Pandemi Covid-19 menimbulkan dampak di berbagai sektor kehidupan, salah satu yang paling kentara ialah sektor pariwisata. Sebagaimana yang dialami pariwisata global, sektor pariwisata Indonesia juga terdampak. Bahkan, sejak kasus positif Covid-19 pertama di Indonesia pada Februari 2020 lalu hingga kini, kondisi pariwisata dalam negeri belum sepenuhnya pulih.
Oleh karena itu, pemerintah khususnya melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus bekerja keras membantu pemulihan sektor pariwisata di berbagai daerah. Belum lama ini Kemenparekraf meluncurkan program We Love Bali sebagai bentuk dukungan terhadap pariwisata Bali di era tatanan hidup baru.
Tidak hanya itu, Kemenparekraf juga mendukung pemulihan wisata di daerah-daerah lain. Pasalnya, pariwisata menjadi sektor yang paling pertama terdampak pandemi Covid-19. Sebagaimana pernyataan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama, dilansir dari kemenparekraf.go.id (14/10/2020).
Advertisement
Dalam upaya mendukung sektor pariwisata kembali menggeliat setelah terdampak pandemi, Kemenparekraf mengimbau seluruh objek wisata menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability). Imbauan ini bertujuan supaya para wisatawan tetap bisa berwisata dengan aman dan terhindar dari potensi penyebaran virus corona jenis baru penyebab Covid-19.
Secara khusus, Kemenparekraf membuat buku panduan CHSE mengenai kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan di daya tarik wisata. Selain itu, juga masing-masing panduan mengenai homestay, hotel, restoran atau rumah makan, wisata golf, wisata selam, wisata arum jeram, dan panduan MICE. Panduan CHSE di masing-masing subsektor pariwisata ini bisa diunduh gratis melalui laman resmi Kemenparekraf berikut ini, chse.kemenparekraf.go.id/handbook.
Advertisement
"Sebagai upaya bersama untuk memulihkan pariwisata di Bali, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dengan Pemerintah Provinsi Bali dan para stakeholder menggelar sebuah program yang kita sebut We Love Bali," kata Wishnutama di Bali Safari, Rabu (14/10)
Program 'We Love Bali' sendiri melibatkan masyarakat di Bali untuk meninjau destinasi dan melihat langsung penerapan protokol kesehatan yang dijalankan pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif. Terdapat 12 program perjalanan (famtrip) yang berlangsung selama tiga hari dua malam ke berbagai destinasi di Bali. Secara keseluruhan program ini melibatkan 409 pelaku industri pariwisata dan ekonomi kreatif, 8.421 tenaga kerja, serta 4.800 peserta dari kalangan masyarakat yang berasal dari Provinsi Bali.
'We Love Bali' diharapkan dapat mendukung industri pariwisata Bali mulai bergerak kembali. Selain itu, melalui program ini Kemenparekraf juga ingin memberikan edukasi dalam mengimplementasikan protokol kesehatan sebagai kebiasaan baru bagi pelaku usaha pariwisata, masyarakat pengelola destinasi wisata, dan masyarakat umum yang mengikuti kegiatan tersebut.
Advertisement
Sebelumnya, Kabupaten Banyuwangi juga mendapatkan perhatian sejenis dari pemerintah pusat. Bahkan tidak hanya dari Kemenparekraf, tetapi juga Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi. Beberapa waktu lalu, Menparekraf Wishnutama bersama Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meninjau langsung bagaimana kondisi pariwisata di Banyuwangi.
Banyuwangi mendapat perhatian di awal lantaran disebut sebagai daerah pertama yang sektor pariwisatanya paling siap pulih setelah sebelumnya terdampak pandemi. Program pemulihan sektor pariwisata di salah satu wilayah paling ujung di pulau Jawa itu diberi nama Rebound Banyuwangi. Dikutip dari banyuwangikab.go.id (15/08/2020), Kemenparekraf memberikan bantuan CHSE untuk mendukung Rebound Banyuwangi.
Bantuan itu berupa, toilet portable, tempat cuci tangan portable, tempat sampah organik/non organik, spray elektrik disinfektan, safety googles, tandu lipat, dan beberapa lainnya.
Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Hari Santosa Sungkari menyatakan, di era tatanan hidup baru seperti ini, pariwisata tidak lagi hanya menjual keindahan dan pelayanan saja, tetapi juga kesehatan dan keamanan.