Memastikan problem lebih penting

Selasa, 20 Oktober 2015 10:17 Penulis : Sapto Anggoro
Memastikan problem lebih penting Ilustrasi ide kreatif. ©Shutterstock/Dusit

Merdeka.com - Semoga ini tidak terjadi di semua contoh perusahaan di berbagai industri. Mungkin kebetulan ini terjadi di bisnis perusaan IT (informasi teknologi).

Begini ceritanya, dalam sebuah rapat, seorang manajer produksi menyampaikan tentang masalah yang terjadi dengan IT, mulai dari kecepatan akses, data penuh, dan lainnya.

Lantas, seorang manajer yang lain menyampaikan tanggapannya, bahwa hal itu terjadi karena dana terbatas. Sehingga pembelian alat yang penting tak dipenuhi, biaya langganan diperkecil, dan sebagainya. Intinya, dia mengeluhkan soal kecilnya dana (budget) untuk IT.

Menengahi antar kedua manajer itu, seorang direktur keuangan yang tanggap, mendengarkan secara seksama keluhan itu, memenuhi pembelian keluhan. Dan, puluhan bahkan ratusan juta atau mungkin miliar dana diceburkan.

Seminggu, solusi selesai. Sebulan, mulai terasa. Bulan berikutnya, kondisinya kembali masalah. Bahkan makin kacau balau. Penyelesaian masalah (problem solving) yang selama ini diagungkan sebagai kata kunci, ternyata bukan.

Dalam banyak hal, mungkin di dunia IT, problem solving barangkali justru sesuatu yang relatif mudah. Karena banyak tool, alat, software, aplikasi, atau hardware apalah namanya yang tersedia. Karena itu, yang lebih penting sebenarnya bukan penyelesaian masalahnya bagaimana, tapi apakah benar masalahnya yang itu. Artinya, justru menentukan problem itu yang lebih penting.

Seperti diketahui, banyak dana yang sering terbuang sia-sia oleh sebuah perusahaan, hanya karena kita tidak melakukan penelitian lebih dulu problem awalnya atau aslinya. Padahal, menentukan dan memastikan problem itu adalah hal yang utama. Disangka solusinya sudah terselesaikan, ternyata masih ada dan tidak terpengaruh oleh penyelesaian yang telah dilakukan dengan biaya tinggi tersebut.

Kita sering terjebak dengan kata-kata: dia orang pengalaman, dia dokter ahli, atau teknisi jagoan, yang gak pakai penelitian mendalam langsung main keputusan, main operasi, sampai keluar duit banyak, tapi malah bencana.

Bagaikan seorang dokter, untuk memastikan apakah orang itu benar-benar menderita penyakit apa, maka diperlukan penelitian khusus: tes darah, tes air seni, sampai sample tinja, ditambah foto rontgen segala. Masih ditanya kebiasaannya, makanan yang dilarang dan juga alergi obatnya apa. Ini dilakukan, agar dokter – seahli apapun – akan tepat dalam melakukan penyelesaian masalah (menyembuhkan pasien).

Perusahaan memang bukan dan tidak sepenuhnya sama dengan organ tubuh manusia. Namun, kalau Anda berpikir bahwa problem solving itu utama tapi mengabaikan upaya memastikan letak problemnya, maka siap-siaplah untuk membuang biaya sia-sia tanpa hasil. Bahkan bukan tak mungkin merusak organ-organ lainnya karena salah penyelesaian.

Jangan sampai gara-gara tak bisa menghitung matematis, malah minum obat sakit kepala. Jadi, jangan remehkan pengujian, penelitian, second opinion, sebelum melakukan mengobati (solving the problem) perusahaan Anda. [war]

Topik berita Terkait:
  1. Kolom Inspira
  2. Kolom Merdeka
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini