Sebagai umat muslim, niat mengganti puasa wajib Ramadhan patut untuk Anda hafalkan. Puasa Ramadhan adalah ibadah yang wajib untuk dijalankan oleh seluruh umat muslim. Namun pada praktiknya, ada orang-orang tertentu yang tak mampu atau berhalangan menjalankannya pada waktu itu.
Contohnya adalah para wanita yang sedang menstruasi, ibu yang habis melahirkan, dan orang-orang yang sakit sehingga tak mampu berpuasa. Orang-orang dalam golongan ini nantinya dapat membayar hutang puasa Ramadhan mereka di lain waktu usai bulan Ramadhan.Puasa ini umumnya disebut dengan puasa qadha.
Baca juga: Niat Puasa Qadha Dengan Tata Caranya
Mengganti puasa Ramadhan sebaiknya dilakukan dengan segera agar tidak lupa. Cara menggantinya pun tak perlu dalam beberapa hari berturut-turut, melainkan dapat diatur sendiri asalkan sesuai dengan jumlah utang puasa. Niat mengganti puasa wajib Ramadhan pun berbeda bacaannya dengan niat puasa biasa.
Dilansir dari Dream dan Liputan 6, berikut informasi selengkapnya.
Advertisement
Niat Mengganti Puasa Wajib Ramadhan
Puasa qadha atau puasa yang dilakukan untuk mengganti utang puasa Ramadhan wajib dilaksanakan sebanyak hari puasa yang telah ditinggalkan saat Ramadhan.
Bagi Anda yang hendak melakukan qadha puasa Ramadhan, wajib memasang niat mengganti puasa wajib Radhan di malam hari menurut Mazhab Syafi’i.
Berikut adalah bacaan niat mengganti puasa wajib Ramadhan yang penting dihafal dan dilafalkan;
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadan esok hari karena Allah SWT.”
Advertisement
Ketentuan Mengganti Puasa Wajib Ramadhan
Ketentuan membayar utang puasa wajib Ramadhan dapat Anda temukan dan lihat dengan jelas dalam firman Allah SWT yang tercantum di Q.S. Al-Baqarah ayat 184 dengan bunyi:
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
Advertisement
Golongan Orang yang Boleh Tidak Puasa di Bulan Ramadhan
Terdapat empat golongan orang yang diperbolehkan untuk tidak menjalankan ibadah puasa wajib dalah bulan Ramadhan, beserta satu golongan lagi yang dilarang berpuasa. Meski diperbolehkan untuk tidak berpuasa, empat golongan ini tetap wajib mengganti puasanya di kemudian hari.
1. Orang yang Sakit
Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Artinya: "Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur."
2. Orang yang Sedang dalam Perjalanan Jauh
Nabi Muhammad SAW bersabda dalam hadis riwayat Muslim; "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar melihat orang yang berdesak-desakan. Lalu ada seseorang yang diberi naungan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, "Siapa ini?" Orang-orang pun mengatakan, "Ini adalah orang yang sedang berpuasa." Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Bukanlah suatu yang baik seseorang berpuasa ketika dia bersafar."
3. Orang yang Sudah Lanjut Usia
Orang tua yang sudah tidak mampu lagi menjalankan puasa diberi kelonggaran untuk tidak melakukannya. Sebagai gantinya, mereka diwajibkan untuk membayar fidyah berupa memberi makan fakir miskin setiap kali orang tersebut tidak berpuasa.
Allah SWT berfirman dalam Al-Baqarah ayat 184 yang artinya: "Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin." Adapun ukuran satu fidyah adalah setengah sho' kurma atau gandum atau beras, yaitu sebesar 1,5 kg.
4. Wanita yang Sedang Hamil dan Menyusui
Nabi bersabda dalam hadis riwayat Ahmad: "Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menghilangkan pada musafir separuh shalat. Allah pun menghilangkan puasa pada musafir, wanita hamil dan wanita menyusui." Apabila seorang ibu yang tengah mengandung dan menyusui tidak mampu berpuasa, maka Allah SWT meringankan baginya untuk tidak berpuasa dan menggantinya di kemudian hari.
Sementara itu, ada satu lagi golongan orang yang dalam hal ini bukan saja tidak dianjurkan tetapi malah dilarang untuk berpuasa. Mereka adalah wanita yang dalam keadaan haid dan nifas. Nabi bersabda dalam Hadis Riwayat Bukhari: "Bukankah ketika haid, wanita itu tidak salat dan juga tidak puasa. Inilah kekurangan agamanya." Wanita yang haid dan nifas dilarang berpuasa selama masa-masa tersebut. Namun, mereka tetap harus mengganti puasanya di kemudian hari.