Wawancara Siti Nur Azizah

Manuver Azizah Ma'ruf Rebut Kursi Wali Kota Tangsel

Jumat, 3 Januari 2020 08:28 Reporter : Sania Mashabi, Angga Yudha Pratomo
Manuver Azizah Ma'ruf Rebut Kursi Wali Kota Tangsel Siti Nur Azizah. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Waktu pertemuan dengan Siti Nur Azizah sempat diundur hingga malam pada Sabtu, 28 Desember 2019. Rencananya pukul 4 sore kami bertemu di kediamannya kawasan elit Bintaro, Tangerang Selatan. Mendadak putri Wakil Presiden Ma'ruf Amin itu meminta atur ulang lantaran sedang ada pertemuan.

Di tengah waktu menunggu, WhatsApp grup kami dihebohkan. Azizah berfoto bersama dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Mereka bertemu di rumah Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan. Hadir pula Bobby Nasution, menantu Presiden Joko Widodo, dalam pertemuan itu.

Dalam pertemuan itu, Prabowo hadir sebagai ketua umum Partai Gerindra. Dia didampingi Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco. Kental sekali aroma pertemuan politik Sabtu sore itu.

Sekitar jam 7 malam Azizah baru tiba di rumah yang baru ditempati beberapa pekan itu. Kami disambut begitu ceria. "Habis bertemu Pak Prabowo, ada Bobby juga, ini kami silaturahmi politik," ucap dia kepada kami.

Tahun 2020 menjadi waktu pelaksanaan Pilkada Serentak. Azizah dan Bobby sedang mencoba keberuntungan. Dengan fasilitas sebagai keluarga presiden dan wakil presiden, mereka lebih memiliki jaringan untuk bertemu dengan banyak elit politik di Indonesia.

Azizah sedang mengincar kursi Wali Kota Tangerang Selatan. Sedangkan Bobby begitu berhasrat duduk sebagai Wali Kota Medan, Sumatera Utara. Pertemuan dengan Prabowo dirasa penting sebagai modal awal terjun dalam dunia politik.

Berikut petikan wawancara jurnalis merdeka.com Sania Mashabi dengan perempuan akrab disapa Azizah Ma'ruf tersebut:

1 dari 4 halaman

Restu Abah Maruf

Bisa diceritakan bagaimana Anda memutuskan untuk maju Pilkada Wali Kota Tangerang Selatan?

Ya memang kalau kita lihat perjalanan itu, memang orang hidup itu unik. Tiap orang kan mengalami prosesnya. Begitu juga saya. Terutama dalam pandangan politik saya.

Saya ini sebetulnya lama di birokrasi ada kurang lebih 18 tahun. Konsepnya saya kira sama seperti mengabdi sebagai PNS, tetapi mungkin orientasi dari mengabdi itu tentu mengalami sebuah perjalanan yang core-nya lebih meluas.

Kalau dulu kan paradigma saya berpikir kalau politik itu adalah mengabdi kepada negara. Dengan cara, saya ikut di dalam upaya bagaimana membangun bangsa itu dengan menjadi seorang abdi negara. Pegawai Negeri Sipil. Bagaimana kita bisa membuat satu kebijakan-kebijakan nasional yang itu bisa menjadi pedoman.

Sampai pada suatu ketika saya mendapat tugas dipenanganan konflik sosial keagamaan. Nah, pada saat itu kan banyak bersentuhan dengan temen-temen dari LSM, para aktivis, sosial, aktivis perempuan dan anak. Ya tentu pandangan politik saya memjadi mengalami satu perubahan yang dampaknya saya melihatnya lebih luas gitu ya. Bahwa sebetulnya politik itu ya harus memberi dampak pada masyarakat, lebih dekat. Lagi-lagi ini perjalanan hidup ya.

Perjalanan hidup (di politik) mulai sebelum Pilpres 2019 awal ya. Kan ada wacana Pilkada Serentak, lalu Ibu Airin mau selesai. Temen-temen kemudian mendoronglah kayaknya ini menarik karena, saya kira masyarakat sekarang ingin ada satu perubahan ke arah yang lebih baik. Karena melihat mungkin saya ada latar belakang birokrasi, ya di Bimnas Islam Kementerian Agama, memang bersentuhan dengan masyarakat langsung.

Apalagi pada saat saya menagani konflik sosial keagamaan, di Sampang Madura, dan Sidoarjo kemudian mereka mengungsi. Kemudian juga Transito Mataram, kita lihat bagaimana masyarakat perlu bahwa negara itu hadir dekat dengan masyarakat. Tentu kalau sudah bicara hadir negara itu ya pemerintah daerah itu yang punya. Punya policy marking itu bisa bersentuhan dengan perubahan masyarakat yang ke arah lebih baik.

Tentunya saya mengalami itu. Mengalami sebuah evolusi baru memaknai politik itu. Awalnya saya, seperti tidak percaya.

Maksudnya Anda sempat tidak memercayai tentang Politik?

Tidak, tidak. Tetapi pandangan politik saya ya sebatas pada paradigma itu. Cukup di pusat untuk bisa mewarnai ternyata tidak saya harus lihat itu betapa pentingnya pemerintah daerah itu.

Ya yang berlaku sebagai policy marking, membuat kebijakan-kebijakan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Ya temen-temen dorong, 'Ayo dong!'. Kemudian ya saya respon dengan baik setelah kita berdiskusi lalu lihat kondisi di lapangan.

Begitu saya di lapangan juga agak surprise gitu ya, karena kan Tangsel itu kota yang maju ya saya melihatnya Tangsel maju lihat Bintaro, BSD, sudah kaya Singapura gitu.

Begitu turun ke lapangan ternyata luar biasa bahwa betapa perlunya pemimpin yang punya keberpihakan kepada masyarakat. Di kampung-kampung kota seperti yang ada di Tangsel ini. Saya kira itu perlu pemimpin yang memikirkan bahwa kemajuan itu tidak hanya wilayah-wilayah tertentu tetapi itu juga menjadi hak masyarakat yang ada di kampung-kampung kota.

Keresahan apa yang Anda tangkap saat bertemu masyarakat yang Anda temui?

Total sudah tujuh kecamatan saya didatangi walaupun sporadis ya. Tapi sudah. Ya saya kan hampir setiap hari 'Ngampung'. Sekarang ini ngampung bersentuhan dengan masyarakat untuk lebih kenal. Sekaligus belanja masalah tadi.

Belanja masalah dekat dengan mereka jadi kita tau apa sebetulnya yang menjadi keresahan dari masyarakat. Yang saya lihat lebih kepada ketimpangan itu. ketimpangan antara masyarakat ya. Kota dan kampung yang cukup jauh. Baik itu ketertinggalan pembangunannya maupun kesejahteraannya. Itu saya lihat.

Maka itu saya punya jargonnya itu tiga. Kita sebut dengan: Permata. Artinya, Pemerataan Kemajuan untuk Kesejahteraan. Program itu untuk masyarakat Tangsel. Karena itu belanja masalah tadi, saya melihat ketimpangan yang sangat jauh.

Program prioritas seperti apa yang Anda coba tawarkan kepada masyarakat?

Ya saya sampaikan bahwa konteks pemerataan itu kan lebih kepada politik rakyat bagaimana pemerataan itu dalam konteks bahwa pembangunannya itu tidak hanya yang di kota-kota, tapi juga yang di kampung-kampung itu saya kira penting sekali.

Saat ini kita karena kita belanja masalah lebih kita fokuskan pada program-program aksi yang akan kita siapkan untuk menjawab isu-isu, artinya persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Lebih pada program-program aksi.

Ya nanti program unggulannya, kalau sudah daftar. Makanya visi pemerataan ya dengan Ngampung tadi kita bisa tahu sebetulnya apa sih, pemerataan, kemajuan yang diinginkan oleh masyarakat. Jangan sampai mereka kemudian kampung-kampung ini tertinggal pembangunannya ya.

Sehingga mereka itu terpinggirkan oleh proses pembangunannya itu. Bahkan cenderung akan bisa membuat kampung-kampung itu hilang. Dengan adanya pembangunan yang begitu masif, tanpa ada perlindungan sosial pada tiap masyarakat di kampung, jangan sampai kampung-kampung yang punya kearifan lokal dan menjadi identitas dari Tangsel itu sendiri menjadi hilang. Pemerataan dari konsep Permata itu, yakni konteksnya perlindungan sosial.

Kemudian juga terkait dengan kemajuan soal SDM yang unggul. Tentu kita ada program-program aksi, misalnya Sejuta Kelor alias Sejuk.

Ada apa dengan menanam Sejuta Kelor?

Karena daun kelor itukan adalah tanaman rakyat, tanaman yang super nutrisi.

Apakah jenis buah itu banyak di wilayah Tangsel?

Harusnya ada karena itu tanaman rakyat. Orang Betawi biasanya tanam itu. Orang Banten biasa tanam itu. Itu super nutrisi anti stunting. Bagaimana mau membangun SDM yang unggul itu bagaimana pola hidup masyarakat itu. Nah kita bicara tadi soal kemajuan SDM yang unggul. Karena stunting itu kan bukan begitu dia lahir lalu, tidak, tapi mulai dari dalam kandungan itu maka super nutrisi yang direkomendasi oleh WHO. Karena tanaman yang direkomendasi oleh WHO. Maka kita ada program Sejuk gitu.

2 dari 4 halaman

Belanja Masalah

Menurut Anda seberapa jauh jarak kesenjangan sosial di Tangsel?

Bisa dilihat, bagaimana di kota-kotanya, Tangsel dan di kampung-kampungnya Tangsel kan bisa kelihatan sendiri seperti apa kesenjangannya. haha. Yang bisa dirasa bahwa kampung-kampung yang ada di Tangsel itu merasa terpinggirkan oleh proses pembangunan sosial.

Dampaknya tadi lingkungannya, persoalan sampah, persoalan kependudukan mereka tertinggal dengan masuk pembangunan itu. Ruang-ruang hijau untuk mereka. Itukan saya kira bagian dari yang saya sampaikan ketimpangan tadi.

Kita ini kan tidak hanya ingin smart city-nya tapi smart society-nya. Bagaimana masyarakat itu dicerdaskan untuk bisa tadi menjadi SDM yang unggul, mandiri secara ekonomi, punya kemandirian ekonomi, makanya kita dorong tuh bicara soal SDM unggul itu kita punya program lagi namanya, program tanding namanya. Taman koding.

Bagaimana Tangsel itu pemerataan konteks kemajuannya tadi, itu juga jangan hanya di kota-kota SDM-nya ini juga harus kuat untuk bisa menangkap peluang-peluang kemajuan tadi. Sehingga bisa merasakan kemajuan yang katanya sudah muncul di Tangsel.

Lewat taman koding bagaimana kita mempersiapkan generasi muda, generasi milenial untuk punya kemampuan basic digital karena kan sebetulnya Tangsel ini kota yang memang disiapkan sebagai super digital ya, vale digital. Maka program aksinya begitu. Nah kita ayo bagaimana mendekatkan dengan kebutuhan dari masyarakat jangan sampai peluang-peluang itu, kan sebetulnya kan penganggurannya hanya berapa persen itu ya 4 persen (di Tangsel). Tapi kan ya itu tadi tapi nanti bisa dilihat lah.

Sebetulnya peluang-peluangnya cukup besar kalau masyarakatnya juga siap. jadi jangan smart city-nya saja, smart society-nya. Nanti baru mengarah ke wise society.

Sebenarnya konsep Permata yang sedang Anda sering sampaikan ke masyarakat seperti apa dalam implementasinya nanti?

Permata itu kan Pemerataan Kemajuan untuk Kesejahteraan masyarakat Tangsel. Iya kesejahteraan itu kenapa kita dorong, pemerataan kesejahteraan karena Tangsel ini kan adalah kita urban masyarakatnya sangat beragam dan mereka hidup, coba kalau dilihat ini kan masyarakat kampung yang sebetulnya memerlukan kebijakan yang bisa memberikan mereka kehidupan. Yang lebih baik.

Kalau yang lain kan sudah auto pilot engga diapa-apain yo maju sendiri. Tapi kalau masyarakat kampung memang negara harus hadir, pemerintah daerah harus hadir.

Bahwa masyarakat di Kota Tangerang Selatan ini engga punya gunung, engga punya laut. Ya industrinya adalah industri rakyat. Maka itu yang harus didorong UMKM. Makanya ke mana-mana bawa kacang sangrai, sagon bakar, tahu Serpong. Tadi saya bawa tahu Serpong ke Pak Prabowo. Itu punya sejarah dengan saya ya. Karena kan Serpong ini kan merupakan daerah wisata sejarah sebetulnya. Saya ke depan kalau jadi saya jadikan Serpong itu sebagai kawasan wisata sejarah.

3 dari 4 halaman

Politik Dinasti

Bisa diceritakan saat meminta restu maju Pilkada Tangsel dengan Abah Ma'ruf Amin?

Ya tadikan saya sampaikan proses itu kan hasil dari kita berdiskusi dengan banyak pihak. Termasuk elemen-elemen masyarakat yang mendorong, teman-teman aktivis ketika saya sampaikan tentu hal pertama yang saya lakukan adalah minta restu atas iktikad baik, niat baik saya untuk bisa memberi dampak lebih luas ke masyarakat. Ya pasti sebagai orang tua Abah itu memang orang tua yang sangat bijak ya. Ya begitu mendengar walaupun kaget beliau menyadari, beliau memang menanamkan prinsip bagaimana making value ya, bagaimana membuat nilai di setiap keberadaan kita itu.

Jadi ketika tahu ini serius, Abah kaget juga. Karena kan memang Abah tidak menyiapkan menyuruh anaknya di politik di mana-mana itu. Apalagi membangun dinasti, tidak ada sama sekali. Jadi beliau sempat terkejut. Tapi beliau lagi-lagi, karena tadi prinsip hidup beliau kan memang beliau mengalir saja kan begitu tahu ya yang paling penting buat beliau kepada kami itu bahwa apa yang kita yakini itu memang betul-betul diniatkan untuk kepentingan yang lebih besar kemaslahatan umum.

Islam itu kan begitu maslaha'am, kemaslahatan umum begitu juga Nabi kan mengajarkan begitu. Bahwa kita ini harus jadi rahmah, rahmatan lil alamin itu kan setiap manusia harus jadi rahmah. Demi kebaikan termasuk saya. Jadi secara pribadi beliau sebagai orang tua ya, ya pasti mendukung. Orang tua-tua lain yang bukan orang tua saya aja mendukung kok masa Abah nda hahaha.

Termasuk ketika Anda menyatakan kepada Abah Ma'ruf bahwa sudah mundur dari posisi sebagai PNS eselon III di Kementerian Agama?

Iya pasti. Karena kan beliau tahu saya birokrat hampir 18 tahun. Jadi tidak pernah terpikirkan saya untuk kemudian turun ke politik tadi.

Abah tidak pernah menolak suatu hal yang baik dari siapapun apalagi dari putrinya. Karena prinsip beliau tadi dimanapun kamu berada kamu harus memberikan nilai, membuat sebuah nilai itu bisa dirasakan kemanfaatannya oleh tidak hanya pada diri saya, tapi sekeliling saya.

Maju Pilkada Tangsel dengan status anak wakil presiden, seberapa besar ke khawatiran dengan cap politik dinasti di diri Anda?

Kalau Bu Azizah (saya) itukan cuman pindah dinas aja. Bukan dinasti. Pindah dinas saja.

Saya meyakini sesuatu yang saya niatkan baik dengan langkah-langkah saya yang baik ya, dan saya wujudkan untuk kemaslahatan banyak orang. Ya saya bismillah. Yakin saya.

Saya meyakini apa yang baik dan tentu tetap bersandar kepada nilai-nilai. Yang saya yakini di dalam agama saya di dalam Islam.

Seperti apa Anda memaknai politik dinasti?

Tadi saya bilang saya cuma pindah dinas saja. Saya tuh engga melihat itu. Karena kan tadi kan semua berangkat dari niat baik. Inamal'amalu bin niat. Gitu kan niatnya dulu. Karena memang saya tidak pernah disiapkan gitu untuk kemudian jadi apa ya mengalir.

Seiring dengan keinginan dari masyarakat. Begitu juga Abah, dia kan enggak niat juga jadi wapres. Hahaha. Seperti saya, saya ini sebetulnya sudah golongan IV saya eselonnya III tapi golongan saya sudah IV ya hampir sama-sama dengan walikota untuk apa pusing-pusing jadi walikota. Saya cuman pindah dinas saja.

Saya sampaikan tadi bahwa niatan saya itu kan seiring dengan perubahan paradigma politik saya bagaimana, kalau Pak Jokowi ngomong delivered ya ini delivered-nya gitu yang dampaknya bisa langsung dirasa. Kalau selama ini kebijakan sifatnya hanya nasional ya bagaimana menjadi guadiance, mendorong lah ini langsung bagaimana ini bisa memberi dampak langsung.

Bisa diceritakan bagaimana perkenalan Anda dengan politik di tahun 2019 ini?

Menarik, jadi saya melihat bagaimana sosok Abah ya. Tidak pernah berniat untuk itu, tapi ketika itu memanggil beliau bismillah. Saya pikir saya juga fasenya mengalami proses itu. Saya pikir ya saya punya inspirator dan hal yang baru. Abah juga dulu pegawai negeri. Beliau juga dulu pegawai negeri di kementerian juga. Kemudian sepertinya saya mengalami fase yang hampir mirip meskipun tidak sehebat Abah kan haha. Maka saat itu saya harus memutuskan.

Apa kemudahan dan kesulitan Anda saat turun ke masyarakat dengan predikat anak wakil presiden?

Ya enggaklah, saya kan menawarkan Ibu Azizah. Konsep Permata itu yang saya tawarkan kepada masyarakat. Bukan wapresnya, karena yang milih kan rakyat buka wapres.

Ketika keliling kampung, apakah masyarakat sudah banyak tahu bahwa Anda anak wakil presiden?

Ya tahulah, kan engga bisa dilepaskan itu. Saya melihatnya sebagai anugerah dan berkah. Kan saya tidak pernah meminta. Memang itu melekat di saya. Sebelum jadi wapres kan saya sudah anak beliau. Saya tetap Azizah yang punya keinginan untuk bagaimana memberi manfaat sebesar-besarnya kepada diri saya dan juga banyak orang.

Saya dari mulai kita melihat respon masyarakat sangat positif dan memang rupanya memiliki semangat yang sama untuk melakukan perubahan ya agar tadi bagaimana Tangsel ini lebih merata kemajuannya dan kesejahteraannya. Terutama di kampung-kampung karena saya hampir setiap hari ngampung. Kalau Pak Jokowi blusukan saya ngampung haha.

4 dari 4 halaman

Dapat Dukungan Prabowo Subianto

Sejauh ini sudah berapa partai yang ingin mendukung Anda?

Ya didoakan kan kelihatan nanti satu-satu. Tunggulah tanggal mainnya.

Saya sering sampaikan pada wartawan bahwa saya ini akan melalukan komunikasi politik ya, sesuai dengan mekanismenya. Saya kan ikut konvensi sesuai dengan mekanismenya karena saya bukan ajimumpung. Saya ini Azizah dan saya taat azas, saya akan ikuti mekanismenya. Tapi juga saya melakukan komunikasi politik di tingkat elite. Karena memang rekomendasi itu datang dari pusat.

Jadi saya kira itu satu mekanisme yang wajar saja dilakukan. Dan semua partai saya lakukan komunikasi politik karena menurut saya Tangsel ini tidak bisa sendirian. Harus Berkolaborasi untuk bisa membangun untuk bisa lebih baik.

Anda belum gabung partai, apa alasanya?

Belum, ya didoakan.

Apakah tidak kesulitan jika nantinya justru partai mendahulukan kadernya?

Saya kan menawarkan visi misi saya. Dan saya yakin mereka akan melihat elektabilitas, dan itu saya lakukan. Popularitas, elektabilitas, aksestabilitas itu kita lakukan agar itu menjadi satu poin. Jadi tidak sekedar berkomunikasi politik, ada yang saya tawarkan. Tawarkan gitu ya. Tawarkan konsep visi misi gitu ya. Saya tawarkan sambil saya bergerak terus ya, kan mereka akan melihat elektabilitas kita berdasarkan survei.

Seperti apa kriteria mitra kerja atau calon wakil wali kota yang Anda inginkan?

Tentu saya akan mencari mitra saya, partner kerja saya tentu yang memahami visi misi Permata itu. Karena itu yang memang saya tawarkan pada semua termasuk partai politik. Termasuk nanti yang akan menjadi partner saya dia harus bisa memahami visi Permata sebagai visi besar kita.

Itu kan juga diwarnai itu oleh semangat-semangat Bung Karno, itu semangat trisaktinya Bung Karno itu sebetulnya ya. Bagaimana kedaulatan politik rakyat ya, kemandirian ita kan dan kemajuan yang berkarakter budaya, kemajuan budaya yang berkarakter. Jangan sampai budaya Tangsel itu hilang. Tergerus oleh pembangunan. Kampungnya hilang.

Jadi tentu yang memahami visi Permata, kemudian ya bisa mendorong mendukung saya. Karena orang maju itu kan untuk menang. Artinya yang mendukung kemenangan itu.

Apakah Anda nantinya akan maju dari Gerindra?

Pasti kalau ditanya kendaraan pengen Mercy sama Alphard haha. Ya nanti dilihat aja Alphard sama sama Mercy-nya yang mana yang. he-he-he

Apakah ini ada kaitannya dengan Anda melakukan pertemuan dengan Prabowo Subianto?

Ya beliau (Prabowo) sangat mendorong.

Bagaimana proses Anda sampai bisa bertemu dengan Prabowo Subianto?

Kita fasilitasi juga kan komunikasi politik di tingkat elit. Karena kan kita sebenarnya sudah konvensi kan, konvensi dari mulai di DPD kemudian kami bertemu juga dengan Pak Dasco dengan Sekjen, baru bertemu Pak Prabowo. Sebetulnya saya selalu memakai, saya taat asas itu saya.

Jadi saya ada mekanisme yang saya tempuh, termasuk Hanura pun saya melalui proses tempuh. Ke TPP Pilkada-nya juga saya bertemu. Kalau ini saya ketemu Sekjen, ketemu Pak Dasco, berdiskusi tentang konsep perubahan itu seperti apa.

Ya mereka kelihatannya satu visi ya beliau. Artinya kita menawarkan konsep itu dan sepertinya sejalan dengan mereka karena kan saya mau naik Burung Garuda. Garudanya Gerindra, saya bilang agar saya melihat lebih luas, dan bisa melihat apa sebetulnya menjadi persoalan dan bagaimana solusi itu kan kalau kita lihat dari peta.

Saya bilang kalau Gerindra mendukung kan itu satu kehormatan buat saya, karena itu dukungan ya partai yang saya kira juga punya visi yang sama. Dan itu disambut baik oleh Pak Prabowo, beliau mendorong maju untuk menang kira-kira begitu.

Apa saja yang disampaikan Prabowo selain mendorong Anda maju untuk menang?

Saya sampaikan bahwa konsep-konsep kita pada konsep Permata tadi. Beliau saya kira sejalan dengan konsep itu dan mendukung tentu melalui mekanisme, nantikan ada tahapan karena ini kan sudah ikut konvensi (Partai Gerindra tingkat Tangsel).

Apa yang anda bawa saat bertemu Prabowo?

Tahu Serpong. Karena itu ada filosofinya, dari tadi tuh bahwa Tahu Serpong itu bahwa Serpong ini punya nilai sejarah yang masyarakat luas perlu tahu bahwa itu ada sejarah ada situs di sana yang seharusnya itu jadi kawasan yang terlindungi. Makanya tadi saya bilang itu bagian dari perlindungan sosial.

Dalam pertemuan dengan Prabowo, ada siapa saja selain Anda dan Bobby?

Ada Pak Dasco, mas Bobby (Nasution) bersamaan ya. Mas Bobby juga seperti yang disampaikan Pak Dasco dalam berita beliau agar melakukan komunikasi. Ada Mas Dahnil (Anzhar) juga kan beliau Stafsus.

Sekiranya calon mitra kerja Anda nantinya berasal dari birokrasi atau dari partai?

Kalau saya bukan orang politik. Kalo (mitranya) orang politik, kalau bisa yang memahami Tangsel. Tapi nanti kita lihat.

Ada Pesan dari Abah ketika Anda memutuskan ingin maju Pilwalkot Tangsel?

Ya harus didukung masyarakat. Beliau bilang harus itu dapat dukungan dari masyarakat karena memang kita berjuang untuk mereka. Jadi setiap hari saya Ngampung.

[ang]
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini