Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Warga Pinggir Kali Gajah Wong Kelola Sampah Rumah Tangga Jadi Tabungan Hari Raya

Warga Pinggir Kali Gajah Wong Kelola Sampah Rumah Tangga Jadi Tabungan Hari Raya Ilustrasi sampah plastik. ©2019 Merdeka.com/Pixabay

Merdeka.com - Sore itu, sinar matahari sudah tidak terik saat sejumlah laki-laki duduk di tanggul dengan pancing menjulur ke badan sungai Gajah Wong di kawasan Warungboto, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Dari posisi duduk mereka, mata pancing di kedalaman tampak jelas karena air sungai jernih.

“Kalau Minggu pagi ramai, mbak. Setiap hari juga ada. Orang-orang suka mancing di sini karena sungainya bersih, nggak ada sampah-sampah,” ujar Sudaryanto (44), sembari mengaitkan umpan lumut pada mata pancingnya, Minggu (21/2/2021).

Sejak tahun 2002, warga di daerah aliran sungai Gajah Wong khususnya di kawasan Warungboto tidak lagi membuang sampah rumah tangga ke sungai. Berdasarkan penelusuran Merdeka, aliran sungai Gajah Wong di kawasan ini menjadi yang paling bersih dibandingkan yang mengalir di kawasan lain.

Di tahun yang sama, masyarakat mulai aktif turun ke sungai untuk membersihkan sampah. “Biasanya perwakilan RT, ya siapa yang mau. Tapi ngambilin yang di dalam sungai aja, kalau yang di pinggir-pinggir kayak itu (menunjuk sampah yang tersangkut di pohon bambu pinggir sungai, red) enggak,” lanjut Sudaryanto.

Dari tahun ke tahun, masyarakat Warungboto yang tinggal di daerah aliran sungai menunjukkan peningkatan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan sungai Gajah Wong. Di lingkungan itu, dulu ada kalanya satu dua orang masih membuang sampah rumah tangganya ke badan sungai. Namun, kini tidak ada lagi.

Meski demikian, masih ada warga dari lingkungan lain yang membuang sampah ke kawasan sungai. “Kalau malam-malam saya mancing masih ada yang buang sampah. Tapi itu bukan lingkungan sini. Orang seberang sana. Mereka buangnya ke semak-semak, enggak langsung ke sungai. Ya nggak tahu siapa, nggak kenal,” ungkap warga RT 30 Kelurahan Warungboto itu.

Sampah Jadi Tabungan Hari Raya

sungai gajah wong yogyakarta

©2021 Merdeka.com/Rizka Nur Laily Muallifa

Terkait pengelolaan sampah rumah tangga, ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) RT 30 Kelurahan Warungboto memiliki cara tersendiri. Setiap satu bulan sekali, pengurus PKK setempat membuka program bertajuk Bank Sampah Artomoro. Dalam kesempatan itu, para ibu membawa sampah rumah tangga yang bisa didaur ulang seperti botol plastik dan kardus untuk dijual kepada pengurus.

Siti Zulaihah (41), warga RT 30 Kelurahan Warungboto menceritakan bahwa pengurus PKK telah melakukan sosialisasi kepada warga untuk memilah sampah sesuai jenisnya sebelum dijual ke bank sampah. Pasalnya, masing-masing jenis sampah memiliki harga jual berbeda.

“Warga diberitahu untuk memilah sampah, misalnya botol plastik sendiri, kertas sendiri, kaleng sendiri, karena kan harganya beda-beda. Nanti ditimbang sesuai jenisnya,” ungkapnya.

Berbeda dengan RT lain yang rata-rata menaungi 40 kepala keluarga (KK), jumlah KK di RT 30 terbilang cukup banyak yakni kurang lebih 80 KK. Menurut penuturan Zulaihah, hampir seluruh warga aktif menyetor sampah di bank sampah.  

Para warga yang membawa sampah daur ulang ke Bank Sampah Artomoro tidak langsung mendapat uang di hari yang sama. Pengurus PKK dan warga setempat sepakat bahwasanya uang hasil penjualan sampah itu disimpan dalam bentuk tabungan terlebih dahulu. Selanjutnya, tabungan baru bisa dicairkan setahun sekali, tepatnya menjelang Hari Raya Idul Fitri.

“Dapatnya ya beda-beda, mbak. Ibu-ibu itu ada yang banyak dapatnya. Ada yang 100 ribu, ada yang 70 ribu, beda-beda,” imbuh Penyuluh Agama di KUA Umbulharjo itu.

Sampai kini, keberadaan Bank Sampah Artomoro baru sebatas sebagai pengepul sampah daur ulang. Setelah membeli sampah dari warga, para pengurus PKK RT 30 menjualnya kepada pengepul besar.

Meski demikian, keberadaan bank sampah yang dimulai sejak sekitar dua tahun silam itu memberi dampak baik bagi ekosistem sungai Gajah Wong sekaligus memberi nilai ekonomi bagi warga. Jika sebelumnya warga membuang segala jenis sampah, kini mereka memilah jenis sampah mana saja yang bisa dijual ke bank sampah.

Uang hasil penjualan sampah daur ulang itu bisa digunakan untuk menambah pendapatan rumah tangga, khususnya untuk memenuhi kebutuhan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Sementara sampah daur ulang dijual ke bank sampah, para warga membuang sampah jenis lain ke tempat pembuangan akhir (TPA), bukan ke sungai.

“Sudah nggak ada yang buang sampah ke sungai, mbak. Ya ada beberapa yang langsung membuang sendiri ke TPA, ada juga yang langganan bayar, jadi petugas sampah ngambil ke rumah. Sekarang sudah mau, dulu kan enggak mau, karena harus turun dulu (dari jalan raya, red), nanti naik lagi. Sekarang udah mau turun (petugasnya),” terang perempuan yang sehari-hari mengajar TPA di masjid setempat.

Sampah Jadi Komoditas Ekonomi

sungai gajah wong yogyakarta

©2021 Merdeka.com/Rizka Nur Laily Muallifa

Rika Anggraini, Direktur Komunikasi dan Kemitraan Yayasan KEHATI mengungkapkan, penting untuk mendorong sungai-sungai di Indonesia menjadi bersih.

“Untuk komunitas di daerah sungai, kita perlu memperhatikan bagaimana upaya pemberdayaan masyarakat, karena sesungguhnya setiap ekosistem sangat penting melibatkan masyarakat dalam setiap program,” ujarnya dalam sambutan pada Webinar Pengelolaan Sampah Berbasis Pemberdayaan Masyarakat di Daerah Aliran Sungai, Jumat (19/2/2021).

Dalam kesempatan yang sama, Manajer Program Kehutanan Yayasan KEHATI, Imanuddin Utoro menegaskan, sampah menjadi masalah yang sangat serius.

“Harus ada upaya serius dari kita semua, baik pemerintah maupun masyarakat untuk menyelesaikan masalah ini. Tidak mungkin masalah sampah diserahkan jadi tanggung jawab pemerintah saja, tidak mungkin. Ini adalah masalah kita bersama, mari kita selesaikan bersama,” ujar lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu.

Dalam jangka panjang, sampah menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca sebanyak 6 persen. Angka ini terbilang kecil jika dibandingkan dengan faktor penyebab lain emisi gas rumah kaca, namun tidak lantas bisa diabaikan begitu saja.

Jika ditarik pada ruang dan waktu yang lebih sempit, masalah sampah juga berdampak langsung bagi ekosistem, yakni terjadinya polusi udara, air, tanah, hingga kematian aneka satwa.

Sampah menjadi masalah sangat serius jika tidak dikelola dengan baik. Sebaliknya, sampah juga memberi manfaat sosial ekonomi nyata bagi komunitas masyarakat yang mau mengelolanya. Melalui program Revive Citarum hasil kerja sama Bank HSBC, Yayasan KEHATI, dan Green Inititive Foundation, kini masyarakat di Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat menuai beragam manfaat.

Setelah dilengkapi dengan sarana pengomposan berupa tong komposter, sampah organik yang dihasilkan dari rumah tangga warga Desa Bojongsari diolah menjadi pupuk cair organik. Selain itu, dari sampah organik tersebut juga dikembangkan budi daya maggot BSF, bahan pakan ikan alternatif yang proses pembuatannya mudah dan murah, namun daya jualnya tinggi. Dalam sebulan, keuntungan ekonomi yang didapat dari budi daya maggot BSF itu berkisar antara Rp4 juta hingga Rp6 juta.

Ridho Malik, Head Of Department Strategic Services Waste4Change mengungkapkan, sampah sejatinya memiliki peluang besar menjadi komoditas ekonomi. Namun, di Indonesia hal itu belum bisa terwujud lantaran permasalahan sampah belum diselesaikan sebagaimana mestinya.

“Datanya, dari 100 persen sampah kita itu, hanya 7,5 persen yang kemudian di-recycling, sebagian besar 70 persen itu ke TPA, ada yang dibakar, ke sungai, tercecer di mana-mana. Faktanya kita belum menyelesaikan masalah sampah kita, dari skala kota bahkan Indonesia. Kebayang sekali dari 120 ribu ton sampah sehari, hanya 7,5 persennya saja yang mampu dimanfaatkan,” ujar Ridho.

Padahal jika permasalahan sampah bisa diselesaikan, akan ada banyak manfaat yang dirasakan masyarakat. Di antaranya mengurangi biaya pengerukan sampah, menimimalkan biaya polusi, serta mengurangi banjir. Selain itu, juga bisa meningkatkan daur ulang sampah hingga angka 80 persen.

“Jika sekarang dari 7,5 persen sampah udah mampu membuat sebagian orang itu kaya raya. Bayangkan kalau 80 persen, berapa banyak orang kaya baru, berapa banyak serapan tenaga kerja, dan lingkungan kita bersih, lingkungan kita bersih,” tandasnya.

(mdk/rka)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP