Angel investor di startup sekitar kita
Merdeka.com - Gaya hidup digital saat ini semakin tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, terutama di kota-kota besar. Lewat penetrasi internet yang tinggi, platform web dan mobile, masyarakat urban semakin tergantung dengan gaya hidup ini.
Menggunakan smartphone, cara hidup kita tampak lebih mudah dan praktis. Smartphone tak hanya untuk berkomunikasi, tapi juga untuk jualan, belanja kebutuhan sehari-hari, ride sharing, hingga untuk kebutuhan dunia kerja.
International Data Corporation (IDC) menyebutkan pada 2015 terjadi kenaikan pengiriman smartphone ke Indonesia sebesar 17,1% menjadi 29,3 juta unit dibandingkan 2014. Data dari We Are Social melaporkan akses internet via mobile di Indonesia menembus 318,5 juta atau 125% dari populasi.
Tren gaya hidup digital tersebut kemudian mendorong banyak perusahaan teknologi (startup) dibangun. Portal web dan aplikasi mobile menjadi produk yang sangat masif, terutama sejak dua tahun terakhir, yang sekaligus mengembangkan ekonomi digital di tanah air. Portal atau aplikasi dagang online atau e-commerce menjadi jangkar dari pertumbuhan ini. Nama-nama e-commerce menjadi beken karena produk ini biasa digunakan untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sebut saja Tokopedia, Bukalapak, Blibli, Lazada, Mataharimall, dan lain-lain.
Bagai cendawan di musim hujan, situs e-commerce ini menjadi enabler bagi situs atau aplikasi yang tak kalahnya populer di sini, seperti aplikasi jasa kurir (Go-Jek) dan financial technology (Veritrans). Aplikasi lain yang juga beken adalah Kaskus (forum komunitas online), Traveloka (tiket pesawat online), Bridestory (wedding organizer), Scoop (konten berita), OLX (iklan baris), dan lain-lain. Diperkirakan ada 1.500 startup di Indonesia saat ini. Kementerian Komunikasi dan Informatika menargetkan 1.000 startup bisa diciptakan di Indonesia pada 2020, dengan support antara lain dari Google Inc.
Nama-nama beken aplikasi itu diukur dari paling banyak diunduh di sistem operasi mobil seperti Android dan iOS, serta jumlah pengguna aktifnya. Nadiem Makarim pernah menargetkan aplikasi Go-Jek diunduh 10 juta pada tahun ini dari posisi 5,5 juta di akhir 2015.
Makin beken dan tinggi penggunanya satu aplikasi, tentu memiliki value lebih baik dibandingkan aplikasi sejenis. Beberapa riset menyebutkan beberapa startup Indonesia sudah pantas bervaluasi miliaran dolar (unicorn startup). Startup tersebut antara lain Go-Jek dan Tokopedia, yang ditandai dengan masuknya investor asing Sequoia Capital dan Softbank dengan investasi US$ 100 juta di Tokopedia pada 2014.
Jangan lupa, di balik kesuksesan satu startup tentu banyak faktor yang menyertainya. Yang pasti, tentu faktor pendiri atau founder, investor, dan produknya sendiri. Satu startup belum tentu bisa berhasil, bahkan menjadi unicorn, tanpa dukungan investor awal, yang biasa disebut angel investor. Karena hanya angel investor lah yang percaya dan berani mengambil risiko terhadap satu konsep produk si startup, saat investor lain tidak berani. Tanpa memperhitungkan imbalan atau return, angel investor berdiri paling depan bersama founder dengan keyakinan sama, plus risiko terbesar, untuk mengembangkan gagasan menjadi produk.
Andi S Boediman, Managing Partner Ideosource, berpendapat angel investor adalah entrepreneur yang berani mengambil risiko dengan berinvestasi di startup yang baru beroperasi atau fase awal. "Angel investor biasanya memberikan modal, tapi bisa juga non-modal," ujar Andi yang baru-baru ini berinvestasi di Bhinneka.com.
Definisi lebih clear datang dari Andy Zain, founding partner Kejora Group dan Direktur Jakarta Founder Institute. Kata dia, angel investor biasanya orang yang memiliki ketertarikan atau hobi atau kemampuan dalam bidang teknologi sehingga berani berinvestasi.
Mereka juga biasanya mengambil peran lebih aktif dan kadang menjadi mentor dari startup yang diinvestasi. Angle investor adalah investor pertama yang masuk dan investasi ke startup. Biasanya mereka masuk saat produk masih dalam tahap awal, baru konsep saja, atau masih prototipe. Nilai investasinya sekitar Rp 100 juta hingga Rp 300 juta.
"Angel investor itu penting karena pada tahap awal startup belum ada hasil yang cukup untuk menarik investasi dari venture company, yang banyak mementingkan retur dan lebih suka memilih startup atau produk yang risikonya lebih kecil atau sudah mapan," ujar Andy Zain.
Di Indonesia, nama-nama angel investor di startup cenderung tertutup rapat. Tak heran, seperti istilahnya, angel investor ini kebanyakan anonim. Namun, beberapa pengusaha di bawah ini berani mengumumkan namanya sebagai angel investor di beberapa startup, yang sering kita gunakan produk/aplikasinya. Berikut nama-nama angel investor di startup sekitar kita:
Pertama, Shinta Dhanurwardoyo atau dikenal Shinta Bubu, perintis perusahaan internet di Indonesia. Shinta mengaku sudah berperan sebagai angel investor di banyak startup. Ada startup-nya yang masih bertahan, tapi ada juga startup yang sudah mati. Saat ini Shinta mengaku menjadi angel investor di startup Catfiz (aplikasi messaging dan sosial media), Kartoo (financial technology-dalam proses inkubasi), DreadOut (aplikasi game horor), dan DewaNation (social networks berbasis negara).
"Saya tidak hapal nama-namanya, karena banyak sekali. Semua menggunakan personal money, karena saya memiliki minat dan passion di startup," ujar Shinta.
Tak puas sendiri, akhir 2015 Shinta membentuk klub angel investor yang dinamakan Angel-eQ Network. Jaringan angle investor ini terdiri dari 15 pengusaha pendiri, antara lain Adi Sariaatmadja (SCTV Group), Budi Sadikin (mantan Dirut Bank Mandiri), Emil Abeng, Erick Thohir (pemilik Mahaka Group), Erik Meijer, Harry Nugraha, Sandiaga Uno, dan Tony Fernandes (CEO Air Asia).
Baru-baru ini, klub 15 angel investor ini melakukan pitching terhadap ratusan startup yang berminat didanai. "Saya katakan ini klub, karena kami mempunyai minat yang sama terhadap startup. Visi kami adalah aktif menciptakan perusahaan teknologi Indonesia yang besar sekali dengan skala global," ujarnya.
Kedua, Victor FungKong, pendiri sekaligus chief executive officer/CEO PT Indonusa Dwitama, perusahaan yang bergerak di bisnis teknologi informasi dan internet, jasa keuangan, sumber daya mineral, dan energi. Di bisnis teknologi informasi dan internet, Indonusa memiliki saham di Tokopedia.com, Docotel.com, dan lain-lain.
Menariknya, di Tokopedia, situs e-commerce nomor satu di Indonesia, Victor bukan hanya berperan sebagai angel investor, tapi bisa dikatakan founder. Karena selain mendanai di tahap-tahap awal Tokopedia pada periode 2009-2010, Victor juga aktif memberikan ide-ide dan hasil risetnya kepada William Tanujaya dan Leontinus Alpha Edison, saat Tokopedia masih berupa gagasan atau ide, mulai dari bisnis model hingga strategi bisnisnya. Maklum saja, Victor sudah berpengalaman di bisnis internet dengan membangun startup sejak 2000 di Amerika Serikat. Sementara sejak 2007 William dan Leon adalah karyawan Indocom Group, kelompok usaha milik Victor.
Kemudian Victor, Leon, dan William mendirikan Tokopedia, yang pendaftaran hak merek Tokopedia dilakukan sendiri oleh Victor pada Desember 2008 hingga Tokopedia berdiri sebagai perusahaan pada Februari 2009. Operasional dipercayakan kepada Leon dan William yang secara profesional digaji di Tokopedia. Pada 6 Februari 2009, Victor mendirikan akta perusahaan PT Tokopedia dan menyatakan siap berinvestasi sendiri di Tokopedia.com (bootstraping), saat Tokopedia tidak berhasil mendapatkan investor.
Berdasarkan akta perusahaan PT Tokopedia, Victor berkomitmen investasi Rp 2,4 miliar sehingga memiliki saham sebesar 80% di Tokopedia. Sisanya dimiliki oleh William dan Leontinus, masing-masing 10%, padahal keduanya tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.
Selain mendanai Tokopedia di tahap awal, Victor juga membantu operasional Tokopedia hingga masuk East Ventures sebagai investor pertama Tokopedia pada Januari 2010. Seperti dalam hal ide, strategi, bisnis model, masalah legal, keuangan, bank, akuntansi, perpajakan, dan pemilihan mitra strategis seperti dengan East Ventures. Berkat Victor, di awal-awal usaha, Tokopedia mendapat bantuan sumber daya manusia yang berasal dari karyawan PT Indonusa yang mengurusi masalah operasional seperti keuangan, akuntansi, dan legal.
Ketiga, Danny Oei Wirianto, Chief Marketing Officer GDP Venture, perusahaan modal ventura lokal milik Djarum Group. Danny mengaku menjadi angel investor di startup seperti Kaskus (Indonesia), Carousell (Singapura), serta Ryce dan Eaze, keduanya berbasis di Amerika Serikat. Dengan pengalaman 20 tahun di dunia internet, Danny berani menginvestasikan personal money-nya.
Meski tidak menyebutkan secara spesifik, Danny memperkirakan dana yang dikucurkan angel investor berkisar Rp 50 juta hingga Rp 1 miliar, tergantung kondisi keuangan si angel investor.
"Keuntungan menjadi angel investor adalah apabila sebuah startup berhasil ke pendanaa series A, B atau selanjutnya, kita bisa melihat kenaikan yang signifikan dari value seed investment kita di startup. Namun, angel investor juga lebih berisiko tinggi, keberhasilan dari satu startup belum pasti dan kebanyakan mati sebelum pendanaan berikutnya," ujar Danny yang pernah membuat startup, antara lain Mindtalk.com, SemutApi Colony, dan MerahPutih Inc.
Keempat, Sugiono Wiyono, CEO PT Trikomsel Oke Tbk. Nama ini terkenal, karena banyak membantu entrepreneur muda yang baru membangun usaha di indistri digital Indonesia. Beberapa investasi Sugiono antara lain KapanLagi Network dan Mig33 yang kini berubah nama menjadi Migme.
Pada 2011, Sugiono antara lain bersama Andi S Boediman mendirikan Ideosource, perusahaan modal ventura lokal, dengan dukungan investor dari Indra Widjaja (Sinarmas Group). Hingga kini 22 startup telah mereka danai, antara lain 8wood (online fashion), Saqina (e-commerce), aCommerce, Orori (e-commerce), dan FemaleDaily (online media).
Kelima, Amir Sambodo lewat payung TeknoVentura. Bekas CEO Berau Coal ini tidak hanya investasi di startup teknologi digital, tapi juga teknologi lebih luas seperti pembangkit listrik. Startup yang sudah dibantu, antara lain T-files (vendor turbin pembangkit listrik tenaga arus laut), GNFI (media massa dengan platform sosial media), Bitread (platform penerbitan digital), Nuesto (software house untuk platform antrean online dan sosial media untuk masjid), beberapa startup dengan basis web.
"Investasi yang sudah dikeluarkan berkisar Rp 100 juta hingga Rp 1 miliar," kata Adie Marzuki, Komisaris TeknoVentura, saat ditemui di Jakarta, pekan lalu.
Kata Adie, seluruh startup yang didanai TeknoVentura berkembang cukup baik sesuai dengan skala bisnis di setiap sektor usahanya. "Kami tidak mengukur kecepatan payback period karena lebih mengutamakan pertumbuhan yang berkesinambungan. Yang jelas mereka semua berkualitas."
Keenam, Elisa Lumbantoruan, mantan direktur PT Garuda Indonesia Tbk. Elisa mengaku menjadi angel investor, tapi kurang serius karena berhenti sejak 2014. Namun, Elisa menolak menyebutkan nama-nama startup yang dibantu. Yang jelas, beberapa startup telah tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai harapannya.
"Beberapa startup saya bantu. Dananya tidak besar, sekitar Rp 25 juta hingga Rp 50 juta. Yang lebih signifikan sebenarnya bantuan pemikiran, seperti mentoring atau advisory," katanya.
Ketujuh, beberapa angel investor menggabungkan diri mereka dalam jaringan yang dinamakan Angel Invesment Network Indonesia (Angin). Sebut saja Shinta Kamdani, CEO Sintesa Group, Diono Nurjadin (CEO Cardig International), Izak Jenie (Direktur 7-Eleven Indonesia), dan lain-lain. (mdk/did)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya