Video seorang pengusaha yang membuang telur di sawah karena harga anjlok sempat viral di media sosial warganet Magetan. Pengusaha dan peternak asal Desa Ngariboyo, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur diketahui bernama Suparni atau Pitut.
Ia mengaku kesal dan emosi lantaran harga pakan ternak terus naik, sementara harga telur terus turun. Cerita mengenai tindakan Pitut ini dibagikan oleh akun facebook bernama Putra Bayu di grup facebookINFO WONG NGANJUK pada Senin, 25 Desember 2021.
Advertisement
Pengakuan Pitut
Terkait beredarnya video tersebut Pitut mengaku hanya membuang telur sisa. Sementara sebagian besar telur dari peternakannya disumbangkan untuk meringankan masyarakat terdampak pandemi.
"Iya, kemarin saya emosi saat membuang telur. Hal itu saya lakukan sebagai bentuk protes kami para peternak terhadap dampak kenaikan pakan pabrikan. Sedang harga telur turun di angka Rp17.000 per kilogram," ujar Pitut.
Ia mengaku, kenaikan harga pakan ternak ayam memberatkan para peternak. “Coba bayangkan kenaikannya dalam dua bulan ini mencapai Rp1.000 per kilogramnya,” imbuhnya.
Advertisement
Komentar Warganet
Unggahan mengenai tindakan Pitut membuang telur di sawah yang dibagikan pemilik akun facebook bernama Putra Bayu itu pun menuai banyak komentar dari warganet.
“Nek bati ra bengook2, mending iklas terus bersyukur namanya juga kehidupan ada untung ruginya. La kon bati trusss mosok la jare roda kehidupan berputar. Ko nek karo sg Kuoso dicabut rejekimu tuku Endog 1 ae ra kuat piye? (Kalau untung tidak bersuara, mending ikhlas terus bersyukur namanya juga kehidupan ada untung ruginya. Kalau untung terus masak katanya roda kehidupan berputar. Nanti kalau dicabut rezekinya oleh Yang Maha Kuasa beli telur satu aja tidak sanggup gimana?” komentar pemilik akun facebook bernama Tamizhora Morrone.
“Jangan dibuang harusnya disumbangkan saja semuanya ke fakir miskin atau yayasan yatim piatu insyaalloh menambah keberkahan hidup anda daripada sekedar nyari sensasi,” komentar Hanzel Grueffel.
Senada, pemilik akun facebook bernama DonyRaekarnase Wayn juga menyebut sebaiknya telur tidak dibuang sehingga sia-sia, lebih baik disumbangkan ke panti supaya menjadi bekal akhirat.
“Cari sensasi pengen tenar,” komentar Iin Mardi
“Palingan yg dibuang yg sudah busuk?” komentar Burman Nababan
“Aku deewe lak telur larang to wegah tuku de. Jenenge usaha ki yo enek pasang surut e. Kon larang trus e yo enak dirimu noh (Aku sendiri kalau telur mahal juga malas beli. Namanya usaha ya ada pasang surutnya. Kalau mahal terus ya enak dirimu),” komentar Dhewi Suwito.
“Kok yo diurus..Wes bene...Wong seng dibuak ora ngrugekne awak dewe.. (Kok ya diurus..sudah biarkan…Yang dibuang juga tidak merugikan diri kita)” komentar pemilik akun facebook bernama Aprilia Idawaty Singotrunan.