Sunan Bonang atau Syekh Maulana Makhdum Ibrahim dikenal berbeda dengan anggota Walisongo lainnya. Dia melakukan penyebaran agama Islam dengan cara unik yang berbeda dengan sunan lain. Sosoknya dikenal sebagai pendakwah yang cerdik dan fleksibel menyiarkan ajaran-ajaran Islam, sekaligus memiliki karamah hebat.
Sunan Bonang lahir tahun 1448 M di Tuban dari pasangan Sunan Ampel dan Dewi Candrawati. Dia memiliki delapan saudara, salah satunya Raden Qasim yang dikenal dengan gelar Sunan Drajat.
Makam Sunan Bonang di pusat Kabupaten Tuban, Jawa Timur tidak pernah sepi peziarah. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia dengan motif dan tujuan yang beragam.
Advertisement
Wirid Favorit Sunan Bonang
Semasa hidupnya, Sunan Bonang memiliki wirid favorit berupa surah Al-Fatihah 50 kali, Al-Ikhlas 50 kali, dan selawat 300 kali. Selain membaca bacaan seperti Surat Yasin dan Tahlil, para peziarah yang mendatangi makam Sunan Bonang juga dapat mengamalkan wirid tersebut.
Selain wirid favorit, Sunan Bonang juga senang terhadap ukir-ukiran indah pada bangunan. Hal ini tampak pada bale-bale (pendopo paseban, pendopo rante, dan pendopo tajuk) peninggalan Sunan Bonang yang semasa hidupnya digunakan untuk urusan pendidikan dan syiar agama. Bangunan pendopo itu berbentuk limas, umpak-umpak berwarna putih yang terbuat dari tulang ikan.
Pada bangunan paseban, terdapat ukiran indah motif sulur-sulur daun dan hiasan tumpal. Selain itu, ada pula beberapa peninggalan purbakala seperti tempayan, yoni, pipisan dan peti batu yang tersimpan di pendopo rante.
Advertisement
Tandingi Upacara Agama Era Majapahit
Agus Sunyoto, penulis buku Atlas Walisongo mengungkap salah satu peristiwa yang menunjukkan fleksibilitas dakwah Sunan Bonang. Dalam misi penyiaran agama Islam di Singkal Nganjuk, Sunan Bonang mengadakan upacara kenduri menandingi upacara agama Tantrayana dilakukan oleh petinggi-petinggi Majapahit. Saat itu, sekte Bhairawa Tantrayana sangat disegani.
Agama Tantrayana adalah agama yang memuja dewi bumi, dewi pertiwi, dan durga sang dewi sungai. Mereka beribadah dengan cara duduk melingkar di setra terbesar yang dimiliki Majapahit, yakni Setralaya yang sekarang dikenal dengan sebutan Troloyo.
Ritual melingkar itu disebut dengan upacara pancamakara yang kemudian lebih dikenal dengan istilah Molimo. Upacara ini memiliki lima makna yakni Mamsha artinya daging, Matsya artinya ikan, Madya artinya minuman keras, Maithuna berarti seksual, dan Mudra yang berarti semedi.
Pada pelaksanaannya, lelaki dan perempuan telanjang duduk melingkar, di tengah-tengahnya ada makanan yang terbuat dari daging dan ikan, serta dihidangkan pula minuman keras. Usai makan dan minum, mereka melakukan persetubuhan yang diklaim sebagai pemenuhan nafsu. Seusai bersetubuh dan dianggap telah lepas dari nafsu, mereka melakukan semedi.
Menyaksikan ritual tersebut, Sunan Bonang menandingi dengan membuat acara yang sama di daerah Singkal, Nganjuk, Jawa Timur. Di sana, beliau mengadakan upacara serupa di mana seluruh peserta laki-laki berdoa melingkar. Upacara tersebut dikenal dengan istilah kenduri atau selametan.
Upacara kenduri berkembang dari satu kampung ke kampung lain. Hingga kini, kenduri telah menjadi tradisi masyarakat di berbagai daerah di Pulau Jawa.
Advertisement
Karya-Karya Sunan Bonang
Sunan Bonang dianggap berhasil menciptakan asimilasi budaya Jawa dan Islam, tanpa meninggalkan ciri khas satu sama lain melainkan memadukan agar selaras dengan kehidupan masyarakat lokal. Keberhasilan dakwahnya dibantu dengan Sunan Kalijaga yang memberi warna lokal pada upacara keagamaan seperti Idulfitri, perayaan Maulid Nabi, dan peringatan Tahun Baru Islam. Warisan budaya yang diciptakan Sunan Bonang dan masih eksis hingga kini adalah Upacara Sekaten dan Grebeg Maulid.
Imam pertama Masjid Demak itu juga dikenal memiliki sumbangsih pada bidang-bidang lain. Pada dunia pewayangan, beberapa lakon carangan pewayangan telah digubah dengan kaidah Islam, seperti Petruk Dadi Ratu, Layang Kalimasada, Dewa Ruci, Pandu Pragola, Semar Mbarang Jantur, dan Mustakaweni.
Di dunia kesusastraan, Sunan Bonang dikenal sebagai penyair profilik sekaligus penulis risalah estetika sufi. Sosoknya juga merambah dunia musik dengan memasukkan instrumen rebab Arab dan kempul Campa atau bonang pada gamelan Jawa.
Dimas Agung dalam esainya yang berjudul Wirid Kesukaan Sunan Bonang dan Pengarang Tembang Tombo Ati menyebut musik gamelan gubahan Sunan Bonang menyajikan orkestra polifonik yang mediatif dan kontemplatif. Kidung ciptaannya yang melegenda adalah Tombo Ati.
Pada dunia arsitektur, Sunan Bonang berperan menyediakan satu dari empat soko guru Masjid Agung Demak pada 1478 masehi.
Sosoknya merupakan guru Raden Patah putra Raja Brawijaya V Majapahit, guru para wali salah satunya Sunan Kalijaga. Sunan Bonang meninggal tahun 1525 Masehi dan dimakamkan di Kabupaten Tuban.