Gunung Kelud di Jawa Timur merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Meskipun dijuluki sebagai gunung berapi aktif tercebol dengan tinggi 1.731 mdpl, saat meletus kedahsyatannya sangat menggetarkan.
Sejak abad ke-15, Kelud telah merenggut lebih dari 15 ribu korban jiwa. Saat meletus tahun 1586 saja, korbannya mencapai 10 ribu jiwa. Selanjutnya, pada abad ke-20, Gunung Kelud tercatat meletus lima kali. Masing-masing terjadi pada tahun 1901, 1919, 1951, 1966,dan 1990.
Setelah 17 tahun tidur tenang, aktivitas vulkanologi Gunung Kelud kembali menggeliat. Sekitar medio November 2007, pihak VMBG (Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi) sempat menerapkan status awas pada singasana Lembusuro dan Mahesasuro.
Advertisement
Dalam Kitab Negarakertagama disebutkan bahwa Raja Hayam Wuruk mengunjungi Palah untuk melakukan pemujaan terhadap Hyang Acalapati atau Raja Gunung Girindra. Palah merujuk pada kompleks candi yang terletak di sisi lereng barat daya Gunung Kelud atau sekitar 12 km dari Kota Blitar. Orang menyebut Palah ini dengan nama Candi Penataran karena letaknya di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.
Kompleks Candi Penataran dipugar antara tahun 1917-1918, di mana sebelumnya terbenam oleh material vulkanik erupsi Gunung Kelud. Gugusan candi tersebut ditujukan untuk memuja Dewa Siwa sebagai Dewa Gunung.
Hayam Wuruk sebagai inkarnasi dewa gunung mengunjungi Candi Penataran untuk berziarah sembari menguatkan legimitasinya. Ia melakukan sembah bakti ke hadapan Hyang Acalapati untuk memohon keselamatan semua makhluk dari bencana letusan Gunung Kelud.
Advertisement
Tidak semua warga di kaki Gunung Kelud mengetahui Hayam Wuruk memohonkan keselamatan bagi mereka. Sementara itu, warga Kecamatan Nglegok, salah satu daerah paling terdampak saat Gunung Kelud meletus, adalah kemunculan sosok misterius yang akrab dijuluki Sayuti.
Dikutip dari Majalah Liberty edisi 11-20 April 2021, kemunculan sosok Sayuti diyakini sebagai pertanda Gunung Kelud akan meletus. Sayuti digambarkan sebagai pria etletis yang menghilang sejak tahun 1945.
Setiap kali Gunung Kelud akan meletus, laki-laki asal Kelurahan Kedungwaru, Kecamatan Nglegok itu akan pulang ke rumah. Beberapa hari setelah warga melihat Sayuti berada di rumahnya, Gurung Kelud hampir bisa dipastikan akan meletus.
Advertisement
Setiap kali muncul, penampilan Sayuti hampir selalu mengingatkan warga pada seorang tokoh legendaris PETA (Pembela Tanah Air), Shodanco Soeprijadi. Wajah, gerak-gerik serta pakaian yang dikenakan Sayuti mirip sekali dengan Shodanco Soeprijadi.
Tidak ada yang bisa memastikan apakah Sayuti merupakan Shodancho Soeprijadi, pahlawan PETA. Namun, warga Kecamatan Nglegok sangat antusias jika diajak membicarakan tokoh misterius ini.
Menurut warga setempat, beberapa hari sebelum letusan Gunung Kelud tahun 1951, 1966 dan 1990, Sayuti pulang ke rumah. Tetapi, setiap kali pulang ia tidak pernah lama tinggal di rumah. Setelah menghilang dari kepulangannya, selang satu atau dua hari kemudian Gunung Kelud meletus.