Ribu sampai Rp700 Ribu sebulan. Satu perusahaan jasa pengamanan biasanya mempekerjakan empat orang anggota Asmoro.

preman pungli sopir truk kontainer di tanjung priok

Nama Asmoro juga sudah tidak asing di telinga Ketua Umum Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia atau Dewan Penasehat Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI) Ilhamsyah.

"Asmoro sebutan untuk preman yang suka menodong, yang suka mengambil barang-barang sopir apa saja. Seperti terpal, kadang-kadang dongkrak, kadang-kadang aki," kata Ilhamsyah.

Karena aksinya itu, Asmoro juga familiar dengan sebutan bajing loncat. Nama Asmoro sudah dikenal lebih dari satu dekade. "Sebutan umum di Tanjung Priok semua orang menyebutnya Asmoro."

Taruhan Keberuntungan

Salah seorang sopir kontainer, Amin (50) tidak asing dengan mereka yang disebut kelompok Asmoro. Kebanyakan berusia muda. Perkiraannya, antara 15-20 tahun. Dia menyebutnya preman tanggung. Tanggung yang dimaksud mengarah pada usia. Di jalur tengkorak, Amin sering bertemu dengan mereka. Berbekal 25 tahun pengalamannya menjadi sopir barang muatan, Amin tahu persis cara mengatasi aksi premanisme jalanan.

Dari kejauhan Amin sudah bisa melihat jelas. Kelompok ini kerap berdiri di pinggir jalan. Menunggu mangsanya. Dia tidak pernah menutup kaca truknya. Ini salah satu caranya untuk meredam aksi mereka. Aksi persuasif dipilih Amin ketika berhadapan dengan para pemuda ini. Dia bicara apa adanya. Termasuk isi dompetnya yang tak seberapa nominalnya. Menjadi bagian dari negosiasi.

"Tinggal bagaimana kita menghadapi anak-anak seperti itu. Ibaratnya harus ada keberanian dari kita karena kalau kita pasrah jadi sasaran empuk, bisa dimanfaatkan. Itu bagaimana komunikasi kita dengan mereka," katanya.

Dari cerita sesama sopir, ada beberapa di antara preman jalanan ini yang nekat membawa senjata tajam. Biasanya pisau. Pernah ada kejadian sopir ditikam. Ada trauma di kalangan sopir. Bagi kalangan sopir, melintas di jalur itu seperti bertaruh keberuntungan. Jika nasib sial menghampiri, tindakan kekerasan dialami. Sebaliknya, jika berhasil negosiasi, sopir bisa lolos dari cengkeraman mereka.

"Ya tinggal bicara tentang apes. Kalau dia nasibnya baik, ada preman yang minta maaf dan mau mengerti," ucapnya.

pelabuhan tanjung priok

Nama Asmoro biasanya hanya sebutan di kalangan sopir. Dulu lebih dikenal dengan nama Bajilo. Alias bajing loncat. Untuk memudahkan memberi kode pada sesama sopir, digunakanlah singkatan Asmoro.

Aksi preman jalanan sudah menjadi pembahasan di kalangan pengusaha bidang logistik. Mengingat nyawa sopir kontainer maupun truk muatan barang jadi taruhan di jalur itu. Ketua Umum Asosiasi. Logistik Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan kerap menerima aduan. Baik dari sopir maupun sesame kolega pengusaha.

Aksi kejahatan yang dilakukan Asmoro terjadi di beberapa titik. Terutama di daerah-daerah yang berpotensi kemacetannya tinggi. Ketika truk pengangkut terjebak kemacetan, preman-preman ini beraksi dengan cepat. Beberapa barang kerap hilang di jalan. ‘Dirampas’ tangan-tangan kelompok Asmoro.

Mulai dari susu, beras, oli, hingga semen. Bahkan, baja pernah hilang begitu saja. Terkadang mereka juga memalak uang. Bukan soal uang receh yang diambil. Tapi kerugian besar jika dihitung menggunakan perhitungan ongkos logistik. "Bukan soal nominal, tapi budaya pungli itu yang terbentuk," tegasnya.

Lebih jauh dari soal kerugian materiil adalah nyawa. Kenyamanan dan keamanan di jalan seharusnya menjadi jaminan. Kelancaran distribusi barang tergantung keamanan di jalan. Ancaman itu nyata adanya. Bukan sekadar cerita legenda belaka. Aksi premanisme dan pungli jalanan menjadi semacam ‘hantu’ bagi pengusaha logistik. Terlebih bagi sopir. Mereka yang berhadapan langsung.

"Para pengemudi kita kan perlu kenyamanan dan keamanan. Perusahaan logistiknya yang mewakili pemilik barang itu ingin memastikan barangnya sampai ke tempat tujuan. Tapi kalau ada kehilangan barang, terjadi seperti itu. Selain menimbulkan biaya ekonomi tinggi juga menjadi satu ancaman," tuturnya. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini