Cari fakta pakai mata-mata swasta

Senin, 11 Desember 2017 07:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Ilustrasi detektif. ©istimewa

Merdeka.com - Hati wanita 40 tahun itu tengah gelisah. Sang suami tak lagi mesra. Bahkan tidak betah berlama-lama di rumah. Seperti ada sesuatu. Mencurigakan. Hingga akhirnya tercium rumah tangganya tengah kehadiran orang ketiga.

Demi membuktikan kecurigaannya, wanita itu mencoba mencari tahu sendiri. Membuntuti ke mana suaminya pergi. Semua dilakukan sendiri. Tetapi sulit. Suaminya sulit dilacak. Mainnya rapih. Bahkan kerap mengelak ketika ditanya soal keberadaan wanita idaman lain.

Sempat putus asa. Wanita itu putar otak. Mencari segudang cara. Demi membuktikan adanya orang ketiga selama ini mengganggu prahara rumah tangganya. Hingga muncullah sebuah ide. Di luar dari kebiasaan. Dia memakai jasa detektif swasta (partikelir). Setelah lama berselancar di dunia maya.

Menyewa jasa detektif diyakini memecah kebuntuan. Sebab, selama ini banyak kendala dialami selama membuntuti sang suami. Terutama masalah waktu. Dalam pencarian agen di dunia maya, wanita itu jatuh pada situs www.jasamatamata.com. Sebuah biro jasa detektif partikelir didirikan seseorang bernama Jay sejak tahun 2000.

Tanpa pikir panjang, dia langsung nomor kontak di situs tersebut. Di ujung telepon, Jay menyapa dan menanyakan keperluannya. "Hari itu saya langsung telpon dan konsultasi," kata wanita berinisial Ci kepada merdeka.com, Jumat pekan lalu.

Awalnya, Ci sempat ragu dengan biro jasa detektif partikelir ini. Apalagi tengah marak kasus penipuan kala itu. Dia khawatir. Sebab, Jay tak pernah mau bertemu dengan kliennya. Perlahan dirinya mulai percaya. Setelah Jay memberikan penjelasan rinci Tentang cara kerja para agennya.

Lewat sambungan telepon, kata Ci, Jay melakukan penawaran harga dalam setiap kasusnya. Deal. Keputusan wanita itu bulat. Lalu Ci membayar uang muka 50 persen dari harga ditentukan. Hingga pada awal Januari tahun 2016 lalu, operasi pengintaian kepada sang suami dilakukan.

Untuk harga kasus perselingkuhan dengan target menggunakan transportasi motor, biasanya biro jasa ini memasang tarif Rp 20 juta untuk satu kali kontrak. Setiap kontraknya berlaku 7-10 hari. Selama penyelidikan, klien berhak meminta bukti dalam bentuk foto atau video. Bahkan bila perlu informasi lokasi target.

Tarif itu juga bisa bertambah. Bila target beraktivitas menggunakan kendaraan mobil maka biro detektif ini mematok harga mulai dari Rp 40 juta. "Uang DP (uang muka) itu buat operasional agen di lapangan saat pengintaian," ungkap Jay kepada merdeka.com, Jumat pekan lalu.

Untuk kasus perselingkuhan, kata Jay, tak butuh waktu lama untuk dilakukan penyelidikan. Ini merujuk pada siklus seksologi wanita dan pria. Biasanya para target akan bertemu dengan simpanan atau selingkuhannya seminggu sekali. Sebab pria memiliki siklus seks setiap 5-7 hari. Karena itu masalah perselingkuhan bisa diselesaikan dalam waktu 7-10 hari.

Setelah uang muka di tangan, Jay akan meminta identitas target dan pelbagai kebiasaannya. Uang muka dirasa perlu. Semua demi mempermudah kinerja para agennya di lapangan. Semua uang itu diserahkan kepada agen. Jay kerap pula menambahkan terlebih dahulu. Bahkan pernah menalangi kebutuhan operasional hingga Rp 60 juta. "Kalau kurang ya saya yang nombokin," ucap dia.

Dari tiap kasus, Jay mengungkapkan, hanya mendapatkan Rp 3 juta. Sisanya diberikan kepada agen sebagai upah kerja dan modal untuk melakukan penyamaran.

Biasanya, dalam menjalankan satu kasus tak hanya dikerjakan satu orang agen. Ada 10 agen siap bekerja. Namun di antara mereka juga tidak ada saling mengenal. Meski begitu, tak jarang juga satu kasus bisa diselesaikan oleh seorang agen. Para agen Jay tak pernah berkomunikasi dengan klien. Semua laporan agen langsung melalui Jay. Lalu dia memberikan informasi dari lapangan kepada para kliennya.

Sistem kerja ini diamini salah seorang agen berjuluk 'Right Eye'. Sudah empat tahun bekerja sebagai detektif swasta. Wanita berkacamata ini mengatakan setiap laporan pengintaian langsung dilaporkan kepada atasannya. Dalam hal ini adalah Jay.

"Jadi dari agen di lapangan langsung ke atasan, agen enggak komunikasi dengan klien," ungkap Right Eye kepada merdeka.com, Kamis pekan lalu.

Right Eye mengaku banyak trik dalam membongkar kasus perselingkuhan. Memecahkan pelbagai dugaan dari klien. Tetapi, ada pula kasus perselingkuhan sulit dipecahkan. Biasanya si target terbilang rapi dalam menyembunyikan orang ketiganya. Untuk kasus seperti ini, terkadang membutuhkan waktu hingga beberapa pekan. Tak jarang pula dia harus membuntuti target sampai keluar kota maupun luar negeri untuk mencari bukti dugaan perselingkuhan.

Setelah mendapatkan bukti, para agen langsung melaporkan hasil pengintaian. Bila klien merasa cukup maka kasus dinyatakan ditutup. Lalu Jay dan para agen akan menghapus semua bukti buat kliennya. Tugasnya selesai. Kontraknya habis. Klien wajib memenuhi sisa pembayaran.

Selama memakai jasa detektif partikelir, Ci mengaku sangat puas. Bahkan selama ini sudah tiga kali menggunakan biro jasa ini untuk mengungkap kasus dugaan perselingkuhan suaminya. Sebab sang suami terbilang Playboy dan bermain rapi. Namun, dari laporan ditemui di lapangan terhitung canggih karena bisa menemukan tiap lokasi perselingkuhan suami. Salah satunya di hotel dan bergonta-ganti wanita.

Semua laporan dari detektif partikelir ini menjadi bukti di sidang perceraiannya. Akhirnya hakim pengadilan mengetok palu dan mengabulkan permohonan cerai Ci dan suaminya. "Saya puas sama kinerjanya."

Bukan hanya kasus perselingkuhan. Jasa detektif partikelir ini juga kerap diminta menangani masalah persaingan bisnis. Mencari tahu kelemahan lawan. Bahkan menyelidiki latar belakang seseorang pun bisa dikerjakan para agennya.

"Ada juga yang pakai jasa kita untuk menyelidiki latar belakang calon menantunya. Bahkan ada yang tinggal besoknya nikah, tahunya malah pergi ke vila sama wanita lain," tutur Jay.

Soal biaya, tentunya tak sama dengan kasus perselingkuhan. Bayarannya disesuaikan dengan tingkat kesulitan dan lama pengerjaan. Apalagi terkait persaingan bisnis. Terutama guna mendapat pelbagai data dari perusahaan. Jay mengaku tarifnya bisa lebih besar. Namun, dia enggan membeberkan besaran tarif untuk kasus jenis ini.

Meski begitu, diakui Jay, kasus perselingkuhan lebih dominan. Tren kasus perselingkuhan juga meningkat seiring dengan perkembangan teknologi. Namun, kehadiran media sosial juga mempermudah penyelidikan. Apalagi di kota besar. Perselingkuhan ada paling sering terjadi.

Dari data dimilikinya, Jay menyebut sekitar 60 persen kliennya berasal dari Jakarta. Urutan kedua ada di Bandung, lalu Bali dan Surabaya. Hal ini membuat Jay memiliki agen di berbagai wilayah di Indonesia. Yakni di pulau Jawa ada 170 agen, 33 di Bali, 12 Makassar, 35 di Kalimantan, 17 di Papua dan 119 di Batam.

Padahal ketika memulai bisnis detektif Partikelir, Jay melakukan semuanya sendiri. Beberapa temannya sempat heran dengan pekerjaannya. Dia kerap mondar-mandir dari satu kota ke kota lainnya. Kepada temannya dia mengaku tengah menjadi mata-mata. Beberapa temannya pun tertarik untuk bekerja sama. Maka pada tahun 2000 dia mendirikan biro jasa detektif partikelir Jasa Mata Mata dengan lima temannya.

Seiring berjalannya waktu banyak kasus datang dan banyak pula berminat menjadi detektif. Namun, dia tak sembarangan dalam merekrut agen. Ada serangkaian proses untuk bisa bergabung sebagai agen. [ang]

Topik berita Terkait:
  1. Detektif Swasta
  2. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.