Kampung di Magetan Ini Hanya Dihuni 7 Rumah, Warga Ungkap Fakta Mencengangkan

Sebuah kampung di wilayah terpencil Kabupaten Magetan, Jawa Timur hanya dihuni oleh tujuh rumah dan tidak bisa lebih. Ini alasannya.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Kampung di Magetan Ini Hanya Dihuni 7 Rumah, Warga Ungkap Fakta Mencengangkan
Kampung Gemplo di Magetan hanya dihuni tujuh rumah. ©2023 Merdeka.com/Dok. JTV Madiun

Sebuah kampung di ujung selatan Kabupaten Magetan, Jawa Timur punya fakta unik. Kampung Gemplo yang berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah itu hanya dihuni oleh tujuh rumah.

Warga di sana mengungkapkan bahwasanya kampung yang berada di kaki Gunung Ampyangan, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan itu tidak bisa dihuni oleh lebih dari tujuh rumah. Jika ada orang yang mendirikan rumah lagi, selalu ada masalah yang menyebabkan penghuni rumah pindah dari kampung tersebut.

Kampung Gemplo sendiri didirikan oleh Mbah Tromblek. Kini, para penghuni kampung terpencil di Kabupaten Magetan itu merupakan keturunannya. Suwaji (48), keturunan ketiga Mbah Tromblek menuturkan, jika di kampung tersebut ada lebih dari tujuh rumah, pasti ada yang membuat warganya tidak betah. Penghuni baru itu kemudian akan pergi dari kampung halamannya.

Hanya Ada 7 Rumah

"Awalnya tidak disadari peristiwa tersebut, kami kira hanya hal biasa karena kampung Gemplo letaknya terpencil. Jadi wajar saja bila setiap ada yang membangun rumah salah satu dari kami pergi. Jadi tetap dari dulu di sini hanya ada 7 rumah saja," ungkap Suwaji, dikutip dari akun Instagram @dolanmagetan.

Menurut kesaksian Suwaji, sudah tiga kali peristiwa tersebut terjadi. Selanjutnya, warga Kampung Gemplo meyakini bahwa kampung tersebut tidak mau ditambahi bangunan rumah.

"Tiap rumah dihuni 5 hingga 7 jiwa. Bila dijumlah total ada 30 jiwa dan ada sebanyak 21 KK. Untuk bangunan rumah tetap hanya 7, tidak bisa lebih," imbuhnya.

Tempat Persembuyian pada Zaman Penjajah

Suwaji juga sempat menceritakan kondisi Kampung Gemplo di masa lalu. Pada zaman penjajahan, Kampung Gemplo menjadi tempat persembunyian paling aman. Konon, setiap musuh masuk ke kampung tersebut hampir pasti kehilangan arah dan tidak bisa menemukan sosok yang mereka cari.

"Mungkin pagar gaib yang ditanam orang-orang dulu masih berlaku hingga sekarang. Kami sebagai penerus ikuti saja dan tidak berniat menambah jumlah bangunan. Kami di sini juga hidup rukun dari usaha berkebun," jelasnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa warga Kampung Gemplo terbuka menyambut warga luar yang datang berkunjung ke sana. Kampung Gemplo memiliki pemandangan alam yang indah, dari sana warga bisa melihat pemandangan alam gugusan Gunung Lawu, seperti Ampyangan, Kukusan hingga Gunung Lemah Belah.

Rekomendasi