Bisnis jembatan solusi

Kamis, 25 Juni 2015 11:05 Penulis : Sapto Anggoro
Bisnis jembatan solusi Uber-Gojek-OLX. ©istimewa

Merdeka.com - Membaca judulnya tentu Anda akan berpikir secara harfiah dan fisik, akan bisnis jembatan. Tapi dengan tambahan kata solusi, maka Anda akan berpikir lain. Mungkin ini bukan istilah yang pas, tapi saya mengartikan demikian.

Apakah yang dimaksud dengan bisnis jembatan solusi tersebut? Begini, bahwa masyarakat modern saat ini, dimudahkan dengan banyak piranti-piranti yang mendukung untuk menjual dan sekaligus mendapatkan sesuatu. Aplikasi yang memudahkan orang untuk menjual dan membeli.

Untuk memenuhi kebutuhan traveling, bisa memanfaatkan aplikasi Traveloka, Tiket.com, Agoda, Booking.com, Airbnb, SkyScanner, dan lain-lain. Transportasi darat, bisa pakai GoJek, GrabTaxi, atau aplikasi yang dikembangkan sendiri oleh Blubird atau Express Taksi.

Untuk belanja, mau yang toko online baik yang model toko online dimanage langsung seperti Bhinneka, hemat.com, atau pemberi fasilitas buat penjual-pembeli macam Lazada, Elevania, OLX (ex-TokoBagus), BukaLapak, dan lain-lain.

Saya menyebutnya itu sebagai bisnis yang memberikan jembatan solutif bagi penjual jasa atau produsen kepada konsumen (B2C). Para pemain jembatan ini bukan produsen dan juga bukan konsumen, tapi sebagian besar mereka adalah pihak tengah yang menjembatani pertemuan antara produsen dan konsumen.

Dengan adanya aplikasi-aplikasi yang mudah diunduh di handset dengan sistem operasi iOS, Android, BlackBerry, atau Windows tersebut, maka secara langsung memberikan solusi signifikan bagi kemudahan penjual untuk menawarkan barang dan jasanya ke publik. Sekaligus konsumen untuk mendapatkan barang atau layanan juga kian simpel.

Bila dahulu ini dilakukan oleh perusahaan tertentu dengan kantor tertentu, misalnya agen travel, agen wisata, agen penjualan, dan bermacam agen-agen lainnya, saat ini dengan mudah didapat dan langsung bisa digunakan, menghemat banyak biaya dan waktu karena ada di genggaman.

Bahkan saking canggihnya aplikasi-aplikasi itu, kita bisa langsung tahu tiket apa yang paling murah pada hari tertentu, dan bisa juga tahu hari apa yang bisa lebih murah lagi, mudah dikostumisasi sesuai dengan kemauan kita. Misalnya berdasar hari, berdasar harga, atau berdasar waktu, berdasar rating atau fasilitasnya dan sebaginya. Di satu sisi penjual fasilitas atau barang harus menjual dengan harga yang kompetitif, sehingga tidak bisa menawarkan sembarangkan agar tidak kehilangan peluang (opportunity lost), di sisi lain potensi penjualan semakin tinggi karena kemudahan informasi dan agen-agen itu ada di handset pengguna.

Keberadaan aplikasi yang menjadi jembatan solusi ini, seperti kata salah satu pengembang Uber, adalah mempertemukan atau membuktikan bahwa angka binary (biner) yang dipakai untuk coding program [1|0] bertemu dengan atom atau alam semesta. Bahwa bila dulu seolah program berdiri sendiri sehingga disebut dengan dunia maya karena seolah tidak berhubungan namun sekarang dunia maya dan nyata saling erat dan tidak ada bedanya.

Uber yang telah melakukan hal revolusioner, yang menjembatani para perusahaan persewaan mobil bersopir yang punya banyak jam kosong. Pemikiran bahwa Uber harus punya izin taksi adalah pemikiran feodal yang tidak mau izin trayek direvolusi. Sopir Uber sudah punya izin persewaan mobil, tapi kalau dulu sewa mobil dijual grosiran dalam harian, sekarang dijembatani jadi bisa sewa menitan (berdasar utilitas yang fair). Dengan menjadikan semua orang bisa menjadi konsumen sekaligus pemberi jasa memperkecil jumlah orang menganggur. Sayang di Indonesia tidak bisa berjalan karena terbentur bahwa taksi harus berizin. Namun konsep itu jalan di GoJek.

Kabar yang masih dalam penjajakan, bahwa Amazon selaku agen buku, dokumen dengan sistem penjualan delivery services, mengalami kesulitan ketika harus mengirim pada hari Munggu. Sebab partner pengirimannya seperti UPS atau FedEx tak beroperasi pada hari libur, sehingga dokumen yang segera jadi tertunda. Maka Amazon memutar otak dengan memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk menjadi tenaga delivery services sesuai dengan jalur yang diharapkan. Bila Anda biasa jalur Senayan-Kota, maka ketika ada tujuan tersebut maka Anda bisa mengambil kesempatan untuk menjadi pengantar barang tentu saja dengan bagi hasil yang jelas.

Bila saja model-model bisnis jembatan yang solutif ini berjalan, maka di masa depan mestinya semakin sedikit orang yang menganggur. Produsen atau penjual bisa jadi pembeli atau sebaliknya. Model-model pekerjaan delivery bisa dikembangkan di bisnis lainnya. Misalnya perusahaan penerjemahan bisa saja memiliki member non karyawan yang banyak, setiap ada terjemahan ke dalam dalam bahasa tertentu dan kasus tertentu (ekonomi, politik, hukum), bisa dikerjakan secara freelance.

Aplikasi mau tidak mau adalah jembatan netizen untuk menunjukkan bahwa budayanya akan mengubah dunia. Apa yang instan di internet, akan menjadi instan di dunia nyata. Apa yang global bisa menjadi solusi lokal.

Kalau ini sudah menyeruak dan berkembang, mestinya ke depan tidak ada orang menganggur, kecuali orang yang tidak punya kompetensi atau pemalas. Dunia memang telah dan terus berkembang dengan bertemunya binary dan atom.** [war]

Topik berita Terkait:
  1. Kolom Inspira
  2. Kolom Merdeka
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini