Dari 5 startup yang diinvestasi East Ventures, satu mati

Rabu, 10 Februari 2016 09:22 Reporter : Syakur Usman
Dari 5 startup yang diinvestasi East Ventures, satu mati Willson Cuaca. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Ada banyak faktor di balik kesuksesan satu startup di Indonesia. Yang pasti, faktor pendirinya. Selain itu, tentu ada faktor lain, yang tak kalah pentingnya, yakni faktor investornya. Startup beken di Indonesia, seperti Tokopedia, Traveloka, Scoop, Bridestory, BerryBenka, dan Shopdeca memiliki satu kemiripan, yakni didanai oleh investor sama; East Ventures.

Ya, East Ventures yang berkantor di Jakarta, Singapura, dan Jepang ini telah mendanai sekitar 30 startup pada tahun lalu. Bahkan bisa dikatakan East Ventures sebagai perusahaan modal ventura paling agresif di Indonesia. Ditemui di kantor Jakarta yang berfungsi sebagai coworking bagi startup-nya, Willson Cuaca (37) bersedia menemui M Syakur Usman dan M Luthfi Rahman dari KapanLagi Network (KLN) untuk berbagi soal bisnis digital Indonesia, investasinya sepanjang 2015, dan rencana tahun ini. Berikut petikannya:

Bisa dijelaskan perkembangan East Ventures hingga kini?

Kami mulai di 2010. Sejak 2010, banyak startup e-commerce. Investasi pertama kami di e-commerce, karena bisnis modelnya paling dimengerti. Dan ekosistem seperti Indonesia, yang investornya tidak banyak, kami harus investasi pada sesuatu yang dimengerti, sehingga investor asing dan lokal bisa mengerti lebih cepat. Dibandingkan kami harus investasi ke startup yang aneh-aneh, yang terlalu inovatif. Jadi saat mulai itu, kami sangat pragmatis, investasi di e-commerce. Namun sejak 2015, tren bergeser. E-commerce masih menarik, karena potensi Indonesia besar sekali. tapi startup pendukung e-comm bermunculan. Jadi e-commerce lokomotifnya, pendukungnya banyak. Misalnya startup untuk tools bagi pedagang iobline supaya lebih cepat kinerjanya. Maka itu, kami sekarang banyak investasi di Software as a Service (SaaS), seperti Jurnal. Trennya seperti itu.

Jadi e-commerce jadi lokomotif dan industri pendukungnya mulai bergairah, seperti education, fintech, dan healthcare. Dari sisi East Ventures, kami melihat satu hal, software bakal berubah semua dan membuat negara ini lebih efisien. Untuk itu, kami akan investasi ke semua sektor yang menggunakan teknologi dan software untuk membuat produknya lebih efisien. Itu visi besar kami.

Tahun lalu berapa startup yang diinvestasi?


Tahun lalu, kami investasi sekitar 30 startup, sehingga total menjadi sekitar 70 startup. Saya tidak ingat jumlah persisnya (berdasarkan situs East.vc, nama-nama startup yang didanai East, antara lain Prinzio, Sociolla, Konsula, IDNtimes, PopBox, Cermati, Sribu, SribuLancer, Tripvisto, Jurnal, Otten Coffee, WhatWeLike, Kudo, Livaza, Talenta, Orori, Moka, RuangGuru, Ralili, Valuklik, Sirclo, Urbanindo, Bilna, Alkemis Games, Bornevia, Tokopedia, BrideStory, Shopdeca, Traveloka, BerryBenka, Berrykitchen, dan Scoop).

Berapa bujet dan target investasi tahun ini?

Kami tidak ada bujet investasi, karena tidak punya target. Tapi tahun lalu, kami investasi paling banyak, yakni 30 startup. Setiap tahun nilai investasi naik terus. Tahun ini bisa lebih tinggi dari tahun lalu. Kami tidak pernah punya target investasi seperti harus investasi sekian banyak startup setiap tahun. Kalau ada startup, ya investasi. Kalau tidak ada, ya tidak ada. Karena kami percaya entrepreneur yang natural. Seseorang yang mau keluar dari pekerjaannya sendiri, kemudian membuat membuat sesuatu dan punya visi untuk itu. Tahun ini, kami sudah investasi di dua startup, yakni Medico (startup Indonesia) dan AlgoMerchant (Singapura). Pada Februari ini kami ada dua startup lagi yang sudah closed.

Bisa dikatakan East Ventures adalah investor paling agresif di startup Indonesia saat ini?

Kami tidak merasa agresif. Biasa-biasa saja. internet ada problem, ada founder bagus, kami investasi. Kami tidak agresif, mungkin karena mereka yang lambat. Kami biasa saja.

Secara umum, bagaimana gambaran bisnis digital Indonesia 2016?

Tahun 2016, lebih seru. Yang pasti sektor healthcare, SaaS, dan education bakal berkembang. E-commerce makin besar, tapi enabler-nya dari startup pendukung e-commerce makin berkembang. Sektor financial technology masih menarik. Sharing economy atau on demand service juga punya peluang bagus.

Fokus East Ventures tahun ini di sektor mana saja?

Kami tidak benar-benar fokus. Kami lebih melihatnya begini, sektor mana di Indonesia yang tidak efisien atau software mana yang bisa membuat Indonesia lebih efisien. Tapi di Indonesia semua sektor tidak efisien, di mana-mana tidak efisien. Jadi kami akan masuk ke semua sektor. Yang penting ada technology driven. Harus ada fundamental teknologi yang bagus. Namun kami tidak mau ikut di goverment site. Kami hanya membantu pemerintah dengan menggunakan ilmu startup.

Startup seperti apa yang bisa didanai oleh East Ventures?

Startup yang potensi pasarnya besar. Fokus saya ke orang atau founder/entrepreneur-nya. Kami tidak peduli terhadap produk, karena produk itu tidak penting. Kalau founder-nya pinter, produknya pasti bagus. Jadi kami fokus ke orang. Kami mencari orang yang jujur. Entrepreneur yang bagus itu sangat dinamis. Dia memiliki karakter paradoks. Contoh, orangnya biasanya agak arogan, tapi di lain hal dia humble sehingga bisa dimentor. Biasanya punya leadership, tapi bisa juga mendengar. Kemudian generalis, tapi bisa juga ke detail. Biasanya pride-nya tinggi. Jadi entrepreneur itu punya dua sifat yang bertabrakan. Inilah yang kami cari. Mereka juga punya global knowledge, tapi tahu local execution. Ini penting sekali di Indonesia. Karena di Indonesia, ekosistemnya sulit sekali misalnya akses internetnya sulit, sehingga selalu worst skenario. Sedangkan di luar negeri, skenarionya bagus-bagus. Jadi di Jakarta, semua worst scenario.

Untuk itu, dia harus mengerti eksekusi lokal bagaimana, seperti market bagaimana, demografi orang bagaimana, dan lain-lain. Ferry Unari dan William Tanujaya (founder Traveloka dan Tokopedia) sudah masuk kriteria itu. Ferry tahu banyak hal, tapi humble. Rata-rata founder kami humble dan visionary. Kami paling suka founder yang tidak punya pengalaman. Jika dia bisa survive, maka dia bisa berhasil di mana pun. Dengan nekat, dia belajar cepat dan tidak punya atribut ini itu. Dengan tidak terukur itu, kemampuannya bisa meledak kapan saja. Saya ingin katakan, venture investing untuk early stage seed ini bukan IT bisnis, tapi investasi pada orang. Ini people bisnis, bukan IT bisnis. Tapi karena latar belakang saya IT, saya mengerti kalau ada founder mau bohongin saya (sambil tertawa).

Jadi apa saja persiapan startup yang ingin didanai East Ventures?

Yang dipersiapkan sebenarnya simpel, produknya vitamin atau pain killer? Kemudian jelaskan dan potensi pasarnya bagaimana? Dari situ, kami sudah bisa membaca sih, cocok atau tidak untuk didanai. Itu saja. Satu hal, kami tidak pernah investasi di startup yang sama atau yang bersaing. Sehingga semua startup yang didanai East Ventures bisa menjadi teman semua. Kami juga kurang tertarik investasi di inkubator dan media sosial.

Key performance indicator (KPI) apa saja yang Anda tuntut kepada founder startup?

Ngak ada. Mana ada KPI. Proses kami yang penting adalah produk/market fit. Definisinya, saat bikin sesuatu, bisa keluar dua hal. Pertama, bikin vitamin yang dimakan oke, tidak dimakan juga tidak apa-apa. Jadi produknya penting atau tidak penting. Kedua, bikin pain killer, seperti panadol, obat sakit kepala. Jadi kami mencari orang yang bikin pain killer, karena solving problem.

Bagaimana strategi Anda agar investasinya bisa berhasil di startup populer?

Karena founder-nya jago. Kami bantu mentorship di awal-awal. Spesialisasi East Ventures adalah product/market fit. Artinya, bagaimana membangun ide, dan mengembangkannya sampai menjadi produk yang bisa masuk ke pasar Indonesia. Jadi di startup itu, investornya memang bermacam-macam. Ada investor seperti East Ventures, yang fokus di tahap awal startup. Namanya early stage seed capital. Jadi kami arahkan bisa bikin produk. Jika produknya berkembang, ada lagi investornya. Namanya growth stage startup investing. Startup yang mau melakukan initial public offering (IPO), ada lagi investornya. Jadi kami fokus ke hulu, startup di fase paling awal, yakni product/market fit, artinya bagaimana membuat produknya cocok di pasar. Contoh simpel, kesalahan banyak founder di Indonesia. Dia melihat Facebook dan Instagram sukses, lalu punya ide membuat Facebook dengan 160 karakter. Bisa sukses? Tidak. Karena ini bukan 1+1. Anda harus mengerti, kenapa FB sukses, Instagram sukses. Kemudian produk ini pain killer atau vitamin? Kemudian kebiasaan masyarakat Indonesia seperti apa, smartphone jenis apa yang banyak dimiliki orang Indonesia, dan lain-lain. Tidak simpel. Inilah yang namanya product/market fit. Jadi founder-nya jago dulu. Kalau jago, dia mengerti yang begini.

Apa yang istimewa dari mentorship ala East Ventures?

Mentorship kami beda dengan venture company lain. Kami tidak mau mengarahkan startup harus melakukan banyak hal. Karena kalau diarahkan, kesuksesannya akan dibatasi oleh kemampuan kami. Yang kami lakukan adalah meminta startup melakukan yang terbaik, tapi kami kasih tahu jangan melakukan beberapa hal. Menghindari kesalahan lebih baik daripada mengajari mereka melakukan sesuatu. Dengan menghindari kesalahan, visi founder bisa dikembangkan sampai setinggi langit. Dengan memberi tahu, mempercepat startup bergerak, karena tidak melakukan kesalahan ulang. Misalnya, kami sarankan jangan menggunakan SMS blasting, karena operator tidak tahu profil pengguna. Tapi gunakan Facebook ads. Jadi kami tidak mau mengubah visi founder. Inilah yang membedakan East Ventures dibandingkan kompetitor. East Ventures kini menjadi community based. Kami memiliki 70 chief executive Office (CEO) startup dan sering berkumpul. Jadi East Ventures, di luar saya, adalah knowledge based terbesar di ASEAN.

Setelah punya coworking di Jakarta, kami ingin berbagi knowlegde. Maka itu, kami membuat event setiap dua pekan sekali Ini bakal menjadi fondasi untuk komunitas teknologi di Indonesia berkembang. Bagaimana membuat ekosistem Indonesia lebih bagus, bagaimana lebih kompetitif di region dan global. Tapi harus ada fondasinya dulu. Ini yang sekarang kami kerjakan. Hanya East Ventures yang bisa kerjakan, karena portofolio kami cukup banyak. Studi kasus juga sudah banyak dan CEO kami kompak semua. Dengan begitu, sinerginya sangat kuat. East Ventures menjadi community based venture baik untuk portofolio sendiri maupun orang luar. Itu yang membuat kami sangat berbeda. Kalau startup didanai East Ventures, begitu masuk ke komunitas East, ilmu yang didapat 2 tahun di luar, dalam waktu dua pekan bisa didapat dari kami. Dan kesempatan dia untuk berkembang juga lebih cepat.

Bisa digambarkan soal success ratio dari investasi selama ini?

Kami baru lima tahun dan ini bisnis jangka panjang. Jadi failure ratio yang kami hitung. So far, failure ratio kami sekitar 20%. Artinya, dari 5 startup yang diinvestasi, satu startup mati. Ini masih oke, jika dibandingkan dengan failure ratio di Silicon Valley, Amerika Serikat. Di sana, dari 10 startup yang diinvestasi, mati sembilan. Buat kami, failure ratio (FR) semakin tinggi, semakin bagus. Artinya investornya semakin high risk, karena berani investasi. Semakin tinggi FR, inovasi bakal semakin bagus. Karena yang gagal-gagal itu, hanya keberhasilan yang tertunda. Yang gagal-gagal itu, kalau bikin baru pasti berhasil, jika tahu di mana letak kegagalan sebelumnya.

Rugi dong?

Pasti rugi, tapi bisnis kami memang high risk dan investasi jangka panjang. High risk, karena tidak ada agunan. Mau bagaimana.

Apakah East Ventures sudah meraih profit dari investasinya?

Soal profit nantilah, sekarang banyak doa saja. Ini serius. Di dunia venture company, ada istilah spray and pray. Kami sekarang pray playing had, mudah-mudahan jadi. Ini high risk sekali, sehingga sangat sulit menghitung kami untung atau rugi. Namun apa yang terjadi di Amerika Serikat bisa menjadi benchmark. Misalnya di sana, rata-rata selama 7-8 tahun, satu perusahaan startup bisa melakukan IPO. Kami baru tahun kelima. Nah, dua tahun lagi saya akan menjawab pertanyaan Anda soal untung-rugi. Sekarang burn mode, tapi memang karakter bisnisnya begini.

Jadi exit plan dari East Ventures seperti apa?

Exit Plan kami startup-nya dibeli atau melakukan IPO. Yang penting fokus sekarang adalah value creation.

Apakah ada formula dari setiap investasi East Ventures?

Tidak ada formulanya, karena ini sesuatu yang baru. Dari sisi startup, kami mulai investasi di bawah US$ 500 ribu per startup. Jumlah tepatnya susah dikatakan.

Investasi paling besar?

Kami tidak pernah umumkan angka investasi di Indonesia, berbeda dengan di Singapura. Karena supaya kompetitor bingung. Jadi silakan tebak-tebak saja. (Investasi terbaru East Ventures di 2016 adalah AlgoMerchant, asal Singapura di sektor financial technology, sebesar Sing$ 1,3 juta atau sekitar US$ 910 ribu).

Dari mana saja investor East Ventures?

Investor kami berasal dari Jepang dan Singapura. Mereka mau menjadi investor, karena mereka tahu potensi Indonesia besar. Cuma itu. Investor kan maunya begitu. 40% populasi ASEAN ada di Indonesia. Dan Indonesia homogen, semua berbahasa Indonesia. Dengan investasi lebih dulu di Indonesia, potensi berhasil juga lebih dulu. Investasi di East Ventures mirip olahraga selancar air. Saat ombak datang, kita harus datang dan berdiri di posisi tepat. Wave yang bakal datang apa di Indonesia? Rising of middle class dan bonus demografi, sehingga pertumbuhan ekonomi meningkatkan. Dengan begitu kesejahteraan naik, daya beli naik, Mobile lifestyle juga. Itulah wave-nya. Kalau investasi terlalu cepat, 8 tahun lalu, tidak terjadi apa-apa. Tapi kalau investasi sekarang, agak telat, karena semua sudah bergerak. Maka itu kami bergerak cepat.

Jadi saran Anda terhadap startup dan investor di tahun 2016?

Core dari ekonomi Indonesia adalah entrepreneurship dan bukan modal. Untuk startup, kalau mereka percaya mau melakukan sesuatu, maka kerjakan dengan cepat. Karena ombaknya sedang tinggi sekarang. Dari sisi investor di ASEAN, kalau tidak masuk ke Indonesia, salah besar. Potensi ASEAN ada di Indonesia. Buat pemerintah, ini paling penting, jangan utak-atik industri ini. Pemerintah fokus membikin aturan main yang sama. Level playing field. Mau asing, mau lokal, sama saja, Tidak harus ada proteksi. Orang Indonesia sudah pinter kok. Dan pemerintah harus bisa membuat industri ini lebih cepat. Jangan takut. Industri ini cepat sekali perkembangannya, tidak usah dibimbing. Saya pernah bicara dengan Presiden Jokowi. Saya katakan, tanpa dibantu saja industri ini bisa berlari. Kalau dibantu, kami bisa terbang.

Ada kekhawatiran dominasi investor asing di bisnis digital Indonesia?

Bisnis ini bukan bisnis tradisional. Di mana ada investasi, investor ambil majority dan dikontrol. Di bisnis digital, si founder selalu berdiri paling depan dan dapat insentif paling banyak. Investor berdiri di belakang dan membimbing. Kami tidak pernah memilih investor yang membawa uang paling banyak, tapi investor yang membawa ilmu yang bisa dibagi, transfer teknologi, itu namanya smart money. Kalau uang saja, itu namanya dumb money. Bisnis ini tidak bisa diduplikasi. Kekuatannya ada di founder, bukan si investor. [war]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini