Mengetahui bakteri penyebab diare adalah hal yang penting agar Anda dapat mengantisipasi penularannya. Beberapa jenis bakteri memang dapat masuk ke tubuh Anda melalui makanan atau air yang terkontaminasi dan menyebabkan diare.
Gejala utama diare adalah buang air besar yang encer tiga kali atau lebih dalam sehari. Kondisi ini tentu akan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun biasanya, diare hanya bersifat jangka pendek dan dapat sembuh dalam 3 atau 4 hari tanpa pengobatan.
Selain bakteri, beberapa penyebab diare adalah infeksi dan kondisi ini tidak menular. Namun kali ini, merdeka.com akan secara khusus memberikan ulasan lengkap mengenai apa saja bakteri penyebab diare yang patut untuk Anda ketahui.
Advertisement
Bakteri Penyebab Diare
Diare umumnya disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit. Diare jangka pendek sering disebabkan oleh infeksi virus, seperti gastroenteritis virus, dan biasanya sembuh tanpa memerlukan perawatan medis selain perawatan sederhana di rumah.
Diare akibat infeksi virus biasanya tidak merespon pengobatan antibiotik. Namun, antibiotik kadang-kadang dapat diresepkan untuk menargetkan infeksi spesifik yang disebabkan oleh bakteri (seperti shigella) atau untuk orang yang memiliki sistem kekebalan yang lemah dan tidak dapat melawan infeksi secara memadai.
Tidak semua diare bersifat jangka pendek. Terkadang, diare bisa menjadi gejala dari masalah atau kondisi kesehatan kronis dan berkelanjutan. Jika membahas tentang bakteri penyebab diare, umumnya akan muncul beberapa jenis bakteri seperti salmonella, E. coli, dan campylobacter, melansir laman healthdirect.gov.au.
Infeksi diare akibat bakteri ini sebagian besar didapat karena keracunan makanan. Selain diare, infeksi karena bakteri juga dapat menyebabkan demam dan darah dalam tinja (kotoran). Bakteri penyebab diare juga dapat menyebabkan nyeri kram di rektum. Jika Anda mengalami diare dengan demam atau darah di tinja, Anda harus segera mencari pertolongan medis.
Sementara itu, diare pelancong umumnya juga disebabkan oleh infeksi bakteri. Beberapa jenis bakteri menyebabkan keracunan makanan karena toksin (racun) yang dihasilkannya. Jenis bakteri penyebab diare ini termasuk staphylococcus aureus dan bacillus cereus. Anda bisa sakit perut dan diare jika makan makanan yang terkontaminasi racun bakteri ini.
Nasi yang dipanaskan kembali juga dapat menyebabkan keracunan makanan jika ada toksin bacillus cereus. Muntah, mual, dan sakit perut juga dapat terjadi dalam beberapa jam saat Anda mengalami keracunan bakteri penyebab diare.
Advertisement
Penyebab Diare Lainnya
Selain bakteri, diare juga disebabkan oleh virus dan parasit. Infeksi virus yang menyebabkan gastroenteritis, seperti rotavirus atau norovirus, umumnya menyebabkan muntah dan mual, bersama dengan diare. Infeksi ini sering ditularkan dari orang ke orang dan muncul tiba-tiba, tetapi biasanya hilang dalam beberapa hari.
Orang-orang yang mengalami imunosupresi atau yang memiliki sistem kekebalan lemah seperti mereka yang hidup dengan kanker, HIV/AIDS atau yang telah menjalani transplantasi organ, lebih mungkin untuk mengembangkan diare berkelanjutan sebagai akibat dari gastroenteritis atau diare menular lainnya.
Sementara itu, parasit juga adalah penyebab diare. Parasit yang ditularkan melalui air, seperti parasit yang menyebabkan kriptosporidiosis dan giardia, ditemukan di sungai dan danau. Parasit ini juga dapat mencemari kolam renang. Orang-orang biasanya terinfeksi parasit karena menelan air minum yang terkontaminasi. Misalnya, air tangki yang tidak disaring secara memadai atau dari berenang di danau, bendungan, dan sungai yang terkontaminasi.
Advertisement
Makanan Penyebab Diare
Melansir healthline.com, beberapa jenis makanan juga bisa menjadi penyebab diare. Sensitivitas atau alergi terhadap produk seperti kedelai, telur, atau makanan laut dapat menyebabkan diare. Makanan penyebab diare lainnya adalah:
Laktosa: Orang yang tidak toleran laktosa mungkin mengalami diare setelah mengonsumsi susu dan produk susu lainnya.
Fruktosa dan sirup jagung fruktosa tinggi: Jika Anda tidak toleran terhadap fruktosa, Anda mungkin mengalami diare setelah mengonsumsi makanan atau minuman ringan yang mengandung buah-buahan atau madu.
Pemanis buatan: Gula alkohol yang biasanya ditambahkan ke produk bebas gula dapat memicu diare. Ini termasuk sorbitol, manitol, dan xylitol.
Gluten: Jika Anda memiliki penyakit celiac atau gangguan terkait gluten lainnya, tubuh akan sensitif terhadap protein gluten. Gluten ditemukan dalam makanan yang mengandung biji-bijian tertentu, seperti gandum atau gandum hitam.
Alkhol dan kafein: Terlalu banyak alkohol atau minuman berkafein seperti kopi juga dapat menyebabkan diare.