Dibalik Mural 2

Mural, antara seni dan merusak ruang publik

Senin, 9 November 2015 09:14 Reporter : Mohammad Yudha Prasetya
Mural, antara seni dan merusak ruang publik Mural The Popo di Jalan Asemka, Pasar Pagi, Jakarta Barat. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Sejumlah gambar dengan tokoh-tokoh kartun unik berwarna kuning begitu mendominasi di kawasan Pasar Pagi Asemka, Jakarta Barat. Di tiang jalan layang itu tertulis 'Hidup adalah mainan'. Gambar itu mulai ada sejak tahun 2013.

Menurut pedagang dan warga sekitar, sudah beberapa kali gambar itu hendak dihapus oleh petugas Satuan Polisi Pamong Praja. Namun ditolak oleh para pedagang karena gambar itu seakan menjadi penanda, bagi kawasan yang dikenal dengan pusat penjualan mainan tersebut. Hal itulah yang membuat lukisan mural karya Popo bertahan hingga hari ini.

Menurut Riyan Riyadi, pemilik nama panggilan Popo itu menjelaskan, jika gambar yang dia buat memang sesuai karakter tokoh kartun. Menurut dia, aspek mural sejatinya memang harus memiliki konsep tertentu. Jadi jangan kaget, jika karya-karya Popo lebih menyentuh estetika dari karya seni mural.

Alih-alih menganggap bahwa setiap dinding adalah kanvas, Popo justru punya pandangan lain. Menurut dia, sebenarnya ada tanggung jawab sosial ketika ia harus menggambar di sebuah dinding. Aspek dekat dengan lingkungan merupakan representasi dalam karya mural yang akan dia gambar.

Konsep pendekatan site specific yang dipakai oleh Popo memang juga dipakai oleh para seniman mural berbagai negara. Salah satu seniman mural internasional, Banksy juga memakai konsep serupa. Dalam sebuah karya Banksy yang mengkritik sempitnya lahan bermain bagi anak-anak, yang berbanding terbalik dengan merebaknya ketersediaan lahan parkir kendaraan.

Dasar itu kemudian dijadikan sebagai bahan mural sederhana bagi Banksy untuk kemudian menghapus huruf 'ING', pada sebuah tulisan 'PARKING' dalam sebuah gambarnya. Ide Bansky memang menohok. Gambar mural berupa seorang anak perempuan sedang bermain ayunan, pada huruf 'A' dia masukan dalam gambarnya.

Hal ini justru makin menunjukkan jika lingkungan sekitar lahan parkir itu ada keterbatasan lahan bermain bagi anak-anak dibanding lahan parkir mobil. Isu sosial lingkungan sekitar pun akhirnya menjadi objek menarik yang diangkat Banksy.

Popo mengatakan korelasi yang dibangun dari tema gambar mural dan kondisi sosial lingkungan, merupakan sebuah kesatuan utuh. Gambar itu menjadi sebuah pelengkap atas isu yang diangkat dalam tema sebuah karya mural goresannya.

"Ada benang merah antara gambar dan tempat itu. Soalnya kan si tembok ini punya peran juga di lingkungan tersebut. Kalau gue bilang tembok itu kanvas, kayanya egois banget. Jadi kesannya gue bisa gambar apa saja di situ," ujar Popo saat berbincang dengan merdeka.com di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Rabu pekan lalu.

Dalam hal membuat mural, Popo memang lebih dulu melakukan pendekatan dalam menggunakan ruang terbuka yang bakal jadi medianya saat menggambar nanti. Popo tak segan untuk meminta izin termasuk membaca ruang dengan gambar yang cocok atas karyanya dengan gambaran nyata daerah tersebut. " Jadi menurut gue, hal itu yang lebih gue ke depankan dalam modal utama gue sebagai seniman mural," ujar Popo.

Terlepas dari apa yang dilakukan Banksy atau Popo itu bermanfaat atau tidak dalam menyelesaikan masalah di lingkungan sosial, tentunya korelasi isu lingkungan dengan tema karya yang diangkat dalam gambar mural itu merupakan sinergitas seni dan realitas yang dekat dengan masyarakat.

Bahkan Popo mengaku pernah melakukan hal demikian di sekitar tempat tinggalnya, di wilayah Bekasi, Jawa Barat. Kala itu, sebuah perusahaan provider lokal bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat membuat mural dengan memaparkan Visi dan Misi Kota Bekasi. Popo akhirnya mengganti kata 'Aman' dan 'Nyaman' itu, dengan kalimat 'Bikin hotel di sana-sini'.

Walaupun menerima banyak teguran dari sejumlah pihak, hal ini diakui Popo sebagai bentuk protesnya secara pribadi sebagai warga Bekasi, yang merasa aspek pembangunan di kota itu sangat tidak bijaksana. Apalagi faktanya marak pembangunan hotel, apartemen dan mall-mall megah, yang dinilai tak sesuai dengan visi-misi kota Bekasi.

"Pembangunan apa dulu? Kalau misalnya banyak gedung bertingkat tetapi warga di sekitar tetap miskin, lalu apa efek pembangunannya gitu ," keluh popo

Kritik yang dilakukan melalui pendekatan seni mural tak jarang memberikan dampak positif bagi kebiasaan di lingkungan sekitar. Salah satu gambar mural Popo yang fenomenal ialah mural di Kali Code, Yogyakarta. Kebiasaan orang buat membuang air besar di sepanjang aliran kali Code membuat Popo tergerak membuat mural bertuliskan 'Air adalah Emas'.

Sejak gambar itu dibuat, orang di sepanjang bantaran kali Code tak ada lagi yang buang air besar sembarangan. "Kemudian banyak teman gue di Jogja yang kasih info ke gue, bahwa karena tulisan gue itu, efeknya orang jadi malu kalau mau buang di situ lagi," ujar Popo.

Meski stigma seni mural yang menjadikan ruang publik kerap di cap negatif, namun sejatinya berkat kaya mereka juga kebiasaan berubah. Karena pada dasarnya setiap gambar mural berbicara atas kondisi lingkungan di sekitarnya. Tak jarang, sebuah kritik sosial dari kehidupan nyata lebih berbicara lewat karya mural. [arb]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini