Atas nama vitalitas monyet dipapras

Selasa, 13 Desember 2016 07:02 Reporter : Hery H Winarno, Nuryandi Abdurohman
Atas nama vitalitas monyet dipapras 'Jamu' Monyet. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar sate monyet? Sudah barang tentu bikin bergidik. Namun faktanya sate dan sup monyet diperjualbelikan secara bebas di beberapa sudut Ibu Kota Jakarta.

Rabu (7/12) tim merdeka.com mendatangi kawasan Jalan Mangga Besar Raya di Jakarta Pusat. Selain di tempat tersebut, kawasan Tebet, Jakarta Selatan juga kami sisir untuk 'mencari' sate monyet.

Seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun berinisial S menyambut kami di warung tenda bertuliskan 'Jamu Tradisional' di atas kain kuning di Jalan Mangga Besar Raya. Gambar ular kobra mekar menjadi simbol jualannya. Di bawah gambar kobra tertulis daftar menu yang cukup bikin bergidik bagi yang tak biasa.

Sekitar pukul 19.30 WIB, S sudah sumringah. 8 Kobra ukuran sedang sudah dia eksekusi. Potongan kepala ular itu masih nangkring di atas kandang. Di dalam kandang, 9 ekor kobra tinggal menunggu giliran.

"Tadi restoran langganan minta 8 ekor. Ya lumayanlah," ujar S malam itu.

Seekor kobra dihargai Rp 200 ribu. Itu adalah harga paket, darah, empedu dan sate kobra. Namun kebanyakan pembeli hanya mengambil darah dan empedunya saja. Daging binatang berbisa itu ditinggal alias menjadi milik penjual.

Bagi yang ingin menyantap daging kobra, S tak segan membakarnya. Mula-mula kobra diambil dari kandang kawat. Kepala binatang berbisa itu dia jepit dengan kayu sejurus kemudian pisau tajam memisahkan kepala dari badan kobra. Darah yang mengucur lalu ditampung dalam cawan dan siap dihidangkan bersama satu seloki arak atau air perasan jeruk.

039jamu039 monyet

'Jamu' Monyet ©2016 Merdeka.com

Kobra lalu digantung dan dikuliti. Empedunya diambil untuk kemudian diserahkan kepada pelanggan agar segera ditelan. Badan ular lalu dicincang dan siap dibuat sate.

"Kalau sup monyet pesan dulu seporsi sup kepala monyet Rp 300 ribu. Bayar sekarang besok tinggal datang makan. Gak bisa dadakan kaya makan ular," ujar S setengah berbisik.

Di kedai lain seorang perempuan yang enggan disebutkan namanya juga menjual daging monyet. Namun bukan kepala hanya daging yang dibuat sup. Itu pun sama, harus pesan dulu tak bisa langsung makan di tempat.

"Kalau mau sup monyet minimal pesan 3 porsi. Satu porsi Rp 75 ribu. Uang kasih sekarang, besok tinggal datang sudah ada. Daging monyet kan susah, ngumpet-ngumpet belinya," ujar perempuan yang rambutnya terurai dan memutih itu. "Buat apa sih? kalau gatal mah pakai saja ini salep atau minyak ular. Minyak biawak juga ada," ujarnya.

Setiap penjual 'jamu' monyet memang biasa meminta uang di muka. Hal ini untuk menghindari kerugian. "Bisa jadikan sudah pesan kita siapkan dagingnya orangnya gak datang. Rugi kita. Gak semua orang bisa makan monyet. Jarang juga yang beli, banyaknya ular," ujar perempuan tersebut.

Namun ke dua penjual daging monyet itu enggan memberi tahu di mana dan berapa mereka membeli daging monyet. Yang jelas, pembelian monyet baik hidup atau mati untuk dijadikan santapan itu mesti ngumpet-ngumpet.

"Ya kalau ada yang mau pesen kita siapkan pokoknya. Asal bayar di muka saja. Kita juga mesti hati-hati jualan begituan," ujarnya.

039jamu039 monyet

'Jamu' Monyet ©2016 Merdeka.com

Di kawasan Tebet seorang penjual 'jamu' lainnya sedang ada stok sate monyet. Namun tidak banyak stok yang dia miliki. Hanya 30 tusuk. Sepuluh tusuk dijual seharga Rp 60 ribu.

"Kita adanya sate monyet, sup daging apalagi kepala kita gak jual. Kalau mau kita bakarin mumpung barangnya ada," ujar N, penjual sate monyet itu.

Sama seperti kedai di Mangga Besar, N yang juga perempuan ini menjual ular sebagai menu utama di tenda kuningnya. Namun harga yang ditawarkan lebih murah. Untuk sepaket kobra ukuran sedang dijual Rp 150 ribu sedangkan yang besar Rp 200 ribu. Kobra ukuran sedang memiliki kepala sebesar jempol tangan orang dewasa, sedangkan yang besar kepalanya sebesar jempol kaki orang dewasa.

Tak lama berselang, seorang pembeli mendatangi warung tenda di atas trotoar itu. Dia memesan satu porsi sate monyet untuk dibungkus.

"Kata orang-orang sate monyet bisa buat nyembuhin asma selain itu katanya juga buat obat kuat. Tahu tuh bener apa nggak?," ujar N itu.

N mengaku sudah 5 tahun berjualan ular kobra. Tetapi untuk sate monyet tak setiap hari ada. Dia hanya menyediakan bila memang bisa mendapatkan daging primata itu. N mengaku menyediakan daging sedangkan kepala monyet tak pernah menjualnya.

Informasi yang diperoleh merdeka.com, para PKL penjual sate dan sup memang hanya mendapatkan daging, sedangkan kepala monyet dijual ke restoran. Monyet yang mereka jual sama jenisnya, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

039jamu039 monyet

'Jamu' Monyet ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com akhirnya bertemu dengan seorang pemuda yang pernah menyantap daging monyet. Pria yang akrab disapa Nunu itu pernah menyantap sup otak monyet. Kejadian itu terjadi pada tahun 2008 lalu. Saat itu Nunu diajak teman-temannya untuk mencoba sup otak monyet di bilangan Darmawangsa, Jakarta Selatan.

"Saya pernah nyoba satu sendok kecil otak monyet, rasanya agak pahit githu," ujar Nunu kepada merdeka.com.

Sejak itu dia tak mau lagi memakan sup otak monyet yang katanya obat vitalitas itu. Nunu pun pernah mencicipi sate monyet di kedai Ibu N di Tebet.

"Rasanya lebih alot dari daging sapi. Bikin ke badan panas," ujar Nunu.

Lalu benarkah memakan monyet bisa menambah vitalitas? [hhw]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini